Headline.co.id ~ Headline.co.id, Semarang (Kemenag) — Kampanye “Einer von uns” atau “One of Us” menjadi salah satu studi dalam International Guest Lecture yang digelar Walisongo Public Relations Community (WPRC) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Walisongo Semarang, Selasa (13/10/2026). Kegiatan yang berlangsung di Theater Lantai 4 Perpustakaan UIN Walisongo itu menghadirkan Selin Aydin, M.A. dari House of Representatives Berlin, Jerman, serta Zainurakhmah, M.A. dari UIN Walisongo. Pembahasan tersebut dilakukan untuk memperkuat pemahaman mengenai komunikasi inklusif, melawan Islamofobia, dan mendorong moderasi beragama melalui strategi kampanye Public Relations (PR). Sebanyak 120 mahasiswa mengikuti kegiatan bertema “Public Relations Campaigns for Inclusion, Countering Islamophobia, and Advancing Religious Moderation” itu.
Diskusi mengenai Islamofobia tersebut dilatarbelakangi data organisasi CLAIM yang mencatat 3.080 insiden anti-Muslim di Jerman sepanjang 2024. Jumlah itu meningkat 60 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Data tersebut menunjukkan bahwa diskriminasi dan prasangka terhadap umat Islam masih menjadi tantangan dalam kehidupan masyarakat yang beragam. Karena itu, pendekatan komunikasi yang memperhatikan konteks budaya, identitas, serta keterlibatan publik dinilai penting untuk membangun dialog dan penerimaan sosial.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Kampanye Einer von uns dan Bias Bahasa
Dalam kegiatan itu, Selin Aydin membagikan pengalaman empiris dan praktis terkait rasisme anti-Muslim serta tantangan representasi kelompok minoritas di Jerman. Ia menjelaskan bahwa diskriminasi kerap berawal dari prasangka terhadap penampilan fisik seseorang.
Selin juga menceritakan pengalamannya saat memimpin kampanye politik inklusif berslogan “One of Us” atau “Einer von uns” di Berlin. Dalam kampanye tersebut, ia menemukan adanya bias sosial terhadap penggunaan bahasa tertentu.
Poster kampanye yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan Turki sempat memicu penolakan publik. Sebaliknya, poster berbahasa Inggris diterima secara wajar.
Pengalaman itu, menurut Selin, menunjukkan bahwa persoalan inklusivitas tidak hanya berkaitan dengan pesan yang disampaikan, tetapi juga siapa yang memiliki akses untuk berbicara dan dilibatkan dalam ruang publik.
“The question here is who has the capability and access to speak in a room that was actually not made for them,” tegas Selin.
Ia menerjemahkan pernyataan tersebut sebagai pertanyaan mengenai siapa yang memiliki kemampuan dan akses untuk bersuara di ruang yang sebenarnya tidak dirancang bagi mereka.
Selin menekankan, kampanye PR yang efektif tidak cukup hanya menyampaikan pesan kepada publik. Kampanye juga perlu memastikan audiens merasa terwakili, memahami pesan, serta terdorong untuk ikut terlibat.
“Kampanye Public Relations yang efektif harus dimulai dengan memahami kebutuhan audiens, menetapkan tujuan yang jelas, membuka ruang partisipasi publik, dan mengevaluasi respons masyarakat. Kampanye tidak cukup hanya menyampaikan pesan, tetapi juga harus memastikan audiens merasa terwakili, memahami pesan yang disampaikan, dan terdorong untuk terlibat,” imbuhnya.
PR sebagai Jembatan Lintas Budaya
Dekan FDK UIN Walisongo, Dr. Nasihun Amin, M.Ag., mengapresiasi pelaksanaan kuliah tamu tersebut. Menurut dia, mahasiswa, khususnya yang mempelajari Public Relations, dapat memperoleh perspektif internasional mengenai komunikasi strategis untuk menghadapi Islamofobia dan membangun citra Islam yang inklusif.
Ia mengatakan pengalaman para pemateri memberikan pelajaran bahwa komunikasi mengenai Islam di tengah masyarakat minoritas membutuhkan kepekaan terhadap konteks budaya, sensitivitas identitas, serta strategi pesan yang tepat.
“Kegiatan ini sekaligus memperkuat peran Public Relations sebagai sarana membangun pemahaman lintas budaya, memperjuangkan kesetaraan, dan mengampanyekan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin di tengah masyarakat global yang beragam,” ungkap Nasihun.
Moderasi Beragama Harus Diwujudkan
Pada sesi berikutnya, Zainurakhmah, M.A., dosen Islam dan Moderasi Beragama UIN Walisongo, menekankan pentingnya mengaktualisasikan nilai-nilai moderasi beragama atau Wasathiyah dalam kehidupan sehari-hari.
Ia mengingatkan bahwa moderasi beragama tidak seharusnya berhenti sebagai teori di dalam kelas. Nilai tersebut perlu diterapkan melalui tindakan dan kampanye sosial yang berdampak bagi kehidupan masyarakat.
“Moderasi beragama harus diinternalisasi dan diwujudkan melalui aksi nyata serta kampanye sosial yang mampu menghadirkan kedamaian di tengah masyarakat,” ujar Zainurakhmah.
Inisiatif Internasional Pertama WPRC
International Guest Lecture tersebut merupakan bagian dari rangkaian perkuliahan dosen tamu pada mata kuliah Komunikasi dan Kampanye Public Relations yang diampu Alifa Nur Fitri, M.I.Kom.
Melalui kegiatan itu, mahasiswa diharapkan memperluas wawasan mengenai praktik kampanye PR dari para ahli. Mereka juga diharapkan memahami peran strategis Public Relations dalam membangun inklusivitas, melawan stereotip, dan menyebarkan pesan perdamaian di tingkat global.
Bagi WPRC, kegiatan tersebut menjadi ajang perdana dalam menghadirkan pemateri berskala internasional. WPRC merupakan komunitas mahasiswa di lingkungan UIN Walisongo Semarang yang berfokus pada pengembangan keahlian, riset, dan praktik Public Relations yang adaptif terhadap isu sosial serta perkembangan zaman.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.















