Headline.co.id, Jakarta ~ Menjelang pelaksanaan puasa Tasua pada 9 Muharram 1448 Hijriah yang bertepatan dengan Rabu, 24 Juni 2026, banyak umat Islam mencari informasi mengenai niat puasa qadha Ramadhan sekaligus hukum menggabungkannya dengan puasa sunnah Tasua. Pertanyaan ini muncul karena sebagian Muslim masih memiliki utang puasa Ramadhan yang wajib ditunaikan, namun juga ingin meraih keutamaan puasa sunnah di bulan Muharram.
Dalam syariat Islam, puasa qadha Ramadhan merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang meninggalkan puasa karena uzur seperti sakit, bepergian, haid, nifas, atau alasan syar’i lainnya. Karena itu, pemahaman mengenai niat puasa qadha Ramadhan, waktu pelaksanaan niat, serta pandangan ulama terkait penggabungannya dengan puasa Tasua menjadi hal penting bagi umat Islam.
Selain mengetahui bacaan niat puasa qadha Ramadhan, umat Islam juga perlu memahami adanya perbedaan pendapat ulama mengenai kebolehan menggabungkan puasa wajib dengan puasa sunnah Tasua dan Asyura.
Dasar Hukum Puasa Qadha Ramadhan
Kewajiban mengganti puasa Ramadhan yang ditinggalkan memiliki landasan kuat dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 184:
“Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain.”
Ayat tersebut menjadi dasar bahwa seseorang yang memiliki uzur diperbolehkan tidak berpuasa pada bulan Ramadhan, namun tetap wajib menggantinya di hari lain.
Kewajiban qadha puasa juga diperkuat melalui hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah RA. Ia berkata:
“Aku pernah memiliki hutang puasa Ramadhan, maka aku tidak mengqadhanya kecuali pada bulan Sya’ban.” (HR Bukhari dan Muslim)
Hadis tersebut menunjukkan bahwa qadha puasa merupakan kewajiban yang harus ditunaikan setelah seseorang terbebas dari uzur yang menghalanginya berpuasa.
Bacaan Niat Puasa Qadha Ramadhan
Bagi umat Islam yang hendak mengganti puasa Ramadhan, berikut bacaan niat puasa qadha Ramadhan:
Nawaitu shauma ghadin ‘an qadha’i Ramadhona lillahi ta’ala.
Artinya:
“Aku berniat berpuasa esok hari untuk mengganti puasa Ramadhan karena Allah Ta’ala.”
Dalam mazhab Syafi’i yang menjadi pedoman mayoritas Muslim Indonesia, niat puasa qadha wajib dilakukan pada malam hari sebelum terbit fajar karena termasuk puasa wajib.
Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW:
“Barang siapa tidak berniat puasa pada malam hari, maka tidak ada puasa baginya.” (HR Abu Dawud, Tirmidzi, dan An-Nasai)
Bolehkah Puasa Qadha Ramadhan Digabung dengan Puasa Tasua?
Persoalan menggabungkan puasa qadha Ramadhan dengan puasa Tasua menjadi salah satu pembahasan fikih yang masih diperselisihkan para ulama.
Sebagian ulama mazhab Syafi’i membolehkan penggabungan niat tersebut. Imam Ar-Ramli dalam kitab Nihayatul Muhtaj menjelaskan:
“Kalau seseorang meng-qadha puasa di bulan Syawal atau meng-qadha di hari Asyura, maka ia mendapatkan pahala puasa sunnahnya.”
Pendapat serupa juga disampaikan Imam as-Suyuthi dalam kitab Al-Asybah wa an-Nazhair.
“Kalau seseorang meng-qadha puasa, atau puasa Nazar, atau puasa Kaffarah, kemudian ia meniatkan bersama puasa Arafah, maka puasanya sah dan mendapatkan dua pahala (yakni pahala wajib dan sunnah).”
Pandangan yang membolehkan ini juga didukung Imam Khatib asy-Syarbini dalam kitab Mughni Muhtaj. Menurutnya, seseorang yang berpuasa qadha Ramadhan bertepatan dengan hari puasa sunnah tetap berpeluang memperoleh pahala puasa sunnah tersebut.
Ulama yang Tidak Membolehkan Penggabungan Niat
Di sisi lain, sejumlah ulama memiliki pandangan berbeda. Syaikh bin Baz, Syaikh Abdurrahman Ali al-Askar, dan Syaikh Dr Muhammad bin Hassan termasuk ulama yang tidak membolehkan penggabungan puasa qadha Ramadhan dengan puasa sunnah Tasua atau Asyura.
Mereka berpendapat bahwa puasa qadha memiliki status wajib yang lebih kuat dibanding puasa sunnah. Karena itu, apabila kedua niat digabungkan, maka yang dianggap sah hanyalah puasa qadha Ramadhan.
Pandangan serupa juga dikemukakan Imam Abu Makhramah yang mengikuti pendapat Imam as-Samhudi. Menurut kelompok ini, puasa wajib dan puasa sunnah merupakan dua ibadah berbeda yang sebaiknya dilaksanakan secara terpisah.
Niat Puasa Tasua dan Qadha Ramadhan
Bagi umat Islam yang mengikuti pendapat ulama yang membolehkan penggabungan niat, berikut bacaan niat puasa Tasua dan qadha Ramadhan:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ وَسُنَّةِ تَاسُوعَاءَ لِلَّهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’i fardhi syahri Ramadhāna wa sunnati Tāsū’ā’a lillāhi ta’ālā.
Artinya:
“Saya berniat puasa esok hari untuk mengganti kewajiban puasa Ramadhan dan menjalankan puasa sunnah Tasua karena Allah Ta’ala.”
Sementara itu, niat puasa Tasua secara terpisah adalah:
Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i sunnatit Tasu’a lillaahi ta’aalaa.
Artinya:
“Aku berniat puasa sunnah Tasua esok hari karena Allah SWT.”
Hikmah Menyegerakan Qadha Puasa
Para ulama menganjurkan umat Islam untuk tidak menunda pembayaran utang puasa tanpa alasan yang dibenarkan. Menyegerakan qadha puasa memiliki sejumlah hikmah, di antaranya menunaikan amanah ibadah yang masih menjadi tanggungan, menunjukkan kesungguhan dalam ketaatan kepada Allah SWT, menghindari kelalaian dalam menjalankan kewajiban, serta melatih kedisiplinan beribadah.
Meski terdapat perbedaan pandangan mengenai penggabungan puasa qadha Ramadhan dengan puasa Tasua, umat Islam dianjurkan memahami pendapat ulama yang diikuti agar dapat menjalankan ibadah dengan lebih tenang dan mantap. Sementara itu, jika waktu dan kesempatan masih tersedia, sebagian ulama menilai memisahkan puasa qadha dan puasa sunnah tetap menjadi pilihan yang lebih utama.
FAQ Seputar Niat Puasa Qadha Ramadhan dan Puasa Tasua
1. Apa itu puasa qadha Ramadhan?
Puasa qadha Ramadhan adalah puasa pengganti yang wajib dilakukan oleh umat Islam yang tidak menjalankan puasa Ramadhan karena alasan syar’i, seperti sakit, bepergian, haid, nifas, atau uzur lainnya. Kewajiban ini harus ditunaikan di luar bulan Ramadhan.
2. Bagaimana bacaan niat puasa qadha Ramadhan?
Bacaan niat puasa qadha Ramadhan adalah:
Nawaitu shauma ghadin ‘an qadha’i Ramadhona lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat berpuasa esok hari untuk mengganti puasa Ramadhan karena Allah Ta’ala.”
3. Kapan waktu yang tepat untuk membaca niat puasa qadha Ramadhan?
Menurut mazhab Syafi’i yang dianut mayoritas umat Islam di Indonesia, niat puasa qadha Ramadhan harus dilakukan pada malam hari sebelum terbit fajar atau sebelum waktu Subuh karena termasuk puasa wajib.
4. Bolehkah menggabungkan puasa qadha Ramadhan dengan puasa Tasua?
Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Sebagian ulama seperti Imam Ar-Ramli dan Imam As-Suyuthi membolehkan penggabungan niat puasa qadha Ramadhan dengan puasa Tasua. Namun, ulama lain seperti Syaikh Bin Baz berpendapat bahwa puasa wajib dan puasa sunnah sebaiknya dipisahkan.
5. Jika menggabungkan puasa qadha dan Tasua, apakah mendapatkan dua pahala?
Menurut ulama yang membolehkan penggabungan niat, seseorang berpeluang memperoleh pahala puasa wajib qadha Ramadhan sekaligus pahala puasa sunnah Tasua. Namun, pendapat ini tidak disepakati oleh seluruh ulama.
6. Mana yang harus didahulukan, puasa qadha Ramadhan atau puasa Tasua?
Mayoritas ulama menyarankan untuk mendahulukan puasa qadha Ramadhan karena hukumnya wajib. Meski demikian, sebagian ulama memperbolehkan pelaksanaan keduanya secara bersamaan bagi yang mengikuti pendapat tersebut.
7. Apa keutamaan menyegerakan puasa qadha Ramadhan?
Menyegerakan qadha puasa memiliki beberapa keutamaan, antara lain:
- Menunaikan kewajiban yang masih menjadi tanggungan.
- Menunjukkan ketaatan kepada Allah SWT.
- Menghindari penundaan ibadah tanpa alasan yang dibenarkan.
- Melatih kedisiplinan dan tanggung jawab dalam beribadah.
- Memberikan ketenangan karena telah menyelesaikan kewajiban sebelum Ramadhan berikutnya tiba.





















