Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terus memantau sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau dan dampaknya terhadap kualitas udara serta kesehatan masyarakat. Pemantauan dilakukan setelah analisis citra RGB Himawari-9 pada 9 September 2026 pukul 16.00 WIB menunjukkan abu bergerak ke arah selatan-barat daya dari lokasi Gunung Anak Krakatau. Sebaran abu teramati di sebagian wilayah Selat Sunda Barat dan Pandeglang, dengan intensitas di daratan Banten yang dilaporkan jauh berkurang karena bergerak menuju laut lepas. Hingga laporan per 8 September 2026, Kemenkes mencatat 68.919 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di empat provinsi dan 23 kabupaten/kota terdampak.
Juru Bicara Kemenkes Widyawati mengatakan, sebaran abu vulkanik masih dipantau untuk mengetahui perkembangan kualitas udara dan potensi dampaknya terhadap kesehatan masyarakat. Abu terpantau berada dari permukaan hingga ketinggian 5.000 kaki atau sekitar 1,5 kilometer.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Kondisi terkini intensitas sebaran di daratan Banten terpantau jauh berkurang seiring dengan pergerakan abu yang mengarah ke laut lepas,” ujar Widyawati saat menyampaikan pembaruan situasi bencana, Kamis (10/9/2026).
Sebaran Abu Anak Krakatau Masih Dipantau
Kemenkes melakukan pemantauan kualitas udara melalui Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). Di DKI Jakarta, nilai ISPU pada 9 September 2026 tercatat 100 di Jakarta Timur, 104 di Jakarta Pusat, 96 di Jakarta Utara, dan 97 di Jakarta Barat.
Data tersebut menjadi bagian dari pemantauan dampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terhadap wilayah terdampak. Kemenkes juga mengawasi penyakit yang berkaitan dengan paparan abu, lain ISPA, bronkitis, asma, iritasi mata, dan iritasi kulit.
Widyawati menyebut, dari total kumulatif 68.919 kasus ISPA, sebanyak 14.439 kasus terjadi pada kelompok usia 0–5 tahun. Sementara itu, 54.480 kasus tercatat pada kelompok usia lebih dari 5 tahun.
“Pada 8 September 2026 tercatat 17.780 kasus ISPA. Berdasarkan kelompok usia dari total kasus kumulatif tersebut, sebanyak 14.439 kasus terjadi pada kelompok usia 0–5 tahun, sedangkan 54.480 kasus terjadi pada kelompok usia lebih dari 5 tahun,” sebutnya.
Kemenkes Perkuat Pencegahan dan Layanan Kesehatan
Untuk mengurangi risiko kesehatan akibat paparan abu vulkanik, Kemenkes memperkuat upaya promotif dan preventif. Langkah itu meliputi edukasi dan promosi pengurangan risiko krisis kesehatan, pemantauan penyakit terkait abu vulkanik, serta surveilans kualitas udara dan dampak kesehatan di permukiman wilayah terdampak.
Kesiapsiagaan juga diperkuat melalui penetapan Surat Edaran Kesiapsiagaan Dampak Kesehatan akibat abu vulkanik bagi dinas kesehatan dan fasilitas kesehatan.
Dalam penanganan dan pemantauan, Kemenkes menyiagakan Public Safety Center (PSC) 119 dan TCK di kabupaten/kota. Pos pelayanan kesehatan juga disiapkan di 830 puskesmas dan 413 rumah sakit.
Pemantauan dan evaluasi dilakukan setiap hari melalui pendampingan manajemen krisis kesehatan. Kemenkes juga mengaktifkan Health Emergency Operation Center (HEOC) di lokasi terdampak.
Bantuan Kesehatan Dikirim ke Empat Provinsi
Bantuan kesehatan dimobilisasi ke empat provinsi terdampak, yakni Lampung, Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat. Lampung mendapat dukungan 10 unit oxygen concentrator, sedangkan Banten memperoleh 20 unit.
Bantuan lain yang didistribusikan meliputi masker, kacamata pelindung, obat tetes, inhaler, obat-obatan, bahan medis habis pakai (BMHP), serta vitamin C dan vitamin E.
Widyawati mengimbau masyarakat menggunakan masker untuk melindungi diri dari paparan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Masker N95 dianjurkan karena dapat menyaring partikel kecil, sedangkan masker medis dapat digunakan sebagai perlindungan tambahan.
“Kalau tidak perlu sekali jangan ke luar rumah,” imbaunya.
Masyarakat juga diminta memperhatikan kondisi kesehatan dan segera memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami keluhan yang berkaitan dengan paparan abu vulkanik.
















