Headline.co.id, Lombok Tengah ~ Alhamuddin dan Nindi Solihah, kakak-adik dari Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), tampil bersama dalam MTQ Nasional ke-31 Tahun 2026 di Kota Semarang, Kamis (17/9/2026). Keduanya menjadi bagian dari kafilah NTB pada cabang Tilawah Golongan Disabilitas Netra. Perjalanan mereka menuju panggung nasional berawal dari kebiasaan mendengarkan lantunan Al-Qur’an di rumah dan latihan yang dilakukan secara bertahap. Alhamuddin membimbing Nindi mempelajari bacaan Al-Qur’an, termasuk menggunakan huruf Braille.
Alhamuddin mulai mengenal Al-Qur’an ketika berusia sekitar empat tahun. Pada waktu salat, keluarganya terbiasa memutar rekaman bacaan Al-Qur’an di rumah. Ia mendengarkan lantunan itu secara berulang hingga perlahan menghafalnya.
“Dengar-dengar, kan di rumah itu kalau Zuhur, Asar, tiap waktu, diputar kaset-kaset ngaji dan sebagainya itu. Saya dengerin, dengerin, hafalin,” tutur Alhamuddin di Semarang, Kamis (17/9/2026).
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Alhamuddin Mengawali Perjalanan dari Rumah
Kebiasaan tersebut mendorong orang tua Alhamuddin melihat kemampuannya dalam membaca Al-Qur’an. Ia kemudian belajar dari orang-orang terdekat di lingkungan rumah, termasuk pamannya yang menjadi orang pertama yang mengajarinya membaca Al-Qur’an.
“Yang pertama ngajarin itu ada sih. Bahasa saya di rumah itu Paman lah. Paman saya yang pertama ngajarin baca Al-Qur’an,” katanya.
Perjalanan Alhamuddin dalam Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) dimulai pada 2006, saat usianya sekitar 11 tahun. Sejak itu, ia terus berlatih dan mengikuti berbagai perlombaan, baik di tingkat daerah maupun nasional.
Dalam perjalanan tersebut, Alhamuddin pernah meraih juara satu di Aceh dan juara dua tingkat nasional di Maluku. Pada MTQ Nasional ke-31 Tahun 2026 di Semarang, ia kembali tampil sebagai peserta cabang Tilawah Golongan Disabilitas Netra Putra dengan membawa nama NTB.
Bagi Alhamuddin, keikutsertaan dalam ajang nasional bukan hanya kesempatan untuk berkompetisi. Ia ingin terus membawa nama daerah melalui seni membaca Al-Qur’an. Ketika ditanya tentang cita-citanya, ia berharap dapat tampil lebih jauh dari panggung nasional.
“Kalau bisa ya, lebih dari internasional,” katanya.
Alhamuddin juga memandang Al-Qur’an bukan sekadar bacaan dalam perlombaan. Ia menjadikannya sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.
“Kalau Al-Qur’an itu ya ibarat buku panduan. Kita mau ke sini, kita baca panduan dulu. Kita mau ke sana, kita baca panduan. Panduan hidup lah,” ujarnya.
Nindi Belajar Al-Qur’an dengan Huruf Braille
Jejak Alhamuddin kemudian diikuti Nindi Solihah. Nindi yang kini berusia 15 tahun merupakan anak bungsu dari enam bersaudara dan bersekolah di SLB Negeri 2 Lombok Tengah.
Nindi mulai belajar membaca Al-Qur’an saat berusia enam tahun. Dalam proses tersebut, ia memperoleh bimbingan langsung dari Alhamuddin. Sang kakak tidak hanya membagikan pengalaman, tetapi juga mengajarinya dengan cara yang lembut dan sabar.
“Beliau itu ngajarinya lembut, terus sopan. Terus, kalau belum bisa, ya diulang-ulang. Sabar beliau,” ujar Nindi.
Dalam mempelajari Al-Qur’an, Nindi terlebih dahulu menghafal surah-surah pendek hingga maqra’-maqra’ untuk keperluan MTQ. Setelah itu, ia belajar membaca Al-Qur’an menggunakan huruf Braille.
“Pertamanya menghafal, menghafal terus. Menghafal surah-surah pendek sampai maqra’-maqra’ buat MTQ. Yang kedua, belajar membaca Al-Qur’an Braille,” katanya.
Proses belajar membaca Al-Qur’an Braille tidak selalu mudah bagi Nindi. Sejumlah ayat harus dibaca berulang kali agar dapat dikuasai. Alhamuddin meminta adiknya tidak berpindah ke ayat berikutnya sebelum mampu membaca ayat yang sedang dipelajari.
“Susah. Tapi karena kakak mengajarnya itu, kalau Nindi belum bisa, ‘Ayo diulang-ulang,’ gitu. ‘Ayo diulang-ulang sampai bisa. Kalau belum bisa, nggak usah lanjut ke ayat lain,’” tuturnya.
Dari Latihan hingga Panggung MTQ Nasional
Latihan tersebut membawa Nindi tampil dalam ajang MTQ Nasional. Ia mengaku senang dapat mengikuti kompetisi tingkat nasional sekaligus membawa nama NTB.
“Alhamdulillah, senang,” katanya.
MTQ Nasional ke-31 di Semarang bukan pengalaman nasional pertama bagi Nindi. Sebelumnya, ia pernah mengikuti ajang nasional di Kalimantan Timur dan meraih peringkat 13.
Nindi kini memiliki cita-cita untuk menjadi guru tilawah. Ia berharap kemampuan yang dipelajarinya dapat dibagikan kepada orang lain, sebagaimana Alhamuddin membimbingnya sejak kecil.
“Insya Allah saya ingin menjadi guru tilawah,” kata Nindi.
Pesan Pelatih Kafilah NTB
Pelatih kafilah NTB, Riyadi, mengatakan kemampuan Alhamuddin dalam seni baca Al-Qur’an telah tumbuh sejak usia dini. Menurut dia, latihan dan pembelajaran yang dilakukan secara panjang membuat Alhamuddin berkembang hingga mampu tampil di tingkat nasional.
Riyadi menjelaskan, seni baca Al-Qur’an berkaitan erat dengan kemampuan mengolah seni dalam lantunan ayat.
“Jadi yang namanya seni baca Al-Qur’an itu erat hubungannya dengan seni. Bagaimana seni itu bisa diaplikasikan ke dalam Al-Qur’annya,” ujar Riyadi.
Ia berharap semakin banyak anak yang belajar Al-Qur’an, terutama mereka yang memiliki bakat dalam seni baca Al-Qur’an. Riyadi juga menilai dukungan pemerintah daerah penting untuk memberikan semangat kepada para peserta agar terus berkembang.
“Dan mudah-mudahan ke depan anak-anak kita akan semakin banyak yang belajar Al-Qur’an, dan khususnya yang punya seni. Sehingga mereka bisa berkembang di tingkat yang lebih tinggi,” pungkasnya.
Dari rumah di Lombok Tengah, Alhamuddin dan Nindi menempuh perjalanan berbeda dalam belajar Al-Qur’an. Alhamuddin berkembang melalui pengalaman panjang di berbagai ajang MTQ, sedangkan Nindi berlatih melalui hafalan dan pembacaan Al-Qur’an dengan huruf Braille. Keduanya kemudian tampil di panggung yang sama sebagai bagian dari kafilah NTB dalam MTQ Nasional ke-31 di Semarang.



















