Headline.co.id, Jakarta ~ Simposium tahunan Jackson Hole yang diadakan di Amerika Serikat memberikan tekanan signifikan terhadap nilai tukar rupiah. Acara yang berlangsung pada akhir Agustus 2026 ini dihadiri oleh para ekonom dan pembuat kebijakan dari seluruh dunia, termasuk dari Indonesia. Dalam pertemuan tersebut, kebijakan moneter global menjadi topik utama yang dibahas, dan hasilnya berdampak langsung pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Menurut Pasha Yudha Ernowo, seorang ekonom terkemuka, tekanan terhadap rupiah disebabkan oleh ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga yang lebih ketat dari Federal Reserve. “Pernyataan dari pejabat Federal Reserve di Jackson Hole mengindikasikan kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut, yang membuat investor global cenderung menarik dana dari pasar negara berkembang,” jelas Pasha. Hal ini menyebabkan rupiah mengalami pelemahan terhadap dolar AS.
Meskipun demikian, Pasha menambahkan bahwa Surat Utang Negara (SUN) Indonesia relatif lebih tahan terhadap gejolak ini. Stabilitas SUN didukung oleh fundamental ekonomi domestik yang kuat dan kepercayaan investor terhadap kebijakan fiskal pemerintah. “SUN tetap menjadi pilihan investasi yang menarik karena imbal hasil yang kompetitif dan risiko yang relatif terukur,” tambahnya.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Ke depan, Pasha menyarankan agar pemerintah dan Bank Indonesia terus memantau perkembangan kebijakan moneter global dan menyiapkan langkah-langkah antisipatif. “Penting untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik dan memastikan bahwa kebijakan yang diambil dapat mengurangi dampak negatif dari perubahan kebijakan global,” tutupnya. Dengan demikian, meskipun ada tekanan dari luar, Indonesia diharapkan dapat menjaga stabilitas ekonomi dan keuangan dalam jangka panjang.




















