Headline.co.id, Jakarta ~ Kementerian Agama melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Islam mengeluarkan Surat Edaran (SE) Nomor 6 Tahun 2026 yang mengatur penyesuaian kegiatan pembelajaran di lembaga pendidikan Islam akibat erupsi beberapa gunung berapi. SE ini berlaku untuk Raudhatul Athfal/Madrasah, Pesantren, Satuan Pendidikan Keagamaan Islam, dan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam yang terdampak abu vulkanik. Edaran tersebut ditetapkan di Jakarta pada 7 September 2026 dan ditandatangani oleh Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Suyitno.
Dalam SE ini, lembaga pendidikan Islam diberikan keleluasaan untuk menyesuaikan jadwal, lokasi, dan metode pembelajaran sesuai kondisi daerah masing-masing. “Langkah yang dapat dilakukan lain mengubah jam masuk dan pulang, mengurangi durasi pembelajaran tatap muka atau pengajian, memindahkan kegiatan ke lokasi yang lebih aman, membatasi kegiatan di luar ruangan, hingga mengalihkan pembelajaran sementara ke pembelajaran jarak jauh,” jelas Suyitno. Jika kondisi dinilai tidak aman, kegiatan tatap muka dapat dihentikan sementara.
Selain itu, pimpinan satuan pendidikan Islam diwajibkan memastikan sarana dan prasarana bersih dari abu vulkanik dan menyediakan masker seperti N95, KN95, KF94, dan FFP2, atau masker medis sebagai alternatif sementara. “Warga satuan pendidikan Islam juga diimbau menggunakan pakaian tertutup dan pelindung mata apabila harus beraktivitas di luar ruangan,” tambah Suyitno. Jika ada warga yang mengalami gangguan kesehatan seperti sesak napas atau nyeri mata, mereka harus dirujuk ke puskesmas atau rumah sakit.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Penting bagi pimpinan satuan pendidikan Islam untuk menyampaikan informasi penyesuaian pembelajaran kepada peserta didik, orang tua, pendidik, dan tenaga kependidikan secara jelas dan tidak menimbulkan kepanikan. “Kegiatan pembelajaran secara normal dapat dilaksanakan kembali setelah kondisi dinyatakan aman oleh instansi yang berwenang,” tutup Suyitno. Saat ini, beberapa gunung seperti Gunung Anak Krakatau, Gunung Ibu, Semeru, dan Gunung Ili Lewotolok dilaporkan mengalami peningkatan aktivitas.

















