Headline.co.id, Pangandaran ~ Indonesia memperingati dua dekade sejak terjadinya gempa bumi dan tsunami di Pangandaran pada 17 Juli 2006. Peristiwa ini menjadi momen refleksi nasional untuk menilai kemajuan dalam membangun ketangguhan pesisir dan merumuskan strategi perlindungan yang lebih kuat bagi masyarakat. Dalam webinar peringatan tersebut, Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyatakan bahwa tragedi 17 Juli 2006 merupakan titik balik penting dalam sejarah kebencanaan Indonesia. Ia mengingatkan bahwa setelah tsunami Aceh 2004, Indonesia menyadari masih adanya kekurangan dalam sistem peringatan dini tsunami yang komprehensif dari hulu hingga hilir.
Teuku Faisal Fathani mengungkapkan bahwa dari kesedihan mendalam tersebut, kebijakan mitigasi tsunami nasional telah mengalami transformasi signifikan selama 20 tahun terakhir. Salah satu pencapaian terbesar yang ia soroti adalah kemajuan pesat dalam sistem peringatan dini tsunami Indonesia, yaitu Indonesian Tsunami Early Warning System (Ina-TEWS). “Kemajuan ini merupakan hasil dari kerja keras dan kolaborasi berbagai pihak,” ujarnya.
Meskipun teknologi sudah semakin canggih, Kepala BMKG menekankan bahwa kecanggihan teknologi tidak akan efektif menyelamatkan nyawa jika tidak terhubung dengan komunitas di tingkat hilir. “Teknologi harus diimbangi dengan pemahaman dan tindakan cepat dari masyarakat,” tegas Faisal. Ia menambahkan bahwa informasi peringatan dini harus dipahami dengan baik dan segera diikuti dengan tindakan yang tepat oleh pemerintah daerah dan masyarakat.
Selain itu, menurutnya, kesiapan dalam detik-detik kritis adalah kunci dari rantai keselamatan tsunami. Untuk itu, ia mendorong penguatan melalui edukasi berkelanjutan dan simulasi rutin, kolaborasi lintas sektor yang kuat, serta promosi program Tsunami Ready Community agar budaya sadar bencana berakar kuat di setiap warga. Menutup pernyataannya, Teuku Faisal Fathani mengingatkan bahwa tantangan alam di masa depan tidak akan berkurang. Namun, dengan persatuan dan sinergi antar semua sektor, Indonesia dapat membangun ketangguhan nasional yang jauh lebih kuat. “Kita harus terus bersatu dan bekerja sama untuk menghadapi tantangan ini,” pungkasnya.

















