Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda terus dipantau Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) hingga Kamis, 10 September 2026. Pemantauan dilakukan setelah Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan peningkatan aktivitas gunung api tersebut. Hasil pemantauan sistem IDSL/PUMMA di Rakata belum menunjukkan anomali muka air yang berpotensi menimbulkan tsunami tambahan. BRIN mengimbau masyarakat mengikuti informasi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau dan potensi tsunami melalui kanal resmi lembaga berwenang.
Tim pemantauan di Selat Sunda telah mengamati aktivitas Gunung Anak Krakatau serta kemungkinan perubahan muka air sejak 4 September 2026. Sistem IDSL/PUMMA yang berada di Rakata digunakan untuk mendeteksi perubahan kondisi di sekitar sumber potensi bahaya secara cepat.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Sistem IDSL/PUMMA Hubungkan Pemantauan PVMBG dan BMKG
Periset Pusat Riset Kebencanaan Geologi, Organisasi Riset Kebumian dan Maritim BRIN, Semeidi, mengatakan IDSL/PUMMA di Rakata merupakan satu-satunya sistem pemantauan volcano-tsunami di Selat Sunda.
“Keberadaan IDSL/PUMMA sangat dekat dengan sumber potensi tsunami, sehingga bisa cepat mendeteksi. Keberadaannya juga menjembatani PVMBG dan BMKG dalam monitoring dan peringatan dini volcano-tsunami di Selat Sunda,” ujar Semeidi dalam keterangan tertulis yang diterima , Kamis (10/9/2026).
Menurut Semeidi, data sistem tersebut menjadi bagian penting dalam koordinasi antarlembaga untuk memantau perkembangan aktivitas gunung api dan menyampaikan peringatan dini apabila terjadi perubahan kondisi yang berpotensi membahayakan.
“Sejauh ini, walaupun ada peningkatan aktivitas gunung api sebagaimana dilaporkan PVMBG, data IDSL/PUMMA tidak menunjukkan anomali yang berpotensi menimbulkan bencana tambahan seperti tsunami,” jelasnya.
Dentuman dan Getaran Belum Ganggu Muka Air
Semeidi juga menanggapi dentuman keras dan getaran yang dirasakan di sejumlah wilayah Banten dan Jawa Barat. Fenomena tersebut kemungkinan berkaitan dengan ledakan atau aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Namun, data pemantauan sejauh ini belum menunjukkan adanya gangguan signifikan terhadap muka air. “Namun, sejauh ini tidak cukup kuat untuk mengganggu muka air sehingga tidak terjadi potensi atmospheric-tsunami,” ujarnya.
Atmospheric-tsunami merupakan fenomena perubahan muka air yang dapat dipicu perubahan atmosfer akibat aktivitas gunung api. Kemampuan IDSL/PUMMA untuk mendeteksi perubahan muka air dan atmosfer disebut telah teruji dalam peristiwa erupsi Gunung Hunga Tonga pada 2022.
Ledakan besar Gunung Hunga Tonga di Pasifik Selatan saat itu memicu perubahan atmosfer dan fenomena atmospheric-tsunami yang terdeteksi hingga Indonesia. “Seluruh data dan peringatan tsunami saat itu juga tersampaikan ke BMKG,” kata Semeidi.
Komunikasi Pemantauan Didukung Telkomsel dan Satelit BAKTI
Selain berada dekat dengan sumber potensi bahaya, sistem pemantauan di kawasan Krakatau kini didukung infrastruktur komunikasi yang lebih baik dibandingkan kondisi pada 2018.
Semeidi mengatakan IDSL/PUMMA memperoleh dukungan cakupan seluler GSM dari Telkomsel serta Satelit Telekomunikasi BAKTI di kawasan Krakatau. Dukungan tersebut membantu pertukaran informasi dan pelaporan kondisi lapangan.
“Sehingga masyarakat atau nelayan bisa melaporkan langsung kondisi di sana,” katanya.
Keberadaan sistem yang dekat dengan sumber aktivitas gunung api memungkinkan perubahan kondisi terdeteksi lebih cepat. Data yang diperoleh kemudian dapat digunakan dalam koordinasi pemantauan dan penyampaian informasi kepada masyarakat.
BRIN Imbau Masyarakat Ikuti Informasi Resmi
BRIN bersama lembaga terkait akan terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Masyarakat diminta tetap tenang dan tidak menyebarluaskan informasi yang belum terverifikasi.
Semeidi mengingatkan masyarakat agar memperoleh informasi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau dan potensi tsunami melalui kanal resmi lembaga berwenang.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tidak panik, dan tidak terpengaruh oleh informasi yang belum jelas sumbernya. Tim akan terus melakukan pemantauan dan berkoordinasi. Apabila terdapat perubahan kondisi yang berpotensi membahayakan masyarakat, informasi dan peringatan akan disampaikan melalui kanal resmi,” tuturnya.


















