Headline.co.id, Padang ~ Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memperkuat pendampingan bagi UMKM terdampak bencana di Sumatera Barat (Sumbar). Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan Peningkatan Kapasitas Wirausaha Terdampak Bencana di Kampus Universitas Andalas, Padang, Minggu (4/10/2026). Pendampingan diarahkan untuk membantu pelaku usaha memulihkan kegiatan ekonomi, meningkatkan produktivitas, memperluas akses pasar, serta memperoleh pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan usaha.
Wakil Menteri UMKM Helvi Moraza mengatakan pemerintah tidak hanya ingin memastikan pelaku UMKM kembali menjalankan aktivitas ekonominya, tetapi juga mendorong agar usaha mereka berkembang dan naik kelas. Menurut dia, pemulihan setelah bencana membutuhkan dukungan berkelanjutan karena pelaku usaha harus memperbaiki alat produksi, mengganti persediaan yang hilang, membangun kembali pelanggan, serta menjaga ekonomi keluarga.
Pendampingan UMKM Terdampak Bencana
“Dampak bencana terhadap UMKM dan bagaimana mengantisipasinya justru menjadi tantangan paling berat setelah bencana terjadi. Karena itu, kami hadir untuk memastikan pengusaha UMKM mendapatkan pendampingan agar bisa memulai kembali usahanya dan menjaga keberlanjutannya,” ujar Helvi seperti dikutip , Minggu (4/10/2026).
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Menurut Helvi, pemerintah telah memberikan dukungan kepada UMKM terdampak bencana melalui bantuan Presiden. Khusus di Sumbar, bantuan itu menjangkau sekitar 38 ribu UMKM dengan total alokasi sekitar Rp115 miliar.
Namun, dia menegaskan dukungan tersebut tidak berhenti pada penyaluran bantuan. Bantuan perlu menjadi bagian dari proses pemberdayaan agar pelaku UMKM dapat kembali produktif dan membangun usaha yang berkelanjutan.
Kementerian UMKM mengarahkan pendampingan pada sejumlah kebutuhan usaha, lain peningkatan kualitas produk, penguatan kapasitas produksi, pemasaran, serta fasilitasi akses pembiayaan. Pembiayaan tersebut diupayakan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing pelaku usaha.
Klinik UMKM Minang Bangkit
Komitmen pendampingan sebelumnya diwujudkan melalui aktivasi Klinik UMKM Minang Bangkit pada 23 Januari 2026. Program tersebut menggunakan tiga tahapan pendampingan, yakni pulih mental, pulih usaha, dan bertumbuh.
Melalui tahapan itu, pelaku UMKM didorong menjalani proses pemulihan secara bertahap. Proses tersebut dimulai dari membangun kembali kesiapan berusaha, memulihkan kegiatan usaha, hingga meningkatkan produktivitas dan daya saing.
Dalam kegiatan Peningkatan Kapasitas Wirausaha Terdampak Bencana, penguatan kapasitas diarahkan untuk membantu pelaku UMKM memasuki tahap pertumbuhan. Program itu secara keseluruhan dirancang menjangkau 1.475 pengusaha UMKM dan wirausaha di tiga regional.
Sebanyak 752 peserta Regional II mengikuti kegiatan yang dipusatkan di Kota Padang. Helvi mengatakan keberhasilan program tidak cukup diukur dari jumlah peserta atau pelatihan yang telah dilaksanakan.
“Ukurannya harus terlihat pada perubahan nyata seperti produksi kembali berjalan, pesanan bertambah, pasar terbuka, pendapatan meningkat, dan mata pencaharian masyarakat tetap terjaga,” ungkapnya.
Kolaborasi untuk Keberlanjutan Usaha
Untuk memastikan pendampingan terus berlanjut, Kementerian UMKM mendorong penguatan kolaborasi pemerintah daerah, perguruan tinggi, lembaga inkubator, perbankan, serta berbagai mitra strategis lainnya.
Kolaborasi tersebut diharapkan memberikan tindak lanjut yang jelas kepada pelaku UMKM setelah mengikuti pendampingan. Tindak lanjut itu mencakup konsultasi, informasi layanan, akses pembiayaan, serta solusi atas berbagai kendala pengembangan usaha.
Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah mengatakan pendampingan penting dilakukan untuk membantu masyarakat membenahi sekaligus membangun kembali usaha dan sumber penghidupannya. Menurut dia, pemulihan UMKM perlu dilakukan melalui sinergi pemerintah pusat dan daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, lembaga pembiayaan, serta mitra strategis lainnya.
Mahyeldi menilai penguatan UMKM merupakan langkah strategis bagi Sumbar karena sektor tersebut memiliki peran besar dalam menopang perekonomian daerah sekaligus menjadi sumber penghidupan masyarakat.
“Sumbar Barat memiliki hampir 750 ribu UMKM. Jika satu UMKM menopang satu keluarga dengan rata-rata lima orang, maka hampir empat juta masyarakat kita bergantung pada aktivitas ekonomi UMKM,” ujar Mahyeldi.
Upaya pendampingan itu diharapkan tidak hanya mengembalikan aktivitas usaha masyarakat pascabencana. Program tersebut juga ditujukan untuk meningkatkan produktivitas, memperluas kesempatan ekonomi, dan memperkuat daya saing produk lokal sebagai bagian dari percepatan pemulihan ekonomi Sumatera Barat.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.



















