Headline.co.id, Bantul ~ Tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) tengah berupaya mengembangkan produksi benih kedelai lokal guna mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor kedelai. Langkah ini dilakukan melalui program Smart Agricultural Enterprise (SAE) Kedelai yang bertujuan membangun ekosistem kedelai terintegrasi. Program ini mencakup penyediaan benih unggul, pendampingan petani, dan penguatan rantai pasok. Pada Rabu (1/7), Dr. Atris Suyantohadi, anggota tim peneliti, menyatakan bahwa benih yang dikembangkan telah memenuhi standar sertifikasi Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) Yogyakarta.
Indonesia, sebagai salah satu konsumen kedelai terbesar di dunia, masih bergantung pada impor untuk memenuhi sekitar 90 persen dari kebutuhan nasional sebesar 2,7 juta ton per tahun. Menyadari hal ini, UGM berinisiatif mengembangkan kedelai lokal dengan meningkatkan produktivitas dan kualitasnya. “Kami memulainya secara bertahap melalui kelompok-kelompok penangkar benih,” ujar Atris. Pengembangan ini tidak hanya fokus pada peningkatan produksi, tetapi juga membangun ekosistem yang menghubungkan petani, industri, dan pasar.
Pendampingan Petani dan Kepastian Pasar
Tim peneliti UGM juga melakukan pendampingan kepada kelompok tani di berbagai daerah seperti Grobogan, Bantul, dan Kulon Progo. Pendampingan ini bertujuan memastikan petani memiliki kepastian pasar melalui kemitraan dengan off-taker industri. Atris menjelaskan bahwa pada tahun 2026, kedelai dari petani binaan UGM berhasil mendapatkan sertifikasi keamanan pangan. CV Java Agro Prima menjadi off-taker yang menyerap hasil panen petani dan memastikan produk memenuhi standar keamanan pangan.
Pemanfaatan Teknologi dalam Budidaya Kedelai
Untuk meningkatkan daya saing kedelai lokal, UGM memperkenalkan teknologi modern dalam budidaya, termasuk pemanfaatan Internet of Things (IoT) untuk memantau mutu benih secara real-time. Atris menekankan pentingnya teknologi dalam menghasilkan produk yang memenuhi kebutuhan pasar global. “Ke depan, kami membayangkan adanya gudang modern dan sistem budidaya yang mumpuni,” tambahnya.
Kerja Sama dengan Pemerintah
Dalam pertemuan dengan Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Kementerian Pertanian RI berencana bekerja sama dengan UGM untuk mendorong produksi kedelai lokal. Varietas kedelai yang dikembangkan UGM dinilai unggul karena bersifat non-GMO dan memiliki ukuran biji lebih besar dibandingkan kedelai impor. Pemerintah berencana mengawal uji coba pengembangan kedelai di lahan seluas 1.000-2.000 hektare di Jawa Tengah.
Pengembangan ekosistem kedelai oleh UGM merupakan bagian dari upaya mengaktualisasikan tri dharma perguruan tinggi. Atris menegaskan bahwa riset ini bertujuan menjawab persoalan nyata di masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan petani melalui peningkatan nilai ekonomi kedelai lokal. “Harapannya, hasil-hasil hilirisasi ini dapat dirasakan masyarakat,” tutupnya.





















