Headline.co.id, Jakarta ~ Kondisi Anak Gunung Krakatau saat ini masih menunjukkan aktivitas vulkanik tinggi setelah erupsi berlangsung sejak Jumat, 4 September 2026, dengan status aktivitas berada pada Level III atau Siaga. Erupsi gunung yang berada di Selat Sunda tersebut menghasilkan gemuruh, getaran, dan sebaran abu vulkanik yang berdampak hingga Lampung, Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat. Dampaknya meluas ke sektor penerbangan, kesehatan masyarakat, hingga kegiatan belajar di sejumlah daerah.
Kondisi Anak Gunung Krakatau saat ini terus dipantau dan dievaluasi oleh otoritas terkait karena aktivitas vulkaniknya masih tinggi. PVMBG menetapkan masyarakat berada pada zona aman di luar radius 3 kilometer dari gunung berdasarkan indikator aktivitas, morfologi, dan jangkauan material vulkanik yang dilontarkan dari puncak.
Dampak kondisi Anak Gunung Krakatau saat ini juga terlihat dari penutupan sementara sejumlah bandara akibat penyebaran abu vulkanik. Hingga Senin pagi, 7 September 2026, enam bandara masih ditutup sementara, sementara pemerintah memperkuat langkah kesiapsiagaan di daerah terdampak dan meminta masyarakat mengikuti informasi resmi.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Gunung Anak Krakatau Berstatus Level III Siaga
Status aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau berada pada Level III atau Siaga. Menurut otoritas gunung api atau PVMBG, aktivitas vulkanik masih tinggi sehingga pemantauan penuh dan evaluasi terus dilakukan terhadap dinamika gunung tersebut.
Zona aman ditetapkan berada di luar radius 3 kilometer dari Gunung Anak Krakatau. Penetapan tersebut mempertimbangkan sejumlah indikator aktivitas vulkanik, termasuk kondisi morfologi serta potensi jangkauan material yang dilontarkan dari puncak.
Masyarakat, khususnya nelayan dan wisatawan yang beraktivitas di sekitar Selat Sunda, diminta tidak mendekati gugusan Gunung Anak Krakatau.
Imbauan tersebut juga disampaikan kepada masyarakat Pulau Sebesi di Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, yang menjadi salah satu kawasan berpenghuni dekat dengan Gunung Anak Krakatau.
Bhabinkamtibmas Desa Tejang, Pulau Sebesi, Aipda Deni Meydinistira, menyambangi masyarakat sekaligus membagikan masker pada 6 September 2026. Warga yang melakukan kegiatan di laut dan wisatawan diminta meningkatkan kewaspadaan.
“Diharapkan masker ini bisa berguna bagi saudara-saudara kita. Ini langsung kita antar melalui jalur laut dan di sana akan diterima oleh masyarakat,” ujar Deni.
Masyarakat juga diminta menggunakan masker ketika berada di luar rumah saat udara terdampak abu vulkanik, menjaga kebersihan lingkungan, serta mengikuti informasi dan arahan resmi dari pihak berwenang.
Enam Bandara Masih Ditutup Akibat Abu Vulkanik
Erupsi Gunung Anak Krakatau memberikan dampak besar terhadap sektor penerbangan. Kementerian Perhubungan menyebut delapan bandara sempat terdampak akibat sebaran abu vulkanik.
Hingga Senin pagi, enam bandara masih ditutup sementara dan masa penutupan kembali diperpanjang.
“Penutupan bandara diperpanjang sampai dengan jam 09.00 WIB,” kata Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Lukman F. Laisa saat dihubungi, Senin, 7 September 2026.
Enam bandara yang masih terdampak terdiri atas Bandara Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten II Lampung, Husein Sastranegara Bandung, Budiarto Curug, dan Pondok Cabe.
Bandara Soekarno-Hatta ditutup mulai pukul 23.20 hingga 08.59 WIB, Halim Perdanakusuma pukul 23.26 hingga 08.59 WIB, Radin Inten II pukul 23.23 hingga 08.59 WIB, Husein Sastranegara pukul 23.31 hingga 08.59 WIB, Budiarto Curug pukul 23.29 hingga 08.59 WIB, serta Pondok Cabe pukul 23.36 hingga 08.59 WIB.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi sebelumnya menyebut sedikitnya 1.558 penerbangan mengalami penundaan dan sekitar 170.000 penumpang terdampak.
Kementerian Perhubungan menegaskan maskapai tetap memiliki kewajiban memenuhi hak penumpang, termasuk memberikan informasi mengenai perubahan status penerbangan serta pilihan penanganan sesuai ketentuan.
“Kementerian Perhubungan mengedepankan aspek keselamatan dan keamanan penerbangan. Pihak maskapai tidak memaksakan penerbangan apabila kondisi tidak memungkinkan,” kata Dudy.
Pemerintah Siapkan Bandara dan Transportasi Alternatif
Untuk mengurangi dampak penutupan bandara, pemerintah menyiapkan sejumlah bandara alternatif, antara lain Bandara Kertajati, Bandara Juanda, Bandara Internasional Yogyakarta atau YIA, serta bandara di Semarang dan Solo.
Penumpang yang penerbangannya dipindahkan menuju bandara alternatif juga akan mendapatkan transportasi darat lanjutan berupa bus atau kereta api.
“Transportasi alternatif gratis. Bandara mana yang mau digunakan, InJourney akan menyediakan, dengan berkoordinasi bersama Angkasa Pura dan airlines. Penumpang akan diinfo oleh airlines jika airlines mau take off landing di bandara alternatif,” ujar Dudy.
Kementerian Perhubungan bersama otoritas bandara dan BMKG terus memantau perkembangan sebaran abu vulkanik. Pemutakhiran kondisi penerbangan dilakukan secara berkala dengan mempertimbangkan aspek keselamatan.
Berbeda dengan transportasi udara, penyeberangan laut di Selat Sunda masih dapat dilakukan. Meski demikian, otoritas pelabuhan diminta tetap meningkatkan kewaspadaan dan terus memperbarui informasi keselamatan.
Abu Vulkanik Mencapai Jakarta, Banten hingga Jawa Barat
BMKG mencatat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau telah mencapai sebagian wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Lampung, hingga Bengkulu.
Berdasarkan pemantauan pukul 04.00 WIB, terdapat dua klaster utama penyebaran abu vulkanik.
Klaster pertama bergerak menuju timur laut hingga selatan dengan cakupan sebagian DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan perairan sekitarnya hingga ketinggian sekitar 20.000 kaki.
Klaster kedua bergerak ke arah barat daya hingga barat laut dengan ketinggian hingga 50.000 kaki. Sebarannya mencakup sebagian Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, dan Samudra Hindia di sebelah barat Bengkulu, Lampung, serta Banten.
Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta meminta masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan guna membatasi paparan abu vulkanik.
“Kami memahami kekhawatiran warga. Langkah terpenting saat ini adalah mengurangi paparan dan melindungi keluarga, terutama anak-anak, lansia, dan anggota keluarga yang memiliki gangguan pernapasan,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Dudi Gardesi, Minggu, 6 September 2026.
BNPB Siapkan Operasi Modifikasi Cuaca
Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB telah mengambil sejumlah langkah untuk mengurangi dampak erupsi Gunung Anak Krakatau.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan pihaknya telah berkoordinasi secara intensif dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah di wilayah yang terpapar abu vulkanik.
“Kami telah melakukan video conference secara intensif untuk mengetahui perkembangan kondisi masyarakat terdampak erupsi,” ujarnya.
BNPB juga mengirimkan personel menuju sejumlah wilayah terdampak untuk memantau kondisi masyarakat secara langsung.
Kesiapan perangkat penanggulangan bencana turut menjadi perhatian, termasuk keberfungsian sirene peringatan, lokasi evakuasi, rencana kontinjensi serta ketersediaan stok makanan di tingkat provinsi, kabupaten, dan kota.
“Apabila masih dibutuhkan, bantuan dari pemerintah pusat akan kami dorong,” tutur Suharyanto.
Menurut BNPB, sejauh ini belum ada pemerintah daerah terdampak yang menetapkan status kedaruratan bencana.
Operasi Modifikasi Cuaca Digencarkan
BNPB juga menyiapkan operasi modifikasi cuaca atau OMC untuk membantu meluruhkan abu vulkanik yang tersebar di sejumlah wilayah.
Pesawat untuk pelaksanaan operasi tersebut telah disiapkan di Pondok Cabe. Pelaksanaannya dilakukan dengan mempertimbangkan faktor keamanan karena sejumlah bandara masih terdampak abu vulkanik.
“Untuk supaya kondisinya lebih kondusif terutama di DKI Jakarta, tentu saja rekan-rekan media merasa saat ini sudah banyak abu vulkanik di sekitar pemukiman kita, hari ini juga kita laksanakan operasi modifikasi cuaca,” kata Suharyanto dalam konferensi pers daring, Minggu, 6 September 2026.
Selain penyemaian awan, BNPB menyiapkan teknik water mist yang diharapkan dapat membantu menurunkan partikel abu di wilayah Jakarta, Banten, dan Lampung.
BNPB juga telah mendistribusikan kebutuhan logistik dasar, termasuk masker, kepada masyarakat di daerah terdampak.
Masyarakat Diminta Lindungi Pernapasan, Mata, dan Kulit
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengingatkan masyarakat agar tidak panik, tetapi meningkatkan perlindungan terhadap kemungkinan paparan abu vulkanik.
Paparan abu dapat berdampak terhadap sistem pernapasan, mata, dan kulit. Masyarakat disarankan mengurangi kegiatan di luar rumah, mengenakan masker dan kacamata ketika keluar rumah, serta segera membersihkan diri setelah selesai beraktivitas.
“Pada wilayah yang terpapar abu vulkanik, untuk menjaga kesehatan pernafasan, lakukan kegiatan di dalam rumah. Apabila beraktivitas di luar rumah, pastikan menggunakan masker,” ujar Budi Gunadi.
Kementerian Kesehatan juga menginstruksikan kesiapsiagaan puskesmas di daerah terdampak untuk mengantisipasi masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan.
Langkah kesiapsiagaan lainnya termasuk pengaktifan pos komando kesehatan atau Health Emergency Operation Centre (HEOC).
Berdasarkan pantauan BNPB, tiga kabupaten dilaporkan terdampak aktivitas vulkanik, yaitu Kabupaten Lampung Selatan, Kabupaten Tanggamus, dan Kabupaten Pandeglang.
Sekolah Jakarta hingga Banten Terapkan PJJ
Dampak erupsi juga menjangkau sektor pendidikan. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengatakan sekolah di wilayah yang mengalami dampak berat dapat menyesuaikan kegiatan pembelajaran berdasarkan kondisi pencemaran udara.
“Di daerah-daerah yang terdampak oleh erupsi Anak Gunung Krakatau dapat dilakukan penyesuaian pembelajaran yang dilakukan dengan mengacu pada nilai indeks standar pencemaran udara di daerah-daerah yang terdampak,” kata Mu’ti dalam jumpa pers daring, Minggu, 6 September 2026.
Menurut Mu’ti, beberapa daerah yang dilaporkan terdampak cukup berat berada di Kabupaten Serang, Banten, serta Tanggamus, Bandar Lampung, dan Lampung Selatan.
Keselamatan peserta didik, guru, dan seluruh warga sekolah menjadi pertimbangan utama dalam penerapan pembelajaran jarak jauh.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memutuskan seluruh sekolah melaksanakan PJJ mulai Senin, 7 September 2026.
“Kami ingin memastikan anak-anak tetap belajar dalam suasana yang aman dan nyaman. Karena itu, untuk sementara pembelajaran dilakukan dari rumah. Orang tua tidak perlu panik, karena proses pembelajaran tetap berjalan,” ujar Plt Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta Nahdiana.
Pemprov Banten juga menerapkan PJJ bagi SMA, SMK, dan SKh negeri maupun swasta selama tiga hari, mulai 7 hingga 9 September 2026.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten Jamaluddin mengatakan kebijakan tersebut diterapkan untuk menjaga kesehatan, keselamatan, dan kenyamanan peserta didik serta warga sekolah.
“Seluruh satuan pendidikan jenjang SMA, SMK, dan SKh Negeri dan Swasta di lingkungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten dialihkan sementara untuk melaksanakan proses Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau Belajar dari Rumah (BDR) selama 3 (tiga) hari, pada Senin sampai dengan Rabu, 7 sampai dengan 9 September 2026,” kata Jamaluddin.
Kebijakan serupa juga diberlakukan di sejumlah daerah lain, termasuk Depok dan Bogor.
Warga Diminta Waspada dan Mengikuti Informasi Resmi
BNPB mengimbau masyarakat tetap tenang, waspada, dan meningkatkan kesiapsiagaan terhadap kemungkinan perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Masyarakat juga diminta tidak mudah mempercayai disinformasi ataupun informasi yang belum dapat diverifikasi karena berpotensi menimbulkan kepanikan.
Informasi mengenai perkembangan aktivitas vulkanik diharapkan diperoleh melalui lembaga resmi seperti BNPB, PVMBG, BMKG, dan BPBD setempat.
Bagi masyarakat yang tinggal maupun beraktivitas di sekitar Selat Sunda, terutama nelayan dan wisatawan, keselamatan menjadi prioritas dengan tidak mendekati zona Gunung Anak Krakatau serta memperhatikan perkembangan kondisi udara dan perairan.
Dengan status Level III atau Siaga dan aktivitas vulkanik yang masih tinggi, pemantauan terhadap Gunung Anak Krakatau terus dilakukan. Pemerintah juga melanjutkan koordinasi lintas kementerian dan lembaga untuk mengantisipasi dampak lanjutan terhadap keselamatan masyarakat, kesehatan, pendidikan, serta transportasi.


















