Headline.co.id, Jakarta ~ SEAMEO Regional Centre for Food and Nutrition (SEAMEO RECFON) meluncurkan tiga dokumen berbasis bukti untuk memperkuat kebijakan pangan dan gizi di Asia Tenggara. Dokumen tersebut diluncurkan dalam rangkaian Rapat Tahunan Dewan Pembina atau Governing Board Meeting tahun ini yang dibahas dari Jakarta pada Rabu (9/9/2026). Dua policy brief dan satu laporan penelitian itu memuat rekomendasi terkait surveilans gizi, program gizi di sekolah, serta menu berbasis pangan lokal. Rekomendasi tersebut disiapkan untuk membantu penguatan kebijakan dan praktik gizi, termasuk mendukung implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Suharti mengatakan SEAMEO RECFON merupakan salah satu pusat SEAMEO yang berkedudukan di Indonesia dan didukung Pemerintah Indonesia melalui Kemendikdasmen.
“Sebagai pusat regional di bidang pangan dan gizi, SEAMEO RECFON menjalankan mandat penelitian, pengembangan kapasitas, dan diseminasi pengetahuan bagi negara-negara anggota SEAMEO. Salah satu policy brief yang diluncurkan menyoroti penguatan sistem biomarker zat gizi mikro dalam Survei Status Gizi Indonesia (SSGI). Penguatan ini diarahkan untuk meningkatkan kemampuan surveilans dalam mendeteksi dan memantau persoalan gizi, termasuk anemia dan tengkes,” ujar Suharti dalam keterangannya.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Penguatan Surveilans Gizi
Salah satu policy brief yang diluncurkan menyoroti penggunaan biomarker zat gizi mikro dalam SSGI. Penguatan sistem tersebut diarahkan untuk meningkatkan kemampuan surveilans dalam mendeteksi dan memantau persoalan gizi, termasuk anemia dan tengkes.
Penggunaan biomarker dinilai penting karena dapat memberikan informasi yang lebih spesifik mengenai status zat gizi mikro. Informasi tersebut melengkapi data surveilans dan membantu memperkuat dasar pengambilan kebijakan di bidang pangan dan gizi.
Dengan pendekatan itu, data mengenai kondisi gizi diharapkan dapat menjadi dasar yang lebih kuat untuk melihat persoalan zat gizi mikro. SEAMEO RECFON menempatkan hasil kajian tersebut sebagai bagian dari rekomendasi berbasis bukti bagi penguatan kebijakan di kawasan Asia Tenggara.
Program Gizi Sekolah Perlu Terukur
Dokumen kedua berfokus pada penguatan paket program gizi di tingkat sekolah di negara-negara Asia Tenggara. Rekomendasi yang ditawarkan meliputi pendampingan teknis, penjaminan mutu, serta sistem pemantauan program.
Pendekatan tersebut diarahkan agar intervensi gizi di sekolah tidak hanya berjalan sebagai kegiatan, tetapi juga dapat dilaksanakan secara terukur dan berkelanjutan. Penguatan pada aspek teknis, mutu, dan pemantauan menjadi bagian penting dari pelaksanaan program gizi di lingkungan sekolah.
Riset dan rekomendasi itu juga memperlihatkan peran SEAMEO RECFON dalam menghubungkan hasil penelitian dengan kebutuhan pelaksanaan program. Lembaga tersebut tidak hanya menjalankan fungsi penelitian, tetapi juga mengembangkan kapasitas dan menyebarluaskan pengetahuan bagi negara-negara anggota SEAMEO.
Pangan Lokal Dukung Implementasi MBG
Adapun laporan penelitian yang diluncurkan membahas pengembangan Panduan Gizi Seimbang Berbasis Pangan Lokal beserta menu padat gizi untuk anak usia sekolah di Indonesia.
Kajian tersebut relevan bagi penguatan implementasi program MBG, khususnya dalam mendorong penyediaan makanan bergizi yang tetap mempertimbangkan ketersediaan dan keragaman pangan lokal. Pemanfaatan pangan lokal juga berpotensi membuat menu lebih sesuai dengan konteks daerah.
Pendekatan itu sekaligus memperkuat penerapan prinsip gizi seimbang dalam pemenuhan kebutuhan anak usia sekolah. Dengan demikian, penyediaan makanan dalam program gizi sekolah dapat mempertimbangkan kondisi pangan yang tersedia di masing-masing daerah.
Ketiga dokumen tersebut menunjukkan peran SEAMEO RECFON sebagai simpul pengetahuan yang menerjemahkan hasil kajian menjadi rekomendasi untuk kebijakan dan praktik pangan serta gizi.
Dibahas dalam Rapat Tahunan Dewan Pembina
Peluncuran dokumen tersebut menjadi bagian dari Rapat Tahunan Dewan Pembina yang dihadiri 11 anggota yang mewakili negara-negara anggota SEAMEO. Forum itu membahas capaian organisasi, evaluasi pelaksanaan program, serta arah dan perencanaan strategis program kerja tiga tahun ke depan.
Pertemuan yang semula direncanakan berlangsung secara luring di Jakarta kemudian disesuaikan menjadi format gabungan luring dan daring. Penyesuaian dilakukan menyusul kondisi kahar atau force majeure berupa peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau yang berdampak pada penutupan sementara Bandara Soekarno-Hatta.
Perubahan format tersebut tidak mengubah tujuan maupun substansi pembahasan rapat. Sebagai negara tuan rumah, Kemendikdasmen atas nama Pemerintah Indonesia mendukung dan memfasilitasi pelaksanaan mandat serta kegiatan SEAMEO RECFON, termasuk forum tahunan Dewan Pembina.
“Kemendikdasmen akan terus mendukung SEAMEO RECFON dalam menjalankan mandat regionalnya, memperkuat kerja sama antarnegara, serta mendorong agar pengetahuan, inovasi, dan praktik baik yang dikembangkan di Indonesia memberi manfaat yang lebih luas bagi kawasan Asia Tenggara,” kata Suharti.
Dukungan tersebut memperkuat posisi Indonesia dalam kerja sama regional di bidang pangan dan gizi. Hasil penelitian dan inovasi dalam negeri didorong agar dapat menjadi rujukan yang dimanfaatkan negara-negara Asia Tenggara.















