Headline.co.id, Yogyakarta ~ Besarnya investasi yang dikeluarkan organisasi untuk membangun sistem informasi tidak selalu berbanding lurus dengan keberhasilan transformasi digital. Dosen Program Studi S1 Sistem Informasi Universitas Alma Ata, Raden Nur Rachman Dzakiyullah, S.Kom., M.Sc., Ph.D., mengungkapkan bahwa banyak proyek teknologi bernilai miliaran rupiah gagal memberikan manfaat optimal karena organisasi hanya berfokus pada aspek teknis dan mengabaikan budaya kerja. Pernyataan tersebut disampaikan saat ditemui Headline.co.id di ruang Dosen Sistem Informasi Universitas Alma Ata, Jumat (26/6/2026).
Menurut Raden Nur Rachman Dzakiyullah, kegagalan implementasi sistem informasi bukan semata-mata disebabkan oleh kualitas perangkat lunak atau teknologi yang digunakan, melainkan karena sistem yang dibangun tidak selaras dengan cara kerja organisasi sehari-hari.
“Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kesuksesan implementasi sistem informasi bukan hanya ditentukan dari segi kualitas teknologi yang digunakan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, banyak organisasi telah mengalokasikan anggaran yang besar untuk mengembangkan sistem informasi dengan harapan dapat meningkatkan efisiensi, transparansi, dan kualitas pengambilan keputusan. Namun, manfaat tersebut sering kali tidak tercapai karena rendahnya tingkat penerimaan pengguna terhadap sistem yang diterapkan.
Budaya Kerja Sering Menjadi Akar Permasalahan
Raden menilai penyebab utama kegagalan implementasi sistem informasi justru berasal dari faktor organisasi, seperti budaya kerja, pola komunikasi, hingga struktur kerja yang telah terbentuk selama bertahun-tahun.
“Banyak organisasi yang telah menginvestasikan sumber daya yang besar untuk pengembangan sistem informasi tetapi tidak memperoleh manfaat yang optimal karena rendahnya tingkat penerimaan pengguna terhadap sistem tersebut,” katanya.
Ia menambahkan, ketika sistem baru tidak sesuai dengan kebiasaan kerja yang telah berlangsung lama, pengguna cenderung enggan memanfaatkannya secara maksimal. Akibatnya, investasi teknologi yang besar tidak menghasilkan peningkatan produktivitas sebagaimana yang diharapkan.
Sistem Informasi Bukan Sekadar Perangkat Lunak
Menurut Raden, transformasi digital harus dipandang sebagai proses perubahan organisasi secara menyeluruh, bukan sekadar implementasi perangkat lunak baru.
“Transformasi digital tidak dapat dipahami hanya sebagai proses teknologi, tetapi juga sebagai proses sosial yang mempengaruhi dinamika organisasi secara keseluruhan,” jelasnya.
Ia menerangkan bahwa sistem informasi dapat mengubah pola komunikasi, mempercepat arus informasi, hingga memengaruhi mekanisme pengambilan keputusan dalam organisasi. Karena itu, setiap implementasi teknologi harus mempertimbangkan nilai, norma, dan praktik kerja yang telah berkembang.
Pendekatan Sosio-Teknis Jadi Solusi
Dalam rekayasa sistem informasi, Raden menilai pendekatan socio-technical system menjadi salah satu strategi paling efektif untuk meningkatkan keberhasilan implementasi teknologi.
“Keberhasilan implementasi sistem informasi sangat bergantung pada keselarasan antara sistem sosial dan sistem teknis. Jika teknologi yang dikembangkan tidak sesuai dengan praktik kerja organisasi, maka pengguna cenderung menolak atau menghindari penggunaan sistem tersebut,” ungkapnya.
Pendekatan tersebut menempatkan manusia sebagai bagian penting dalam pengembangan sistem, sehingga desain teknologi disusun berdasarkan kebutuhan pengguna, pola komunikasi, hingga karakteristik organisasi.
Menurutnya, sistem yang dibangun dengan mempertimbangkan kondisi nyata di lapangan akan lebih mudah diterima dan dimanfaatkan oleh seluruh pengguna.
Libatkan Pengguna Sejak Tahap Pengembangan
Raden juga menekankan pentingnya melibatkan pengguna sejak awal proses pengembangan sistem informasi. Langkah ini dinilai mampu meningkatkan rasa memiliki terhadap sistem sekaligus menghasilkan desain yang lebih sesuai dengan kebutuhan organisasi.
Selain itu, analisis budaya kerja perlu dilakukan melalui observasi, wawancara, maupun kajian terhadap proses bisnis organisasi sebelum sistem dikembangkan.
“Hasil analisis budaya kerja kemudian dapat digunakan untuk menentukan kebutuhan desain sistem informasi yang sesuai dengan konteks organisasi,” katanya.
Ia mencontohkan, organisasi dengan budaya kerja yang bersifat hierarkis membutuhkan sistem dengan mekanisme persetujuan berjenjang, sedangkan organisasi yang lebih kolaboratif memerlukan fitur yang mendukung komunikasi terbuka dan berbagi informasi secara cepat.
Perubahan Harus Dikelola dengan Baik
Selain membangun sistem yang sesuai dengan budaya organisasi, Raden menilai keberhasilan transformasi digital juga ditentukan oleh kemampuan organisasi dalam mengelola perubahan.
Menurutnya, resistensi terhadap sistem baru umumnya muncul karena kurangnya pemahaman pengguna, kekhawatiran terhadap perubahan peran pekerjaan, maupun keterbatasan kemampuan digital.
“Untuk mengurangi resistensi terhadap perubahan, organisasi dapat menerapkan beberapa strategi seperti sosialisasi manfaat sistem informasi, pelatihan pengguna, pembentukan champion user, serta dukungan aktif dari pimpinan organisasi,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa investasi teknologi akan memberikan manfaat maksimal apabila organisasi mampu menyelaraskan pengembangan sistem dengan budaya kerja yang dimiliki.
“Pengembang sistem tidak hanya perlu memahami kebutuhan teknis organisasi, tetapi juga perlu mempertimbangkan nilai, norma, dan praktik kerja yang berkembang dalam organisasi agar teknologi yang dikembangkan dapat digunakan secara efektif oleh para pengguna,” pungkasnya.





















