Headline.co.id, Jakarta ~ Wakil Menteri Agama Romo Syafii menyatakan Kementerian Agama akan membentuk tim khusus untuk menelusuri berbagai persoalan mahasiswa Indonesia di Mesir. Rencana itu disampaikan dalam audiensi bersama Dewan Pengurus Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia Mesir (PPMI), Rabu (28/10/26). Penelusuran dilakukan setelah PPMI memaparkan masalah akademik, sosial, psikologis, hingga hukum yang dihadapi mahasiswa selama menempuh pendidikan di Mesir.
Wamenag menilai penanganan persoalan mahasiswa Indonesia di Mesir perlu dilakukan secara terpadu dan berbasis informasi yang lebih mendalam. Menurut dia, tingginya minat generasi muda Indonesia untuk belajar di Mesir harus diikuti tata kelola serta pendampingan yang memadai.
Ia menyampaikan keprihatinan setelah mendengarkan paparan mengenai berbagai tantangan yang dihadapi mahasiswa. Persoalan tersebut, kata dia, tidak hanya berkaitan dengan kegiatan akademik, tetapi juga menyentuh aspek kehidupan sosial, kondisi psikologis, dan hukum.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Tidak hanya pada persoalan akademik, tapi juga pada persoalan sosial, pada persoalan psikologi, bahkan persoalan-persoalan hukum. Tentu ini menimbulkan keprihatinan yang mendalam,” ujarnya.
Kemenag Telusuri Persoalan Mahasiswa Indonesia di Mesir
Wamenag mengatakan audiensi dengan PPMI menjadi langkah awal bagi Kementerian Agama untuk memetakan persoalan secara lebih menyeluruh. Pendalaman diperlukan agar penyelesaian tidak hanya dilakukan berdasarkan kasus tertentu, tetapi juga menghasilkan alternatif penanganan yang sesuai dengan kondisi di lapangan.
“Kunjungan ini (akan) melahirkan insya Allah tim khusus dari Kementerian Agama untuk menelusuri lebih dalam, lebih teliti berbagai persoalan yang kalian hadapi dan mungkin jalan keluar yang akan diskemakan,” tuturnya.
Ia menjelaskan, penanganan dapat mencakup persoalan hukum, pendidikan, sosial, dan aspek lain yang berkaitan dengan kehidupan mahasiswa Indonesia di Mesir. Karena itu, informasi dari berbagai pihak perlu didalami dan dikoordinasikan sebelum Kementerian Agama menentukan langkah lanjutan.
“Dan ini bisa menyangkut persoalan hukum, bisa menyangkut persoalan pendidikan, persoalan sosial, dan lain sebagainya,” katanya.
Tata Kelola Keberangkatan Jadi Sorotan
Dalam audiensi tersebut, PPMI juga menyampaikan persoalan terkait tata kelola keberangkatan mahasiswa Indonesia ke Mesir. Pembahasan mencakup mekanisme keberangkatan, pengelolaan biaya, serta tanggung jawab mediator atau pihak yang membantu proses keberangkatan.
Informasi yang disampaikan PPMI itu masih perlu ditelusuri dan diverifikasi lebih lanjut. Langkah tersebut diperlukan agar pembenahan tata kelola didasarkan pada data yang akurat dan tidak menimbulkan kesimpulan prematur terhadap pihak tertentu.
Menanggapi persoalan itu, Wamenag mengingatkan agar proses pengiriman mahasiswa tidak dimanfaatkan untuk kepentingan yang merugikan calon mahasiswa maupun keluarganya. Ia menegaskan, niat mahasiswa untuk menuntut ilmu harus dihormati dan dilindungi.
“Mediator anak-anak Indonesia yang dengan niat sucinya dilepas dengan doa orang tuanya untuk menuntut ilmu, jangan jadikan mereka komoditas. Berhentilah menjadikan cita-cita anak Indonesia untuk belajar di Mesir sebagai komoditas,” tegasnya.
Mediator Akan Diteliti Lebih Dalam
Wamenag menyatakan pihak-pihak yang terlibat dalam proses keberangkatan mahasiswa akan menjadi bagian dari penelusuran Kementerian Agama. Jika ditemukan indikasi pelanggaran atau praktik ilegal yang menyebabkan kerugian bagi mahasiswa, persoalan tersebut dapat ditindaklanjuti sesuai ketentuan yang berlaku.
“Karena setelah pertemuan hari ini, para mediator ini akan kami teliti lebih dalam,” ujarnya.
Menurut Wamenag, penelusuran itu penting untuk memastikan proses keberangkatan mahasiswa berlangsung secara bertanggung jawab. Langkah tersebut juga diharapkan dapat memperkuat perlindungan bagi mahasiswa selama menempuh pendidikan di luar negeri.
Di akhir pertemuan, Wamenag berpesan agar mahasiswa Indonesia di Mesir tetap berpegang pada tujuan awal keberangkatan, yakni menuntut ilmu serta membanggakan keluarga dan bangsa. Ia meminta mahasiswa memanfaatkan kesempatan belajar dengan baik dan menjaga diri dari persoalan yang dapat menghambat pendidikan.
“Pesan saya, kalian yang sudah sampai di Mesir, tetaplah pada niat awal bahwa ke sana hanya untuk belajar, bukan untuk yang lain,” pesannya.
Audiensi itu dihadiri Presiden PPMI Wildan Akbar Fathurrahman dan Sekretaris Jenderal Muhammad Zulpikar Nasution. Wamenag didampingi Sesditjen Pendidikan Islam Arskal Salim serta staf khusus Wamenag.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.




















