Headline.co.id, Jakarta ~ Palo Alto Networks mengonfirmasi adanya serangan siber yang memanfaatkan dua celah keamanan kritis PHP2Shell untuk menyasar antarmuka manajemen perangkat yang terhubung langsung ke internet. Peringatan tersebut disampaikan melalui pembaruan advisori keamanan perusahaan pada 29 Oktober 2026, setelah aktivitas eksploitasi terdeteksi pada sistem yang dapat diakses publik. Kedua kerentanan memungkinkan penyerang menjalankan kode berbahaya dari jarak jauh tanpa harus melalui proses autentikasi. Kondisi ini meningkatkan risiko keamanan bagi perangkat yang antarmuka manajemennya terbuka terhadap akses dari luar jaringan.
Dilansir dari The Hacker News, Jumat (30/10/2026), Palo Alto Networks menyatakan bahwa aktivitas eksploitasi terhadap kerentanan tersebut bukan lagi sebatas potensi ancaman. Perusahaan telah mengidentifikasi adanya upaya serangan yang secara khusus menargetkan antarmuka manajemen perangkat melalui jaringan internet.
“Eksploitasi aktif telah teramati menargetkan antarmuka manajemen Palo Alto Networks yang terbuka ke internet,” demikian pernyataan perusahaan dalam advisori keamanan resminya, yang diterjemahkan dari bahasa Inggris.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Temuan tersebut menjadi perhatian karena antarmuka manajemen merupakan bagian dari sistem yang digunakan untuk melakukan pengaturan perangkat. Ketika akses terhadap antarmuka tersebut tersedia melalui internet, celah keamanan yang belum ditangani berpotensi dimanfaatkan pihak tidak berwenang.
Dua Celah PHP2Shell Memiliki Tingkat Keparahan Kritis
Palo Alto Networks mengidentifikasi dua kerentanan yang menjadi perhatian dalam serangan ini, yakni CVE-2026-109618 dan CVE-2026-109619.
Kedua celah tersebut memperoleh skor 9,2 berdasarkan Common Vulnerability Scoring System (CVSS), sehingga masuk dalam kategori kerentanan kritis.
Kerentanan PHP2Shell memungkinkan terjadinya remote code execution (RCE), yaitu kondisi ketika penyerang dapat menjalankan kode pada sistem yang menjadi sasaran dari lokasi berbeda.
Dalam kasus ini, eksploitasi dapat dilakukan tanpa memerlukan autentikasi terlebih dahulu. Artinya, penyerang berpotensi memanfaatkan celah keamanan tanpa harus memiliki kredensial atau akses masuk yang sah ke sistem terdampak.
Risiko tersebut menjadi semakin serius apabila perangkat yang menggunakan komponen PHP rentan memiliki antarmuka manajemen yang dapat dijangkau secara langsung melalui internet.
Temuan ini sekaligus menunjukkan bahwa perlindungan antarmuka manajemen perangkat menjadi bagian penting dalam menghadapi ancaman eksploitasi kerentanan perangkat lunak.
Perbaikan PHP Telah Dirilis Sejak 21 Oktober 2026
Sebelum adanya konfirmasi mengenai eksploitasi aktif tersebut, PHP Foundation telah menerbitkan pembaruan keamanan untuk mengatasi kedua kerentanan pada 21 Oktober 2026.
Perbaikan tersedia melalui sejumlah versi PHP, meliputi PHP 8.5.12, PHP 8.4.27, PHP 8.3.36, dan PHP 8.2.35.
Pembaruan tersebut ditujukan untuk menutup celah keamanan yang memungkinkan eksekusi kode dari jarak jauh pada versi PHP yang terdampak.
Meski demikian, ketersediaan pembaruan untuk perangkat yang menjalankan sistem operasi PAN-OS perlu diperiksa secara terpisah. Hal ini karena perbaikan pada PHP tidak secara otomatis memastikan seluruh perangkat yang menggunakan komponen tersebut telah memperoleh pembaruan keamanan yang sesuai.
Oleh sebab itu, status versi perangkat lunak yang digunakan menjadi hal penting dalam menilai apakah sistem masih berpotensi terdampak eksploitasi PHP2Shell.
PHP2Shell Juga Dikaitkan dengan Celah Keamanan Kernel Linux
Peringatan Palo Alto Networks muncul beberapa hari setelah perusahaan keamanan siber Dream mengungkap dugaan pemanfaatan PHP2Shell dalam aktivitas serangan yang melibatkan celah keamanan lain.
Dalam laporannya, Dream menyebut adanya dugaan pelaku ancaman yang memiliki keterkaitan dengan China memanfaatkan dua kerentanan PHP2Shell bersama celah eskalasi hak akses pada kernel Linux.
Kerentanan pada kernel Linux tersebut dikenal dengan nama Fragnesia dan tercatat dengan kode CVE-2026-46300.
Celah eskalasi hak akses memungkinkan peningkatan tingkat kewenangan pada sistem yang terdampak apabila berhasil dieksploitasi. Sementara itu, PHP2Shell membuka kemungkinan eksekusi kode dari jarak jauh melalui kerentanan yang ditemukan pada PHP.
Penggunaan kedua jenis kerentanan dalam satu rangkaian serangan menjadi perhatian karena dapat memperbesar risiko terhadap keamanan sistem yang menjadi sasaran.
Meski Dream melaporkan dugaan keterkaitan pelaku ancaman dengan China, informasi tersebut masih berupa dugaan berdasarkan temuan perusahaan keamanan siber itu.
Adapun Palo Alto Networks telah mengonfirmasi adanya eksploitasi aktif terhadap antarmuka manajemen perangkat yang terhubung ke internet.
Dengan adanya konfirmasi tersebut, ancaman PHP2Shell tidak lagi hanya berkaitan dengan kemungkinan penyalahgunaan celah keamanan, tetapi juga aktivitas serangan yang telah teramati. Kondisi ini menegaskan pentingnya pemeriksaan kerentanan, pembaruan perangkat lunak, serta pengamanan akses antarmuka manajemen untuk mengurangi risiko serangan siber.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.




















