Headline.co.id, Yogyakarta ~ Transformasi digital yang dijalankan berbagai organisasi belum tentu berujung pada peningkatan kinerja meski didukung teknologi modern dan investasi besar. Dosen Program Studi S1 Sistem Informasi Universitas Alma Ata, Raden Nur Rachman Dzakiyullah, S.Kom., M.Sc., Ph.D., menegaskan bahwa keberhasilan transformasi digital justru ditentukan oleh kemampuan organisasi menyelaraskan teknologi dengan budaya kerja yang telah berkembang. Hal itu disampaikannya saat ditemui Headline.co.id di ruang Dosen Sistem Informasi Universitas Alma Ata.
Menurut Raden, masih banyak organisasi yang memandang transformasi digital hanya sebagai proses pengadaan teknologi baru, seperti pengembangan perangkat lunak, digitalisasi layanan, atau integrasi sistem. Padahal, perubahan tersebut juga harus diiringi dengan penyesuaian cara kerja dan perilaku organisasi.
“Transformasi digital tidak dapat dipahami hanya sebagai proses teknologi, tetapi juga sebagai proses sosial yang mempengaruhi dinamika organisasi secara keseluruhan. Implementasi sistem informasi harus mempertimbangkan konteks sosial organisasi, termasuk nilai, norma, serta praktik kerja yang berkembang dalam organisasi,” ujarnya.
Keselarasan Teknologi dan Budaya Kerja Jadi Penentu
Raden menjelaskan bahwa teknologi hanyalah salah satu komponen dalam transformasi digital. Faktor yang lebih menentukan adalah bagaimana teknologi tersebut diterima dan digunakan oleh orang-orang di dalam organisasi.
Menurutnya, banyak organisasi telah menginvestasikan sumber daya yang besar untuk membangun sistem informasi. Namun, hasilnya tidak optimal karena sistem yang diterapkan tidak sesuai dengan kebiasaan kerja para penggunanya.
“Keberhasilan implementasi sistem informasi sangat bergantung pada keselarasan antara sistem sosial dan sistem teknis. Jika teknologi yang dikembangkan tidak sesuai dengan praktik kerja organisasi, maka pengguna cenderung menolak atau menghindari penggunaan sistem tersebut,” katanya.
Ia menambahkan, kondisi tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan transformasi digital tidak cukup diukur dari keberhasilan implementasi teknologi, tetapi juga dari kemampuan organisasi mengelola perubahan yang ditimbulkan.
Sistem Informasi Harus Dibangun Sesuai Kebutuhan Organisasi
Dalam pandangan Raden, setiap organisasi memiliki karakteristik budaya kerja yang berbeda. Karena itu, desain sistem informasi juga tidak dapat disamaratakan.
Ia menjelaskan bahwa organisasi dengan budaya kerja yang bersifat hierarkis membutuhkan sistem yang mendukung proses persetujuan secara berjenjang. Sebaliknya, organisasi dengan budaya kolaboratif lebih membutuhkan sistem yang memudahkan komunikasi dan pertukaran informasi secara terbuka.
“Hasil analisis budaya kerja kemudian dapat digunakan untuk menentukan kebutuhan desain sistem informasi yang sesuai dengan konteks organisasi,” jelasnya.
Oleh sebab itu, analisis terhadap budaya organisasi perlu dilakukan sebelum proses pengembangan sistem dimulai. Langkah tersebut dapat dilakukan melalui observasi proses kerja, wawancara dengan pimpinan maupun karyawan, serta analisis terhadap prosedur kerja yang telah berjalan.
Pendekatan Sosio-Teknis Dinilai Lebih Efektif
Raden mengatakan bahwa pengembangan sistem informasi saat ini tidak lagi hanya berorientasi pada aspek teknis. Pendekatan socio-technical system menjadi salah satu metode yang banyak digunakan karena mengintegrasikan faktor manusia dan teknologi dalam satu kerangka pengembangan.
“Sistem sosial mencakup manusia, nilai, norma, serta hubungan kerja dalam organisasi, sedangkan sistem teknis mencakup teknologi, perangkat lunak, serta infrastruktur informasi yang digunakan untuk mendukung proses kerja,” katanya.
Menurutnya, ketika kedua aspek tersebut berjalan selaras, organisasi akan lebih mudah mengadopsi teknologi baru dan memanfaatkan sistem informasi secara maksimal untuk meningkatkan efektivitas kerja.
Manajemen Perubahan Tidak Boleh Diabaikan
Selain memperhatikan desain sistem, Raden juga menekankan pentingnya penerapan manajemen perubahan atau change management dalam setiap proyek transformasi digital.
Ia menilai resistensi pengguna terhadap sistem baru sering muncul karena kurangnya pemahaman mengenai manfaat teknologi, kekhawatiran terhadap perubahan peran pekerjaan, maupun keterbatasan kemampuan digital.
“Untuk mengurangi resistensi terhadap perubahan, organisasi dapat menerapkan beberapa strategi seperti sosialisasi manfaat sistem informasi, pelatihan pengguna, pembentukan champion user, serta dukungan aktif dari pimpinan organisasi,” ujarnya.
Menurut Raden, keterlibatan pengguna sejak tahap awal pengembangan sistem juga menjadi langkah penting agar sistem yang dibangun benar-benar sesuai dengan kebutuhan organisasi sekaligus meningkatkan rasa memiliki terhadap teknologi yang akan digunakan.
Transformasi Digital Harus Dimulai dari Manusia
Raden menegaskan bahwa teknologi bukan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan transformasi digital. Organisasi juga harus membangun budaya kerja yang terbuka terhadap perubahan dan mendukung kolaborasi.
“Pengembang sistem tidak hanya perlu memahami kebutuhan teknis organisasi, tetapi juga perlu mempertimbangkan nilai, norma, dan praktik kerja yang berkembang dalam organisasi agar teknologi yang dikembangkan dapat digunakan secara efektif oleh para pengguna,” pungkasnya.
Ia menilai bahwa transformasi digital akan memberikan dampak nyata apabila organisasi mampu mengintegrasikan teknologi dengan budaya kerja, sehingga perubahan yang terjadi tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga meningkatkan kualitas proses bisnis dan pengambilan keputusan secara berkelanjutan.
You have not enough Humanizer words left. Upgrade your Surfer plan.























