Highlight Berita Amalan Pembuka Tahun Hijriah:
Headline.co.id, Jakarta ~ Memasuki bulan Muharram, umat Islam dianjurkan memperbanyak amalan pembuka tahun Hijriah sebagai bentuk syukur, muhasabah, sekaligus ikhtiar meraih keberkahan hidup. Momentum pergantian tahun baru Islam tidak hanya dimaknai sebagai perubahan penanggalan, tetapi juga kesempatan memperbaiki diri melalui ibadah yang memiliki landasan dalil kuat dari Al-Qur’an dan hadits. Berbagai amalan tersebut dapat dilakukan sepanjang bulan Muharram sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Bulan Muharram sendiri merupakan salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT. Dalam berbagai riwayat, Rasulullah SAW memberikan perhatian khusus terhadap ibadah yang dilakukan pada bulan ini. Karena itu, amalan pembuka tahun Hijriah menjadi salah satu bentuk implementasi nyata untuk mengawali tahun baru Islam dengan semangat memperbaiki kualitas keimanan dan ketakwaan.
Berbekal sejumlah dalil dari Al-Qur’an, hadits shahih, serta penjelasan para ulama, umat Muslim dapat menjadikan amalan pembuka tahun Hijriah sebagai pedoman untuk menyusun langkah spiritual sepanjang tahun. Mulai dari puasa sunnah hingga memperbanyak amal saleh, seluruhnya diarahkan untuk menghadirkan keberkahan dan optimisme dalam menjalani kehidupan.
Puasa Sunnah di Bulan Muharram Menjadi Amalan Utama
Salah satu amalan paling dianjurkan saat memasuki tahun baru Islam adalah memperbanyak puasa sunnah sepanjang bulan Muharram.
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baik puasa setelah bulan Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, Al-Muharram. Dan sebaik-baik shalat setelah shalat fardhu adalah shalat malam.” (HR. Muslim No. 1163).
Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam bukunya Keutamaan Asyura dan Bulan Muharram menjelaskan bahwa penyandaran Muharram kepada Allah dengan sebutan Syahrullah merupakan bentuk pengagungan khusus.
Sementara itu, Ustadz Said Yai dalam Bulan Muharram dan Keutamaan Berpuasa di Dalamnya menerangkan bahwa para ulama sepakat Muharram menjadi waktu terbaik untuk memperbanyak puasa sunnah secara mutlak. Meski demikian, Rasulullah SAW tidak berpuasa sebulan penuh sehingga umat Islam dapat mengamalkannya melalui puasa Senin-Kamis maupun puasa Daud.
Puasa Tasu’a dan Asyura Memiliki Keutamaan Besar
Selain puasa sunnah secara umum, terdapat dua hari istimewa di bulan Muharram, yakni puasa Tasu’a pada 9 Muharram dan puasa Asyura pada 10 Muharram.
Rasulullah SAW bersabda:
“…Dan puasa pada hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar ia menghapuskan dosa tahun yang berlalu.” (HR. Muslim No. 1162).
Tentang puasa Tasu’a, Nabi SAW bersabda:
“Seandainya aku masih hidup tahun depan, niscaya sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan.” (HR. Muslim No. 1134).
Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menjelaskan bahwa puasa Asyura menjadi sarana penghapus dosa-dosa kecil selama setahun sebelumnya. Sementara puasa Tasu’a disyariatkan sebagai bentuk penyelisihan terhadap tradisi Yahudi dan Nasrani yang hanya mengagungkan tanggal 10 Muharram.
Muhasabah dan Taubat Nasuha di Awal Tahun
Awal tahun Hijriah juga menjadi momentum tepat untuk melakukan evaluasi diri dan memperbanyak taubat.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan… di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam bulan yang empat itu…” (QS. At-Taubah: 36).
Dalam Bimbingan Islam Seputar Bulan Muharram, Tim Bimbingan Islam menjelaskan tafsir Ibnu Abbas bahwa dosa yang dilakukan pada bulan-bulan haram memiliki ancaman lebih berat, sebagaimana pahala amal saleh juga dilipatgandakan.
Karena itu, meninggalkan kemaksiatan serta memperbaiki hubungan dengan sesama menjadi bagian penting dari amalan pembuka tahun Hijriah.
Menjaga Kemurnian Tauhid dan Meninggalkan Khurafat
Sebagian masyarakat masih mengaitkan Muharram atau bulan Suro dengan berbagai mitos dan ritual tertentu. Padahal, Islam mengajarkan agar umatnya menjauhi keyakinan yang tidak memiliki dasar syariat.
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak ada ‘Adwa (keyakinan adanya penularan penyakit dengan sendirinya tanpa takdir Allah), tidak ada Thiyarah (menganggap sial pada sesuatu)…” (HR. Bukhari No. 5707).
Abu Abdillah Syahrul Fatwa bin Lukman dalam bukunya Muharram Bulan Keramat, Mitos atau Realita? menyoroti berbagai praktik yang dapat mencederai kemurnian akidah, seperti menganggap Muharram sebagai bulan sial atau meyakini ritual tertentu dapat mendatangkan keselamatan tanpa landasan syariat.
Menurutnya, keberkahan sejati diperoleh dengan memperkuat tauhid dan bertawakal sepenuhnya kepada Allah SWT.
Menghidupkan Shalat Malam
Shalat malam atau qiyamul lail menjadi ibadah lain yang dianjurkan untuk mengawali tahun Hijriah.
Dalam hadits yang sama, Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baik puasa setelah bulan Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, Al-Muharram. Dan sebaik-baik shalat setelah shalat fardhu adalah shalat malam.” (HR. Muslim No. 1163).
Ustadz Said Yai menilai penyandingan puasa Muharram dengan shalat malam menunjukkan keutamaan besar kedua ibadah tersebut. Kombinasi keduanya diyakini mampu membantu seorang Muslim menundukkan hawa nafsu dan meningkatkan kedekatan dengan Allah SWT.
Memperbanyak Amal Saleh
Bulan Muharram juga menjadi waktu yang tepat untuk meningkatkan berbagai amal kebaikan, seperti sedekah, membaca Al-Qur’an, dan berdzikir.
Berdasarkan penjelasan Tim Bimbingan Islam, para ulama memahami bahwa pelipatgandaan pahala pada bulan haram mencakup seluruh bentuk amal saleh.
Namun, Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid mengingatkan agar umat Islam berhati-hati terhadap amalan yang bersumber dari hadits lemah atau palsu. Sedekah dan menyantuni anak yatim dianjurkan dilakukan secara umum sepanjang Muharram tanpa mengkhususkan keutamaan tertentu pada 10 Muharram yang tidak memiliki dasar hadits shahih.
Mengambil Ibrah dan Mempertebal Rasa Syukur
Amalan berikutnya adalah merenungkan sejarah sebagai sarana memperkuat rasa syukur kepada Allah SWT.
Ibnu Abbas RA meriwayatkan bahwa ketika Nabi Muhammad SAW tiba di Madinah dan melihat orang Yahudi berpuasa Asyura, mereka berkata:
“Ini adalah hari yang baik, hari di mana Allah telah menyelamatkan Bani Israil dari kejaran musuhnya, maka Musa berpuasa sebagai rasa syukurnya kepada Allah.”
Nabi SAW kemudian bersabda:
“Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.” (HR. Bukhari No. 2004).
Abu Abdillah Syahrul Fatwa bin Lukman menjelaskan bahwa puasa Muharram pada hakikatnya merupakan ekspresi syukur atas pertolongan Allah. Kesadaran ini dapat menjadi fondasi optimisme dalam menghadapi perjalanan hidup di tahun yang baru.
Muharram Menjadi Momentum Memulai Tahun dengan Lebih Baik
Muharram bukan sekadar penanda pergantian kalender Hijriah. Bulan ini menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk memperbaiki kualitas ibadah, memperkuat tauhid, memperbanyak amal saleh, serta menjauhi berbagai larangan Allah SWT.
Dengan menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman, umat Muslim dapat mengawali tahun baru Islam dengan semangat taubat, rasa syukur, serta keyakinan bahwa keberkahan akan hadir melalui ketaatan yang dijalankan secara konsisten.
FAQ Seputar Amalan Pembuka Tahun Hijriah
Apa saja amalan yang dianjurkan pada 1 Muharram?
Beberapa amalan yang dianjurkan antara lain memperbanyak puasa sunnah, membaca Al-Qur’an, berdzikir, bersedekah, memperbanyak doa, serta melakukan muhasabah dan taubat.
Apa dalil tentang keutamaan puasa Muharram?
Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik puasa setelah bulan Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, Al-Muharram.” (HR. Muslim No. 1163).
Mengapa puasa Asyura dianjurkan?
Puasa Asyura memiliki keutamaan menghapus dosa-dosa kecil selama setahun yang telah berlalu sebagaimana disebutkan dalam HR. Muslim No. 1162.
Mengapa Muharram disebut bulan haram?
Karena Muharram termasuk empat bulan yang dimuliakan Allah SWT sebagaimana dijelaskan dalam QS. At-Taubah ayat 36, sehingga umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh dan menjauhi kemaksiatan.




















