Highlight Berita Risiko Banjir Bandang di Sigi:
PALU – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Tengah melakukan langkah mitigasi untuk menekan risiko banjir bandang pascagempa magnitudo 6,7 yang mengguncang Kabupaten Sigi pada 16 Juni 2026. Upaya tersebut dilakukan dengan membuka saluran air pada empat bendungan alami yang terbentuk akibat longsor di kawasan perbukitan. Penanganan dilakukan setelah ditemukan potensi penumpukan air yang dapat mengancam wilayah hilir apabila bendungan alami tersebut jebol. Langkah ini dilakukan di sejumlah lokasi terdampak, termasuk kawasan sekitar Desa Lembantongoa, Kecamatan Palolo.
Direktur Dukungan Sumber Daya Darurat BNPB, Agus Riyanto, mengatakan tim gabungan telah bergerak membuat parit atau saluran air untuk mengurangi genangan yang terbentuk di area hulu.
“Kemarin terkait temuan lubang-lubang air tampungan di atas (natural dam), tim sudah mulai bergerak membuat parit atau saluran agar air tidak menampung di atas,” kata Agus di Kantor BPBD Sulawesi Tengah, Jalan MT Haryono, Kelurahan Besusu Tengah, Kecamatan Palu Timur, Kota Palu, Senin (22/6/2026).
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mitigasi setelah BNPB mencatat sedikitnya 24 titik longsor pascagempa di kawasan perbukitan Kabupaten Sigi. Dari jumlah tersebut, empat titik membentuk bendungan alami akibat material tanah, batu, dan vegetasi yang menutup aliran air.
Ancaman Bendungan Alami Pascagempa
Menurut Agus, fenomena bendungan alami merupakan salah satu dampak ikutan yang kerap muncul setelah gempa bumi. Material longsoran yang menutup aliran sungai atau mata air berpotensi membentuk genangan besar apabila tidak segera ditangani.
“Jadi, 24 titik itu, biasanya setelah gempa ada efek ikutannya, salah satunya longsoran pohon dan material lainnya yang menutupi aliran sungai di hulu atau mata air yang lambat laun akan menjadi danau alami kalau tidak segera diatasi,” ujarnya.
Ia menegaskan kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko banjir bandang apabila debit air terus bertambah dan bendungan alami tidak mampu menahan tekanan air.
Sebagai langkah penanganan, BNPB juga telah mengerahkan alat berat ke sejumlah titik longsor yang berada dekat dengan episentrum gempa. Salah satu lokasi yang menjadi perhatian berada di Desa Lembantongoa, Kecamatan Palolo.
“Dari BPBD Provinsi, kami melihat sendiri dampak longsoran di bukit-bukit sekitar Desa Lembantongoa. Kami juga sudah menerjunkan alat berat. Intinya, sampai saat ini kondisi semakin baik, tetapi tidak menutup kemungkinan jika ada temuan lain, kami langsung tindak lanjuti,” kata Agus.
Temuan Awal Berasal dari Pemantauan Drone
Indikasi terbentuknya bendungan alami pertama kali ditemukan oleh Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu melalui pemantauan udara menggunakan drone. Temuan tersebut kemudian ditindaklanjuti oleh BNPB dan BPBD dengan melakukan kajian lapangan serta upaya pengaliran kembali air secara alami.
Agus menjelaskan bahwa penanganan dilakukan bukan dengan menghilangkan aliran sungai, melainkan mengurai sumbatan agar aliran kembali normal.
“Alhamdulillah, sejak awal Balai Nasional Lore Lindu menemukan indikasi bibit danau alami melalui drone. Karena itu, kita antisipasi dengan mengalirkan air secara alami untuk mencegah sumbatan dengan membuat parit. Jadi, kita tidak menghilangkan aliran sungai itu karena memang aliran alami, tetapi kita urai agar mengalir seperti biasanya,” ujarnya.
BNPB juga mencontohkan kasus Bendung Wai Ela di Maluku yang terbentuk akibat bendungan alami dan pernah menimbulkan ancaman banjir bandang ketika volume air terus meningkat.
Empat Kubangan Raksasa Jadi Perhatian
Selain bendungan alami, BNPB juga menaruh perhatian terhadap kemunculan empat kubangan raksasa di Kecamatan Nokilalaki, Kabupaten Sigi. Kubangan tersebut terbentuk akibat pergerakan tanah dan longsor di kawasan hulu sungai yang sebagian berada di wilayah Taman Nasional Lore Lindu.
Keberadaan kubangan itu dinilai berpotensi meningkatkan risiko banjir bandang, terutama apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi di kawasan hulu yang tanahnya masih labil pascagempa.
Penanganan dilakukan dengan mempertimbangkan aspek mitigasi bencana sekaligus menjaga kelestarian kawasan konservasi. Pemerintah Kabupaten Sigi bersama instansi terkait juga melakukan kajian lapangan dan koordinasi untuk mengantisipasi dampak lanjutan, termasuk kemungkinan gangguan terhadap sumber air bersih masyarakat.
Dampak Gempa dan Aktivitas Susulan Masih Tinggi
Gempa tektonik dangkal berkekuatan M 6,7 yang terjadi pada 16 Juni 2026 menyebabkan kerusakan luas di sejumlah wilayah Sulawesi Tengah.
Berdasarkan data BPBD Sulawesi Tengah per 21 Juni 2026 pukul 10.00 Wita, bencana tersebut mengakibatkan tiga orang meninggal dunia, 109 orang mengalami luka ringan, dan 17 orang mengalami luka berat.
Selain korban jiwa, sebanyak 2.528 unit rumah mengalami kerusakan, terdiri dari 2.335 unit di Kabupaten Sigi, 88 unit di Kota Palu, 87 unit di Kabupaten Parigi Moutong, dan 18 unit di Kabupaten Poso.
Jumlah warga terdampak mencapai 2.884 kepala keluarga (KK) atau 8.871 jiwa. Kabupaten Sigi menjadi wilayah dengan dampak terbesar, yakni 2.775 KK atau 8.586 jiwa.
Di tengah proses pemulihan, aktivitas kegempaan masih berlangsung. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat hingga 21 Juni 2026 telah terjadi 1.176 kali gempa susulan. Magnitudo terbesar mencapai 5,3 dan sekitar 49 kali guncangan dilaporkan dirasakan langsung oleh masyarakat.
Saat ini, Pemerintah Kabupaten Sigi masih memberlakukan status tanggap darurat bencana selama 14 hari, terhitung sejak 17 hingga 30 Juni 2026, sembari melanjutkan pemantauan dan mitigasi terhadap potensi bencana susulan, termasuk risiko banjir bandang di kawasan hulu sungai.























