Headline.co.id, Lumajang ~ Sanggar Tari Diamond Arts Performance berkolaborasi dengan Ksatria Pinandhita SMA Negeri 2 Lumajang mengembangkan Tari Kopyah Ajaga di Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur, pada Selasa (27/102026). Pertunjukan itu memadukan gerak tradisional, koreografi modern, dan nuansa musik rock untuk memperluas jangkauan penonton. Meski dikreasikan dengan pendekatan baru, Tari Kopyah Ajaga tetap menjadikan karakter Tari Kopyah khas Lumajang sebagai pijakan utama. Pengembangan tersebut dilakukan untuk menjaga identitas kesenian daerah sekaligus menyesuaikannya dengan perkembangan zaman.
Pegiat seni Tari Kopyah Lumajang, Rian Ariandi, mengatakan perpaduan unsur tradisional dan modern tidak dimaksudkan untuk menghilangkan ciri asli Tari Kopyah. Menurut dia, gerakan khas Lumajangan tetap menjadi dasar dalam penyusunan koreografi Tari Kopyah Ajaga.
“Jadi, pijakannya tetap pada gerak-gerak khas Lumajangan, gerak-gerak dari Tari Kopyah itu sendiri, namun kita kreasikan lagi tanpa meninggalkan jati dirinya,” jelas Rian.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Tari Kopyah Ajaga Pertahankan Gerak Khas Lumajang
Tari Kopyah berakar pada kesenian Jaran Kencak, salah satu tradisi Lumajang yang menampilkan atraksi kuda berhias. Dalam pertunjukan Jaran Kencak, pengencak atau pawang kuda menggoyangkan kopiah mengikuti irama musik.
Gerakan menggoyangkan kopiah tersebut kemudian menjadi ciri khas yang dikembangkan dalam penyajian Tari Kopyah. Pada Tari Kopyah Ajaga, unsur gerak itu tetap dipertahankan, sementara penyajiannya dikembangkan melalui koreografi modern dan musik bernuansa rock.
Pengembangan ini memberikan warna berbeda bagi pertunjukan tanpa memutus hubungan dengan sumber tradisinya. Dengan demikian, Tari Kopyah Ajaga tetap membawa karakter kesenian Lumajang, tetapi hadir dalam bentuk yang lebih luas dan dapat disajikan di panggung besar.
Rian mengatakan perubahan ruang pertunjukan menjadi bagian penting dalam perjalanan kesenian tersebut. Sebelumnya, Tari Kopyah lebih lekat dengan pertunjukan jalanan dan hajatan masyarakat.
“Nah, artinya kesenian yang dulunya hidup di jalanan sekarang sudah menemukan ruang baru, yakni panggung besar,” ujarnya.
Musik Rock Jadi Warna Baru Pertunjukan
Dalam Tari Kopyah Ajaga, musik tradisional dipadukan dengan nuansa rock. Perpaduan itu menghadirkan warna baru, sedangkan pengembangan koreografi tetap mengacu pada gerak khas Tari Kopyah agar karakter aslinya tidak hilang.
Bagi Rian, kreativitas diperlukan agar kesenian tradisional dapat terus bertahan di tengah perubahan selera penonton. Ia menilai kesenian tidak harus dipertahankan secara kaku dalam bentuk klasik, selama identitas dan karakter utamanya tetap dijaga.
“Kesenian itu bertransformasi sesuai perkembangan zaman. Saya tidak saklek dengan klasiknya, tapi karakter dan identitas aslinya tidak ditinggalkan,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut menjadi dasar pengembangan Tari Kopyah Ajaga. Kesenian tradisional tetap digunakan sebagai fondasi, sedangkan unsur modern diterapkan pada bentuk penyajian, koreografi, dan musik.
Kolaborasi Libatkan Generasi Muda
Kolaborasi Sanggar Tari Diamond Arts Performance dengan Ksatria Pinandhita SMA Negeri 2 Lumajang juga membuka ruang bagi generasi muda untuk mempelajari kesenian daerah. Mereka terlibat langsung dalam proses penciptaan dan pengembangan pertunjukan Tari Kopyah Ajaga.
Keterlibatan tersebut membuat pelestarian Tari Kopyah tidak hanya berlangsung melalui pemeliharaan gerak tradisional, tetapi juga melalui proses kreatif. Generasi muda ikut mengenal kesenian yang berakar dari tradisi Jaran Kencak sekaligus mengembangkan bentuk penyajian baru.
Melalui Tari Kopyah Ajaga, gerak khas Tari Kopyah, koreografi modern, dan musik rock dipertemukan dalam satu pertunjukan. Kolaborasi itu memperlihatkan upaya memperluas ruang tampil kesenian Lumajang tanpa meninggalkan jati diri yang menjadi sumber penciptaannya.
(MC Diskominfo Kab. Lumajang/Ard/An-m)
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.


















