Headline.co.id, Pada Masa Perang Kemerdekaan ~ Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) lebih banyak terlibat dalam pertempuran di darat. Setelah Konferensi Meja Bundar, ALRI mulai membangun kekuatan di laut. Namun, peran penyelam TNI AL dalam mempertahankan kemerdekaan dan kegiatan penyelaman serta penyelamatan bawah air belum banyak terungkap. Satrio Dwicahyo, M.Sc., M.A., seorang dosen sejarah dari Universitas Gadjah Mada (UGM), terlibat dalam penelitian sejarah penyelam TNI AL yang dipimpin oleh Laksamana Pertama TNI Liber Sihombing, Komandan Komando Penyelam dan Penyelamatan Bawah Air (Koppeba) Komando Armada Republik Indonesia.
Satrio, satu-satunya akademisi dalam tim tersebut, berpartisipasi dalam penelusuran sumber sejarah penyelam TNI AL di berbagai tempat, termasuk Arsip Nasional Republik Indonesia di Jakarta, Perpustakaan Universitas Leiden, dan Arsip Nasional Belanda di Den Haag. Menurutnya, menulis sejarah mirip dengan pekerjaan penyelam, yaitu menyelami sumber sejarah dan mengangkat fakta-fakta untuk menciptakan narasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Ia menekankan pentingnya perspektif yang lebih luas dalam sejarah militer Indonesia, tidak hanya berfokus pada pertempuran.
Penelitian ini menghasilkan buku berjudul “Wicak Wirèng Warih: Penyelam TNI-AL dalam Arus Sejarah Selam Indonesia”, yang mencakup sejarah penyelam TNI-AL dari tahun 1950-an hingga 2025. Frasa “Wicak Wirèng Warih” berarti “bijaksana dan berani di air” dan merupakan motto para penyelam TNI-AL. Buku ini masih dalam tahap pengkajian sebelum dipublikasikan. Atas kontribusinya, Satrio dianugerahi brevet kehormatan penyelam TNI-AL, yang dikenal sebagai brevet “Wicak Wirèng Warih” atau “Lumba-lumba Perkasa”, oleh Laksamana Pertama TNI Liber Sihombing. Brevet ini biasanya hanya diberikan kepada prajurit TNI-AL yang telah menyelesaikan pendidikan penyelam militer selama tujuh bulan di Sekolah Selam TNI-AL Surabaya.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Satrio, yang mengikuti acara penghargaan secara daring dari Belanda, merasa terhormat menerima brevet tersebut. Ia menyatakan bahwa penghargaan terbesar baginya adalah dapat menyusun literatur sejarah yang bermanfaat bagi kalangan profesional, termasuk rekan-rekan penyelam TNI-AL. Pada acara tasyakuran peringatan hari jadi Penyelam TNI-AL ke-74 pada 26 Agustus 2026, naskah buku tersebut diserahkan kepada Panglima Komando Armada Republik Indonesia, Laksamana Madya TNI Dr. Denih Hendrata, S.E., M.M.


















