Headline.co.id, Sleman ~ Sisa Talang Air Senoboyo setinggi sekitar lima meter masih berdiri di tengah persawahan Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman. Infrastruktur pengairan era prakemerdekaan ini dahulu mengalirkan air dari Sungai Krasak untuk menopang perkebunan tebu dan pertanian di wilayah Sleman barat. Talang tersebut beroperasi sebelum pembangunan Selokan Van der Wijck dan Selokan Mataram. Sistem pengairan itu berhenti berfungsi secara permanen setelah fondasi penyangganya terkikis arus Sungai Jlegong dan pipa besi penghubungnya runtuh pada dekade 1970-an.
Bangunan beton yang tersisa menjadi penanda sejarah teknologi tata kelola air di lereng Gunung Merapi. Pada masa lalu, Talang Air Senoboyo berperan dalam mengalirkan air dari kawasan pegunungan menuju lahan perkebunan dan pertanian yang berada di wilayah Sleman barat serta sebagian Kabupaten Sleman.
Talang Air Senoboyo Berhulu di Sungai Krasak
Tokoh masyarakat setempat, Sudiharjono (88), menyebut saluran tersebut berhulu dari aliran Sungai Krasak. Air dari sungai itu dialirkan melalui jalur darat yang melintasi sejumlah padukuhan sebelum mencapai konstruksi Talang Senoboyo.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Jalur tersebut melewati Padukuhan Jetis, Celep, Pokoh, Mlinting, Karang, Kemusuh, dan Bulan. Sebagian jejak selokan pembawa air itu masih dapat ditemukan secara fisik di lapangan.
Setelah ditampung di Talang Senoboyo, air kemudian dialirkan menuju kawasan perkebunan tebu di Padukuhan Susukan, Somokaton, dan Bedilan. Aliran yang sama juga digunakan untuk mengairi lahan pertanian di Kalurahan Margokaton, Kapanewon Seyegan.
Keberadaan saluran tersebut memperlihatkan fungsi penting Talang Air Senoboyo bagi kegiatan agraris pada masanya. Infrastruktur itu mendukung kebutuhan air perkebunan tebu berskala besar sekaligus membantu menjaga ketersediaan air bagi lahan pertanian.
Beroperasi Sebelum Selokan Van der Wijck
Talang Air Senoboyo disebut telah beroperasi jauh sebelum sejumlah proyek irigasi besar dibangun di Daerah Istimewa Yogyakarta. Selokan Van der Wijck dibangun pada rentang 1909 hingga 1931, sedangkan Selokan Mataram dibangun pada masa pendudukan Jepang pada 1944.
Dengan demikian, Talang Senoboyo menjadi salah satu jejak infrastruktur pengairan yang lebih awal di wilayah tersebut. Sisa bangunan beton yang masih terlihat kini memperlihatkan bagian dari sistem tata air yang pernah digunakan untuk mendukung pertanian dan perkebunan.
Rancangan talang dibuat dengan ukuran yang menyesuaikan kebutuhan aliran air dan kondisi medan. Di bagian atas struktur penyangga beton, terdapat saluran air terbuka dengan lebar 50 sentimeter dan kedalaman 90 sentimeter.
Saluran itu tidak hanya mengandalkan jalur yang berada di permukaan tanah. Ketika harus melintasi bentangan Sungai Jlegong, sistem pengairan tersebut menggunakan pipa besi berdiameter besar sebagai penghubung.
Pipa Besi Runtuh pada Dekade 1970-an
Pipa besi itu berfungsi membawa air melintasi lembah menuju lahan di seberang sungai. Penggunaan pipa menjadi bagian penting dari rancangan Talang Senoboyo karena jalur air harus melewati bentang alam yang tidak dapat dilalui saluran terbuka biasa.
Namun, sistem tersebut akhirnya berhenti beroperasi setelah mengalami kerusakan akibat proses alam. Memasuki dekade 1970-an, arus Sungai Jlegong mengikis fondasi utama penyangga talang secara perlahan.
Pergeseran tanah kemudian membuat pilar tidak lagi mampu menahan beban. Pipa besi yang menjadi jembatan air itu roboh dan terputus. Kerusakan tersebut menutup usia operasional sistem pengairan Senoboyo secara permanen.
Kini, bagian yang tersisa hanya berupa pilar beton di tengah persawahan Tempel. Talang Air Senoboyo tidak lagi mengalirkan air, tetapi tetap menyimpan rekam jejak perkembangan teknologi irigasi serta peran infrastruktur tata air dalam menopang kehidupan agraris di wilayah Sleman pada masa lampau.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.















