Headline.co.id, Jakarta ~ Kementerian Agama (Kemenag) telah merilis 90 buku Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Bahasa Arab yang ditujukan untuk siswa madrasah. Buku-buku ini dapat diunduh secara gratis melalui situs web resmi Kemenag. Langkah ini diambil untuk memudahkan akses siswa dan guru madrasah terhadap bahan ajar berkualitas.
Buku-buku yang diterbitkan terdiri dari 58 Buku Teks Utama (BTU) untuk mata pelajaran PAI dan Bahasa Arab di Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Madrasah Aliyah (MA). Selain itu, terdapat 32 buku untuk Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Program Keagamaan. Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Amien Suyitno, menyatakan bahwa penyediaan buku ini merupakan bagian dari upaya Kemenag dalam memperkuat literasi di kalangan siswa madrasah.
Amien Suyitno menjelaskan bahwa penerbitan BTU ini adalah amanat dari Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan. Kemenag bertanggung jawab untuk menyediakan bahan ajar yang berkualitas. Proses penulisan buku-buku ini melibatkan penulis yang dipilih secara ketat, serta melalui tahap telaah dan evaluasi oleh reviewer dan penilai, dengan pengawasan dari PBAL2K Kemenag RI.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah, Nyayu Khodijah, menambahkan bahwa buku-buku ini disusun dengan pendekatan yang mudah dipahami. Materi ajar dirancang untuk membentuk karakter dan moral siswa yang kokoh. Pada jenjang MI dan MTs, materi disajikan secara interaktif untuk mengamalkan nilai-nilai Islam yang inklusif. Sementara itu, untuk siswa tingkat menengah atas, materi dirancang dengan analisis mendalam guna mempersiapkan mereka menghadapi tantangan zaman modern.
Buku Teks Utama ini juga mengintegrasikan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang mencakup Panca Cinta: Cinta Allah dan Rasul-Nya, Cinta Ilmu, Cinta Lingkungan, Cinta Diri dan Sesama Manusia, serta Cinta Tanah Air. Nyayu Khodijah menekankan bahwa murid madrasah tidak hanya dibekali pengetahuan, tetapi juga dilatih untuk berpikir dan bertindak secara moderat, menghormati budaya lokal, dan menghindari kekerasan. BTU ini dirancang sebagai dokumen hidup yang dapat disesuaikan dengan perkembangan zaman, mencakup kajian literasi tingkat tinggi dan pemahaman teologi dari berbagai perspektif.















