Headline.co.id, Jakarta ~ Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) bersama BKKBN memperkenalkan transformasi Program Bina Keluarga Balita (BKB) menjadi Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA) sebagai langkah strategis untuk memperkuat pengasuhan anak di Indonesia. Inisiatif ini diharapkan dapat mendukung percepatan penurunan stunting dan optimalisasi bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045. Hal ini disampaikan oleh Fasli Jalal, Rektor Universitas YARSI dan mantan Kepala BKKBN Pusat, dalam sebuah acara di Jakarta pada Rabu (8/7/2026).
Transformasi ini dianggap penting mengingat Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam pembangunan kualitas anak, seperti tingginya angka stunting dan rendahnya cakupan imunisasi. Fasli Jalal menekankan bahwa investasi terbaik bagi bangsa adalah pada anak usia dini, terutama selama 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yang merupakan periode krusial dalam pembentukan kesehatan, karakter, dan kemampuan belajar anak.
Pentingnya Pengasuhan Berkualitas
Fasli Jalal menjelaskan bahwa penguatan pengasuhan anak menjadi semakin penting seiring dengan bonus demografi yang dinikmati Indonesia hingga 2045. Menurutnya, momentum ini hanya akan bermanfaat jika kualitas pengasuhan mampu melahirkan generasi yang sehat, produktif, dan berdaya saing. Program BKB yang telah berjalan lebih dari empat dekade telah meningkatkan pengetahuan orang tua mengenai pengasuhan, kesehatan balita, dan stimulasi tumbuh kembang anak. Namun, tantangan saat ini adalah mengubah pengetahuan tersebut menjadi praktik pengasuhan yang konsisten di lingkungan keluarga.
Perubahan Paradigma Pengasuhan
Transformasi BKB menjadi TAMASYA tidak hanya sekadar perubahan nama, tetapi juga perubahan paradigma pengasuhan dari mothering menjadi parenting yang melibatkan ayah, ibu, keluarga besar, pengasuh, komunitas, pemerintah, dan dunia usaha. Melalui TAMASYA, layanan pengasuhan diperluas hingga mencakup tempat penitipan anak di kawasan industri, perkantoran, pasar, sentra pertanian, dan ruang publik lainnya.
Kolaborasi dan Teknologi dalam Pengasuhan
Fasli Jalal juga menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi digital, peningkatan kompetensi pengasuh, serta penguatan kolaborasi lintas sektor pemerintah, fasilitas kesehatan, satuan pendidikan, organisasi masyarakat, dan dunia usaha. “Kolaborasi ini penting agar layanan pengasuhan dapat berjalan lebih efektif,” ujarnya.
Dengan transformasi ini, diharapkan pengasuhan anak di Indonesia dapat lebih adaptif terhadap tantangan era modern, sekaligus mendukung pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas di masa depan.















