Highlight Berita:
Headline.co.id, Jakarta ~ Ban mobil yang jarang digunakan sekalipun dapat mengalami retak rambut atau dry rot akibat perubahan kondisi karet yang kehilangan fleksibilitasnya. Kondisi tersebut perlu diperhatikan pemilik kendaraan karena kerusakan yang semakin parah dapat meningkatkan risiko ban pecah mendadak ketika mobil melaju dalam kecepatan tinggi. Berdasarkan informasi dari laman resmi Daihatsu yang dikutip Minggu, 20 September 2026, sejumlah faktor mulai dari usia ban, paparan panas, tekanan angin hingga beban kendaraan dapat mempercepat munculnya keretakan. Pemilik kendaraan karena itu perlu mengenali karakter retakan serta tanda yang menunjukkan ban sudah harus diganti.
Retakan pada ban tidak selalu langsung menandakan kerusakan berat. Namun, perubahan pada permukaan karet tidak boleh diabaikan karena kondisi tersebut dapat berkembang menjadi kerusakan struktural, terutama apabila retakan semakin dalam, melebar atau muncul bersamaan dengan perubahan bentuk ban.
Tujuh Penyebab Ban Mobil Mengalami Retak
Salah satu penyebab utama ban mengalami retak adalah usia karet yang sudah tua. Masa edar ideal ban disebut berada pada kisaran 5 hingga 6 tahun sejak kode produksi. Seiring bertambahnya usia, minyak alami pada karet dapat menguap sehingga permukaan ban menjadi lebih kering dan kemudian memunculkan retakan.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Paparan sinar ultraviolet dan panas ekstrem juga dapat mempercepat kerusakan. Mobil yang sering diparkir di bawah sinar matahari langsung berpotensi mengalami reaksi oksidasi pada ban yang mengikis lapisan pelindung karet lebih cepat.
Kendaraan yang terlalu lama tidak digunakan juga berisiko mengalami masalah. Ban yang terus berada pada satu posisi akan menahan beban kendaraan pada titik yang sama atau mengalami flat spot. Kondisi tersebut dapat memicu pengerasan karet hingga keretakan struktural.
Tekanan angin yang tidak sesuai standar turut menjadi faktor. Tekanan terlalu rendah membuat dinding ban mengalami gerakan atau tekukan berlebihan, sedangkan tekanan terlalu tinggi membuat ban lebih kaku dan rentan mengalami kerusakan akibat guncangan.
Paparan bahan bakar, oli, maupun cairan pembersih berbahan kimia keras yang tidak segera dibersihkan juga dapat merusak senyawa pelindung karet. Selain itu, kualitas formulasi karet yang rendah dapat membuat ban lebih cepat mengalami penuaan dan rentan terhadap perubahan cuaca.
Faktor lain adalah membawa muatan melebihi kapasitas kendaraan. Beban berlebih dapat mempercepat keausan tidak merata, termasuk kondisi gundul pada salah satu bagian ban, yang kemudian dapat memicu retakan lokal pada area tumpuan.
Bedakan Retak Ringan dan Kerusakan Ban Berbahaya
Pemilik kendaraan perlu membedakan retakan ringan dengan kerusakan yang sudah berbahaya. Retakan yang masih tergolong ringan umumnya berbentuk garis sangat halus dan dangkal serta baru terlihat jelas ketika diamati dari jarak dekat.
Kerusakan ringan tersebut hanya berada pada lapisan luar dan belum menembus bagian dalam karet. Kondisinya juga tidak disertai perubahan bentuk ban, benjolan maupun kebocoran tekanan angin.
Sebaliknya, perhatian serius diperlukan apabila garis retak sudah dalam dan lebar sampai memperlihatkan benang nilon atau kawat baja di dalam ban. Keretakan pada area dinding samping atau sidewall yang disertai benjolan juga menjadi indikasi bahwa kondisi ban tidak lagi normal.
Tanda lain yang perlu diwaspadai adalah retakan yang menyebar dengan cepat, munculnya getaran tidak wajar saat kendaraan dikemudikan, serta tekanan angin yang terus berkurang. Gejala tersebut menjadi indikasi kuat adanya kerusakan pada struktur ban.
Tanda Ban Mobil Harus Segera Diganti
Penggantian ban sebaiknya segera dilakukan ketika retakan pada sidewall sudah terlihat dalam dan meluas. Kondisi tapak juga perlu diperiksa, terutama jika kedalamannya sudah mendekati indikator batas keausan atau TWI.
Munculnya benjolan pada permukaan karet menjadi tanda lain yang tidak boleh diabaikan. Usia ban juga perlu menjadi pertimbangan. Ban yang sudah digunakan lebih dari 5 hingga 6 tahun sejak tanggal produksi perlu mendapat perhatian meskipun pola kembangannya masih terlihat tebal.
Ban yang terlalu sering mengalami kebocoran meski telah berulang kali ditambal juga termasuk kondisi yang menjadi alasan untuk mempertimbangkan penggantian. Pemeriksaan tidak hanya berfokus pada ketebalan tapak, tetapi juga harus memperhatikan kondisi fisik keseluruhan ban.
Risiko Memakai Ban yang Sudah Retak Parah
Menggunakan ban dengan keretakan parah dapat meningkatkan risiko keselamatan. Salah satu bahaya utamanya adalah ban pecah secara mendadak ketika kendaraan melaju dalam kecepatan tinggi.
Kerusakan ban juga dapat menyebabkan daya cengkeram menurun secara drastis di jalan basah. Selain itu, pengemudi dapat menghadapi kebocoran angin yang sulit diketahui penyebabnya hingga getaran tidak normal yang mengurangi kenyamanan selama perjalanan.
Cara Merawat Ban agar Tidak Cepat Retak
Perawatan dapat dilakukan dengan menghindari memarkir kendaraan terlalu lama di bawah sinar matahari langsung. Apabila kendaraan harus berada di area terbuka, penggunaan penutup mobil dapat membantu mengurangi paparan langsung terhadap panas.
Tekanan angin perlu dijaga sesuai rekomendasi pabrikan yang tercantum pada stiker di pilar pintu pengemudi. Ban yang terkena oli, bensin atau cairan kimia keras juga perlu segera dibersihkan agar bahan tersebut tidak merusak lapisan pelindung karet.
Kendaraan yang jarang digunakan sebaiknya tetap dipanaskan dan dijalankan secara berkala agar ban tidak terus menahan beban pada titik yang sama. Rotasi ban setiap 10.000 kilometer juga dianjurkan agar keausan lebih merata. Selain itu, pemilik kendaraan perlu menghindari membawa muatan melebihi kapasitas maksimal kendaraan untuk membantu menjaga kondisi ban tetap baik.
Dukung beri centang Headline.co.id di icon G (Gratis) atau Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.




















