HEADLINE.CO.ID, JAKARTA ~ Saham Bank Central Asia atau PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dibuka menguat 50 poin atau 0,77 persen ke posisi Rp6.525 per saham pada perdagangan Senin (20/7/2026) pagi. Penguatan terjadi setelah investor asing membukukan aksi beli bersih dan muncul transaksi jumbo di pasar negosiasi pada perdagangan akhir pekan sebelumnya. Pergerakan tersebut menunjukkan meningkatnya minat terhadap BBCA ketika investor global secara umum masih mencatatkan penjualan bersih di pasar saham Indonesia.
Bank Central Asia sebelumnya menutup perdagangan Jumat (17/7/2026) dengan kenaikan 4,02 persen ke level Rp6.475 per saham. Penguatan itu membawa kapitalisasi pasar perseroan mencapai sekitar Rp799 triliun, dengan nilai transaksi di pasar reguler sebesar Rp2,04 triliun.
Aktivitas perdagangan saham Bank Central Asia pada Jumat juga diwarnai aksi beli bersih investor asing sebesar Rp698,29 miliar. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia melalui aplikasi Stockbit Sekuritas, sebanyak 319,19 juta saham BBCA diperdagangkan dengan frekuensi transaksi mencapai 56.469 kali.
Transaksi Crossing BBCA Tembus Rp1,2 Triliun
Selain transaksi di pasar reguler, saham BBCA mencatat transaksi crossing bernilai besar di pasar negosiasi Bursa Efek Indonesia. Transaksi melalui J.P. Morgan Sekuritas Indonesia dengan kode broker BK mencapai Rp1,2 triliun.
Transaksi tersebut dilakukan pada harga rata-rata Rp6.400 per saham dengan jumlah sekitar 1,9 juta lot saham. Hingga berita ini disusun, belum terdapat keterangan resmi mengenai pihak yang melakukan transaksi maupun tujuan perpindahan saham tersebut.
Transaksi lain juga difasilitasi Henan Putihrai Sekuritas dengan kode broker HP. Nilainya mencapai Rp492,8 miliar dengan harga rata-rata Rp7.400 per saham.
Masuknya dana asing ke saham BBCA menjadi perhatian karena terjadi ketika investor global masih mencatatkan penjualan bersih di pasar saham domestik. Sepanjang 2026 hingga pertengahan Juli, nilai jual bersih investor asing di pasar saham Indonesia mencapai sekitar Rp76,15 triliun.
CGS International Sekuritas menilai penguatan saham BBCA antara lain didukung ekspektasi kembalinya arus beli asing. Sentimen tersebut muncul setelah S&P mempertahankan peringkat utang Indonesia dengan prospek stabil, sehingga Indonesia tetap berada dalam kategori layak investasi atau investment grade.
Aliran dana pasif melalui iShares MSCI Indonesia ETF juga disebut menjadi salah satu faktor pendukung. Produk investasi kelolaan BlackRock Inc tersebut menempatkan BBCA sebagai konstituen dengan bobot terbesar, yakni sekitar 22 persen.
Fundamental Bank Central Asia Dinilai Tetap Kokoh
Selain dukungan arus dana asing, penguatan saham BBCA ditopang kondisi fundamental perseroan. Pada kuartal I-2026, Bank Central Asia membukukan laba bersih sebesar Rp14,7 triliun atau tumbuh 3,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan laba didukung peningkatan pendapatan nonbunga dan efisiensi biaya operasional. Namun, perseroan masih menghadapi tekanan berupa penurunan margin bunga bersih menjadi 5,4 persen serta perlambatan penyaluran kredit pada sejumlah segmen.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menilai kekuatan utama BCA tetap berada pada struktur pendanaan dan efisiensi operasionalnya.
“Meski pertumbuhan kredit melambat dan margin bunga bersih tertekan, fundamental inti BBCA tetap kuat berkat basis dana murah yang solid, struktur biaya yang efisien, serta pendekatan penyaluran kredit yang lebih selektif,” tulis Liza dalam risetnya.
Hingga Maret 2026, penyaluran kredit BCA tumbuh 5,6 persen secara tahunan menjadi sekitar Rp994 triliun. Kredit produktif tercatat sebesar Rp760,2 triliun, sedangkan pembiayaan sektor berkelanjutan mencapai Rp258,4 triliun.
Kredit usaha mikro, kecil, dan menengah tumbuh 12 persen menjadi Rp146 triliun. Sementara itu, pembiayaan sektor hijau meningkat 7,7 persen menjadi Rp113 triliun, didorong pertumbuhan kredit ke sektor energi baru dan terbarukan sebesar 53,5 persen.
Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga BCA mencapai Rp1.292,4 triliun atau meningkat 8,3 persen secara tahunan. Dana murah atau current account saving account mendominasi hingga 85,2 persen dengan nilai Rp1.089 triliun, tumbuh 11,2 persen.
Kualitas aset perseroan juga tercatat masih terjaga. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan berada di level 1,8 persen, sedangkan loan at risk tercatat sebesar 5,1 persen.
Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk Hendra Lembong mengatakan kinerja perseroan pada awal 2026 turut dipengaruhi aktivitas ekonomi selama Ramadan dan Idulfitri.
“Mengawali 2026, kinerja BCA dipengaruhi momentum Ramadan dan Idulfitri yang mendukung kinerja kredit. Tak hanya itu, BCA Expoversary 2026 yang dilaksanakan sejak Februari 2026 juga mendapatkan antusiasme tinggi dari nasabah dan masyarakat,” kata Hendra.
Ia menyatakan BCA tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam menghadapi dinamika ekonomi global.
“Kami optimistis menjaga kinerja BCA tetap solid di tengah kondisi global yang dinamis melalui pengembangan berbagai lini bisnis secara pruden,” ujarnya.
Sekuritas Pertahankan Rekomendasi Beli BBCA
Kiwoom Sekuritas Indonesia mempertahankan rekomendasi beli saham BBCA untuk jangka panjang dengan target harga Rp8.075 per saham dalam 12 bulan. Target tersebut dihitung menggunakan pendekatan gabungan Price to Book Value dan Dividend Discount Model, dengan proyeksi P/BV 2026 sebesar 3,3 kali.
Untuk perdagangan jangka pendek, KB Valbury Sekuritas memberikan rekomendasi trading buy dengan target harga Rp6.575. Area masuk disarankan berada pada rentang Rp6.275 hingga Rp6.475.
“Waspada jika harga menembus Rp6.275. Stop loss di level Rp5.975,” tulis KB Valbury Sekuritas.
BRI Danareksa Sekuritas juga merekomendasikan pembelian saham BBCA pada area Rp6.300 hingga Rp6.450. Potensi kenaikan diperkirakan menuju rentang Rp6.650 hingga Rp6.950, dengan batas penghentian kerugian apabila harga turun di bawah Rp6.200.
Meski mengalami penguatan dalam jangka pendek, saham BBCA masih terkoreksi sekitar 19,81 persen sepanjang 2026. Kondisi tersebut menunjukkan investor tetap perlu mempertimbangkan risiko pergerakan pasar, tekanan terhadap margin bunga, serta perlambatan pertumbuhan kredit sebelum mengambil keputusan investasi.
Dalam sepekan hingga Jumat (17/7/2026), saham BBCA menguat 4,86 persen dengan pergerakan pada rentang Rp6.075 hingga Rp6.500 per saham. Penguatan yang berlanjut pada pembukaan perdagangan Senin memperlihatkan bahwa aksi beli asing, transaksi jumbo, dan ketahanan fundamental masih menjadi sentimen utama bagi saham Bank Central Asia.
















