Headline.co.id, Jakarta ~ Ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku obat (BBO) yang mencapai sekitar 90 persen menjadi tantangan besar bagi ketahanan kesehatan nasional. Untuk mengatasi hal ini, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat kolaborasi lintas sektor guna mempercepat pengembangan dan hilirisasi bahan baku obat produksi dalam negeri. Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN, NLP Indi Dharmayanti, menegaskan bahwa kemandirian bahan baku obat tidak bisa hanya mengandalkan kapasitas riset. Sinergi lembaga penelitian, pemerintah, perguruan tinggi, regulator, dan industri diperlukan agar inovasi dapat dihilirisasikan menjadi produk yang siap dimanfaatkan masyarakat.
Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan, Lucia Rizka Andalucia, menyatakan bahwa pengembangan bahan baku obat harus menjadi bagian dari strategi memperkuat ketahanan kesehatan nasional. Meskipun Indonesia telah mampu memproduksi sedikitnya 42 jenis bahan baku obat, kebutuhan untuk obat-obatan prioritas nasional masih didominasi produk impor. Lucia menekankan pentingnya pengembangan bahan baku obat yang diselaraskan dengan kebutuhan penyakit prioritas di Indonesia, seperti kanker, penyakit jantung, dan stroke, untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan luar negeri.
Pendekatan Riset dan Tantangan Industri
Yos Sunitiyoso, Direktur Hilirisasi dan Kemitraan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, menilai bahwa ekosistem riset bahan baku obat masih terlalu berorientasi pada pendekatan technology push. Ia menyarankan agar pendekatan riset bergeser menjadi demand pull, yang berangkat dari kebutuhan nyata industri dan pemerintah. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan peluang hilirisasi dan Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) melalui dukungan pendanaan dan kolaborasi lintas sektor.
Pelaku industri farmasi menghadapi tantangan dalam penggunaan bahan baku obat lokal, seperti skala pasar yang terbatas dan dominasi produk impor. Industri membutuhkan kepastian pasokan bahan baku, kualitas produk yang konsisten, serta keberlanjutan produksi sebelum mengadopsi hasil riset dalam negeri.
Kebijakan Pemerintah dan Konsorsium Riset
Wiwik Pudjiastuti, Direktur Industri Kimia Hulu Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Kementerian Perindustrian, menyatakan bahwa pemerintah tengah memperkuat kebijakan untuk meningkatkan penggunaan bahan baku obat produksi dalam negeri. Langkah ini termasuk integrasi produk lokal ke dalam sistem pengadaan nasional dan penyusunan tata niaga yang memberikan kepastian usaha bagi industri farmasi.
Sebagai hasil forum, BRIN menegaskan bahwa penguatan kemandirian bahan baku obat harus menjadi agenda strategis nasional. Pembentukan konsorsium riset dan inovasi bahan baku obat yang melibatkan kementerian, perguruan tinggi, industri, serta lembaga pendanaan diharapkan dapat mempercepat hilirisasi hasil penelitian dan memperkuat daya saing industri farmasi Indonesia.



















