Highlight Berita:
Headline.co.id, Jakarta ~ Dugaan keracunan MBG di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, membuat ratusan siswa harus mendapatkan pemeriksaan di sejumlah Puskesmas pada Jumat (11/9/2026). Salah satu orangtua siswa SDN Beber, Raya, mengatakan anaknya mulai merasa mual dan pusing setelah menyantap kebab ayam dari menu Makan Bergizi Gratis yang dimakan sekitar pukul 09.00 Wita. Pihak sekolah kemudian membawa anak tersebut ke Puskesmas untuk mendapat penanganan. Hingga pukul 18.00 Wita, Badan Gizi Nasional mencatat sementara 333 siswa berobat di empat Puskesmas.
Kronologi keracunan MBG Lombok Tengah menjadi perhatian karena keluhan dialami setelah siswa menyantap menu yang dibagikan di sekolah. Dari keterangan Raya, gejala pada anaknya muncul tidak lama setelah memakan makanan yang diberikan melalui program MBG.
Raya mengatakan menu MBG diberikan kepada siswa-siswi SDN Beber dan dimakan sekitar pukul 09.00 Wita. Salah satu makanan dalam menu tersebut adalah kebab ayam.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Anaknya ikut menyantap makanan tersebut bersama siswa lain. Setelah makan, kondisi anak Raya berubah dan mulai mengalami keluhan kesehatan.
Raya mengatakan buah hatinya merasakan mual dan pusing seusai menyantap kebab ayam. Informasi tersebut menjadi bagian awal kronologi kasus keracunan MBG hari ini yang kemudian membuat para siswa dibawa untuk memperoleh pemeriksaan kesehatan.
Anak Mengeluh Mual dan Dibawa ke Puskesmas
Setelah merasa mual, anak Raya langsung dibawa pihak sekolah ke Puskesmas. Raya kemudian ditemui di Puskesmas Pringgarata pada Jumat saat anaknya memperoleh penanganan.
Kejadian yang dialami anaknya membuat Raya meminta agar program MBG dihentikan. Ia beralasan makanan bergizi untuk anak tetap bisa disediakan keluarga di rumah.
“Kalau bisa hentikan itu MBG, itu maunya saya. Di rumah tanpa dikasih MBG anak saya dikasih makan makanan bergizi seperti telur susu ayam,” kata Raya.
Menurut Raya, masyarakat di kampung juga terbiasa menyediakan sumber makanan bergizi seperti ayam dan telur. Ia menolak anggapan bahwa anak-anak di kampung hanya dapat memperoleh makanan tersebut melalui program MBG.
“Dikirain orang kampung enggak pernah makan ayam, enggak pernah makan telur, orang kampung itu ayamnya sekandang itu telurnya seboks,” katanya.
Ayam dalam Kebab Disebut Sudah Berbau
Selain menjelaskan gejala yang dialami anaknya, Raya juga menyoroti kondisi kebab ayam yang dibagikan kepada siswa. Menurut dia, ayam pada makanan tersebut sudah mengeluarkan bau.
“Bau ayamnya,” ujar Raya.
Meski demikian, menurut Raya, anak-anak tetap memakan makanan tersebut. Bahan yang tersedia belum memuat hasil pemeriksaan yang memastikan penyebab keluhan para siswa sehingga peristiwa tersebut masih disebut sebagai dugaan keracunan.
Raya kemudian menyampaikan usulan agar MBG tidak lagi diberikan dalam bentuk makanan. Menurut dia, bantuan dapat diberikan dalam bentuk uang kepada siswa.
“Kalau bisa dihentikan MBG-nya dikasih berbentuk uang supaya enggak repot-repot pemerintah gaji orang,” katanya.
333 Siswa Tersebar di Empat Puskesmas
Besarnya jumlah siswa yang mendapat pemeriksaan disampaikan Koordinator Wilayah atau Kepala Regional Badan Gizi Nasional di Nusa Tenggara Barat, Ekonomi Prasetyo.
Berdasarkan data sementara BGN hingga pukul 18.00 Wita, sebanyak 333 siswa telah berobat ke empat Puskesmas. Mereka tersebar di Puskesmas Mantang, Puskesmas Aik Darek, Puskesmas Pringgarata, dan Puskesmas Bagu.
Rinciannya, 51 siswa berobat di Puskesmas Mantang, 86 siswa di Puskesmas Aik Darek, 180 siswa di Puskesmas Pringgarata, serta 16 siswa di Puskesmas Bagu.
Puskesmas Pringgarata menangani jumlah siswa terbesar berdasarkan data sementara tersebut. Lokasi itu juga menjadi tempat Raya ditemui setelah anaknya mengalami keluhan usai mengonsumsi menu MBG.
Sebagian Besar Siswa Sudah Dipulangkan
Di tengah banyaknya siswa yang dibawa ke fasilitas kesehatan, kondisi penanganan menunjukkan sebagian besar anak telah diperbolehkan pulang. Mereka selanjutnya mendapatkan perawatan di rumah.
Data 333 siswa yang disampaikan BGN masih berstatus sementara hingga pukul 18.00 Wita. Dengan demikian, angka tersebut merupakan jumlah siswa yang tercatat berobat berdasarkan pembaruan pada waktu tersebut.
Peristiwa keracunan MBG Lombok Tengah ini tidak hanya menyoroti keluhan kesehatan siswa setelah menyantap menu sekolah, tetapi juga memunculkan kritik dari salah satu orangtua korban. Raya meminta MBG dihentikan setelah anaknya mengalami mual dan pusing, sementara BGN mencatat ratusan siswa telah mendapatkan penanganan di empat Puskesmas.
















