Headline.co.id, Alifia Citra Ayuningtyas ~ seorang anak sulung yang tumbuh dengan semangat dan harapan, berhasil diterima sebagai mahasiswa baru di Program Studi Agronomi, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM). Setelah kehilangan ayahnya pada tahun 2014, Alifia, yang akrab disapa Fia, dibesarkan oleh ibunya sebagai orang tua tunggal bersama dua adiknya. Pendidikan menjadi jalan bagi Fia untuk membuka peluang bagi dirinya dan keluarganya.
Sejak sekolah, Fia menyadari pentingnya pendidikan dan berhasil mendapatkan beasiswa penuh di SMA Unggulan CT ARSA Foundation. Di sekolah, ia aktif dalam berbagai kegiatan, termasuk organisasi jurnalistik dan Dewan Ambalan VI Gudep, serta menjadi English Ambassador. Fia juga meraih Juara III Lomba Business Model Canvas. Pengalaman ini memantapkan langkahnya untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi.
Fia awalnya mencoba masuk UGM melalui jalur SNBP di bidang Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian, namun belum berhasil. Tidak menyerah, ia mencoba jalur SNBT dan diterima di Program Studi Agronomi. “Saya ingat, jam 3 sore. Yang membukakan pengumuman saat itu adik saya, adik saya teriak ‘lolos kak, alhamdulillah!’ Bersyukur, saya lolos di pilihan agronomi,” ujarnya pada Jumat (17/7).
Fia memilih UGM karena pertimbangan ekonomi keluarganya. Yogyakarta dianggap lebih terjangkau dibandingkan kota lain, dan UGM menawarkan berbagai program beasiswa. Keberhasilan Fia menjadi kebanggaan bagi ibunya, Martini, yang bekerja sebagai buruh lepas dan asisten rumah tangga. Martini bersyukur atas kesempatan yang diperoleh Fia melalui beasiswa.
Martini mengungkapkan bahwa meski beasiswa telah membantu, kebutuhan sehari-hari seperti transportasi masih menjadi tantangan. Namun, ia tetap optimis dan percaya akan selalu ada jalan. “Kadang aduh gimana ya besok. Mungkin untuk beasiswanya dapat, untuk biayanya ya dari beasiswa, tetapi untuk kebutuhan sehari-hari seperti transportasi dari rumah, kan motornya cuma satu. Kalau mau ngekos pun harus ada biaya. Tapi bismillah saja dulu, bagaimana nanti Tuhan kasih jalan,” ujar Martini.
Pendidikan menjadi harapan terbesar Martini bagi anak-anaknya. Ia selalu mendukung dan mengingatkan Fia untuk tidak menyerah pada keadaan. “Pokoknya harus punya mimpi untuk pendidikan yang lebih baik. Apa pun keadaan keluargamu, jangan pernah mematahkan mimpimu. Teruslah belajar dan mengejar apa yang kamu inginkan, apa yang kamu mimpikan,” katanya.
Fia juga memberikan pesan kepada pelajar lain agar tidak menjadikan keterbatasan ekonomi sebagai alasan untuk mengubur mimpi. “Keterbatasan ekonomi bukan berarti teman-teman harus membatasi impian. Tetap semangat dan jangan menyerah. Teman-teman masih punya banyak jalan dan akan bertemu dengan banyak orang baik yang bisa membantu, memberikan arahan, atau membuka kesempatan yang mungkin tidak pernah kita bayangkan sebelumnya,” ujarnya.
Fia mengajak pelajar untuk berani mengambil setiap kesempatan yang datang. “Jangan takut untuk mencoba semua hal. Meskipun kita belum tahu hasilnya seperti apa, suatu hari nanti pengalaman itu akan menjadi cerita, penyemangat, atau membentuk karakter kita menjadi lebih kuat. Jadi, jangan takut bermimpi setinggi apa pun, karena selalu ada jalan bagi mereka yang terus berusaha,” tutupnya.
Kerja keras Fia dan ibunya membuahkan hasil. Selain diterima di UGM, Fia juga mendapatkan beasiswa dari ParagonCorp, yang mencakup dana awal Rp5 juta, laptop, pembiayaan kuliah hingga lulus, dan kesempatan mengikuti program pengembangan kepemimpinan. Sekretaris Universitas UGM, Dr. Andi Sandi Antonius Tabusassa Tonralipu, mengapresiasi perjuangan Fia dan keluarganya. “If you have a dream, you can fight for it. Kami mengucapkan selamat kepada Fia dan Ibu. Karena Fia adalah anak sulung, jangan jadikan itu sebagai beban, tetapi jadikan sebagai motivasi untuk menjadi teladan. Jangan pernah berkecil hati karena setiap orang memiliki talenta masing-masing. Sekarang jalannya sudah terbuka, tetapi ini bukan akhir dari perjuangan, melainkan titik tengah dari perjalanan yang masih panjang,” pungkas Andi.




















