Headline.co.id, Cirebon ~ Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengembangkan Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Kejawanan di Cirebon, Jawa Barat, menjadi pelabuhan bertaraf internasional. Pengembangan tersebut ditandai dengan groundbreaking pada Kamis (17/9/2026) dan menjadi langkah awal modernisasi infrastruktur perikanan di Indonesia. Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan, modernisasi dilakukan untuk meningkatkan daya saing hasil perikanan, menciptakan pertumbuhan ekonomi, serta menjaga keberlanjutan lingkungan.
PPN Kejawanan dipilih sebagai tahap awal sebelum pengembangan PPN Pengambengan di Karangasem, Bali. KKP menyusun pengembangan tersebut berdasarkan kajian dan perbandingan dengan pelabuhan perikanan di negara-negara maju, seperti Jepang, Australia, serta sejumlah negara di Eropa.
PPN Kejawanan Disiapkan Menampung 500 Kapal
Berdasarkan penghitungan KKP, kolam labuh PPN Kejawanan nantinya mampu menampung sekitar 500 kapal. Kapasitas itu meningkat dibandingkan kondisi sebelumnya yang hanya dapat menampung 241 kapal.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Produktivitas pendaratan ikan juga diproyeksikan meningkat hingga 32.000 ton per tahun dari sebelumnya 5.600 ton. Kenaikan produktivitas tersebut diharapkan berjalan seiring dengan peningkatan aktivitas ekonomi di kawasan pelabuhan.
“Modeling seperti ini akan (terus) kita lakukan dalam membangun infrastruktur perikanan di Indonesia, yang akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi, dan sekaligus juga tetap menjaga lingkungan menjadi lebih baik,” ujar Menteri Trenggono dalam acara Groundbreaking Pengembangan PPN Kejawanan di Cirebon.
KKP turut menghitung dampak pengembangan pelabuhan terhadap penyerapan tenaga kerja dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Jumlah tenaga kerja diperkirakan bertambah menjadi 8.000 orang dari sekitar 2.900 pekerja saat ini.
Sementara itu, PNBP dari aktivitas perikanan di pelabuhan diproyeksikan naik dari Rp15 miliar per tahun menjadi Rp53 miliar. Menteri Trenggono mengatakan, penghitungan dampak menjadi bagian penting dalam setiap pengembangan infrastruktur perikanan.
“Kami selalu menghitung dampaknya seperti apa, pengembangan yang dilakukan akan mampu menciptakan lapangan kerja berapa banyak, pertumbuhan ekonomi berapa, inilah yang akan kami picu,” tegasnya.
Zona Bersih dan Kotor Akan Dipisahkan
Modernisasi PPN Kejawanan tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kapasitas pelabuhan. KKP juga menyiapkan pembenahan lingkungan dan tata kelola aktivitas perikanan untuk mengubah citra pelabuhan yang selama ini identik dengan kondisi kotor dan bau.
Di kawasan PPN Kejawanan, zona bersih dan zona kotor nantinya dipisahkan. Aktivitas perikanan, mulai dari kapal berlabuh, pendaratan ikan, pengolahan, hingga pemasaran, akan diintegrasikan dalam satu kawasan.
Pelabuhan tersebut juga akan didukung fasilitas layanan one stop service dan one stop solution bagi nelayan serta pelaku usaha perikanan. Integrasi layanan itu ditujukan untuk menjadikan PPN Kejawanan sebagai pusat bisnis hasil tangkapan ikan dan ekspor produk perikanan.
Selain mendukung kegiatan perikanan, pengembangan PPN Kejawanan dinilai berpotensi memperkuat citra pariwisata Cirebon. Kota tersebut memiliki berbagai aspek kewisataan, termasuk laut dan keraton.
Dukungan Infrastruktur dari Jawa Barat
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang menyaksikan groundbreaking menyatakan dukungan terhadap pengembangan PPN Kejawanan. Ia menyebut keberadaan pelabuhan perikanan yang representatif di Cirebon dapat memberi manfaat bagi masyarakat Jawa Barat.
“Ini bagi masyarakat Jabar adalah sebuah kebahagian, memiliki pelabuhan perikanan yang representatif di Cirebon, kota budaya yang memiliki berbagai aspek kewisataan, ada laut, keraton,” ungkap Dedi.
Ia juga menyatakan kesiapan Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk membangun infrastruktur tambahan di sepanjang jalan dari gerbang tol hingga Pelabuhan Kejawanan.
Nelayan Harap Harga Ikan Lebih Stabil
Pengembangan PPN Kejawanan turut mendapat perhatian nelayan tradisional. Mulyadi, nelayan asal Desa Cangkol, berharap fasilitas baru tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan nelayan.
Menurut dia, keberadaan dermaga khusus nelayan tradisional dan tempat pelelangan ikan (TPI) akan memudahkan penyerapan hasil tangkapan. Kondisi itu diharapkan dapat membuat harga ikan lebih stabil.
“Harapan warga disini, anak-anak nelayan bisa ikut bekerja di pelabuhan. Karena kalau jadi nelayan juga, kadang tidak bisa melaut ketika cuaca sedang buruk. Sedangkan jadi pekerja kan tetap,” kata Mulyadi.



















