Headline.co.id, Jakarta ~ Hari Raya Idul Adha menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk meningkatkan ketakwaan melalui berbagai amalan sunnah sebelum melaksanakan salat Id. Sejumlah amalan yang dicontohkan Rasulullah SAW dianjurkan untuk dilakukan mulai malam takbiran hingga sebelum berangkat ke tempat salat, seperti memperbanyak takbir, puasa Arafah, mandi sunnah, hingga mengenakan pakaian terbaik. Tuntunan tersebut memiliki dasar dalil yang kuat dari Al-Qur’an, hadits, serta penjelasan para ulama. Selain menyempurnakan ibadah, amalan-amalan ini juga mengandung hikmah spiritual dan sosial bagi umat Muslim.
Idul Adha tidak hanya dimaknai sebagai perayaan hari raya kurban, tetapi juga sebagai waktu memperkuat nilai ibadah, kebersamaan, dan kepedulian sosial. Berbagai amalan sunnah yang dilakukan sebelum salat Idul Adha menjadi bagian dari keteladanan Rasulullah SAW yang dianjurkan untuk diikuti umat Islam.
Merujuk sejumlah literatur keislaman, seperti buku Asal Usul Hari Tasyrik karya Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I dan Bekal-Bekal di Dalam Menyambut Idul Adha karya Abu Salma al-Atsari, terdapat beberapa amalan yang dianjurkan untuk dilaksanakan agar ibadah Idul Adha semakin sempurna.
Menghidupkan Malam Takbiran dengan Ibadah
Salah satu amalan yang dianjurkan adalah menghidupkan malam takbiran dengan ibadah. Umat Islam dianjurkan memperbanyak takbir, tahmid, tahlil, shalawat, hingga salat malam sejak matahari terbenam pada malam Idul Adha.
Dalam kitab Raudlatut Thalibin disebutkan:
“Disunahkan mengumandangkan takbir pada malam hari raya mulai terbenamnya matahari, dan sangat disunahkan juga menghidupkan malam hari raya tersebut dengan beribadah.”
Malam takbiran juga diyakini sebagai waktu yang penuh keberkahan dan menjadi salah satu waktu mustajab untuk berdoa kepada Allah SWT.
Memperbanyak Takbir Sejak Hari Arafah
Selain menghidupkan malam takbiran, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak takbir sejak Subuh hari Arafah pada 9 Dzulhijjah hingga akhir hari tasyrik tanggal 13 Dzulhijjah. Amalan ini merujuk pada firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 203:
“Dan berdzikirlah kepada Allah pada hari yang telah ditentukan jumlahnya.”
Mayoritas ulama menyepakati hukum takbir Idul Adha adalah sunnah, baik takbir mutlak maupun takbir muqayyad setelah salat fardu.
Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah
Amalan lain yang sangat dianjurkan ialah puasa Tarwiyah pada 8 Dzulhijjah dan puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah, khususnya bagi umat Islam yang tidak sedang menunaikan ibadah haji. Rasulullah SAW menjelaskan keutamaan puasa Arafah dalam hadits riwayat Muslim.
“Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang.”
Imam Nawawi dalam Al-Majmu’ menerangkan bahwa puasa Arafah disunnahkan bagi Muslim yang tidak sedang wukuf di Arafah.
Mandi Sunnah Sebelum Salat Idul Adha
Menjelang keberangkatan salat Id, umat Islam juga dianjurkan mandi sunnah. Mayoritas ulama dari mazhab Syafi’i, Maliki, dan Hanbali menyebut mandi sebelum salat Id sebagai sunnah muakkadah atau sunnah yang sangat dianjurkan.
Dari Ibnu Abbas RA disebutkan:
“Rasulullah SAW mandi pada hari Idul Fitri dan Idul Adha.”
Selain menjaga kebersihan, mandi sunnah menjadi simbol penyucian diri sebelum melaksanakan ibadah hari raya.
Niat mandi sunnah Idul Adha:
“نَوَيْتُ سُنَّةَ الْغُسْلِ لِعِيْدِ الْأَضْحَى”
Artinya: “Saya niat mandi sunnah Idul Adha.”
Memakai Pakaian Terbaik dan Wewangian
Rasulullah SAW juga menganjurkan umat Islam mengenakan pakaian terbaik dan memakai wewangian sewajarnya saat menuju tempat salat.
Al-Hasan bin Ali RA meriwayatkan sabda Nabi SAW:
“Rasulullah SAW memerintahkan kami pada dua hari raya untuk memakai pakaian terbaik yang ada, memakai wangi-wangian terbaik yang ada.” (HR. Al-Hakim)
Dalam sejumlah kitab fikih dijelaskan, berhias pada hari raya merupakan bagian dari syiar Islam yang menunjukkan rasa syukur dan kebahagiaan.
Tidak Makan Sebelum Salat Idul Adha
Berbeda dengan Idul Fitri, pada Idul Adha umat Islam justru dianjurkan tidak makan terlebih dahulu sebelum melaksanakan salat Id. Hal tersebut berdasarkan hadits riwayat Ahmad dari Buraidah RA.
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tak keluar untuk Sholat Idul Fitri sebelum makan, sedangkan pada Hari Raya Qurban beliau tidak makan hingga kembali lalu beliau makan dari sembelihannya.”
Anjuran ini mengandung makna kesabaran dan rasa syukur dengan menyantap daging kurban setelah ibadah selesai.
Meski demikian, umat Islam yang tidak berkurban tetap diperbolehkan makan sebelum salat Idul Adha dan tidak termasuk pelanggaran syariat.
Berjalan Kaki Menuju Tempat Salat
Sunnah lainnya yang juga dicontohkan Rasulullah SAW adalah berjalan kaki menuju tempat salat serta melewati jalan yang berbeda saat berangkat dan pulang.
Dari Jabir bin Abdullah RA diriwayatkan:
“Nabi SAW ketika shalat ‘ied, beliau melewati jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang.” (HR. Bukhari)
Sementara Abdullah bin Umar RA mengatakan:
“Rasulullah SAW biasa berangkat sholat ‘ied dengan berjalan kaki, begitu pula ketika pulang juga dengan berjalan kaki.” (HR. Ibnu Majah)
Para ulama menjelaskan, setiap langkah menuju tempat ibadah akan dicatat sebagai amal kebaikan dan menjadi bagian dari syiar Islam di tengah masyarakat.
Hikmah Amalan Sunnah Sebelum Idul Adha
Berbagai amalan sunnah sebelum salat Idul Adha tersebut tidak hanya bertujuan menambah pahala ibadah, tetapi juga memperkuat hubungan spiritual kepada Allah SWT dan kepedulian sosial kepada sesama.
Momentum Idul Adha menjadi pengingat pentingnya keteladanan Rasulullah SAW dalam menjaga adab, kebersihan, kebersamaan, serta semangat berbagi kepada masyarakat yang membutuhkan. Selain itu, amalan sunnah juga menjadi sarana memperkuat syiar Islam dan mempererat silaturahmi antarsesama umat Muslim.
FAQ Seputar Amalan Sunnah Sebelum Salat Idul Adha
Apa saja amalan sunnah sebelum salat Idul Adha?
Beberapa amalan sunnah sebelum salat Idul Adha antara lain menghidupkan malam takbiran dengan ibadah, memperbanyak takbir, menjalankan puasa Tarwiyah dan Arafah, mandi sunnah, memakai pakaian terbaik, tidak makan sebelum salat Id, serta berjalan kaki menuju tempat salat.
Kapan waktu mulai takbir Idul Adha?
Takbir Idul Adha mulai dikumandangkan sejak Subuh hari Arafah pada 9 Dzulhijjah hingga waktu Ashar di hari tasyrik terakhir, yaitu 13 Dzulhijjah.
Apakah puasa Arafah wajib dilakukan?
Puasa Arafah hukumnya sunnah bagi umat Islam yang tidak sedang menunaikan ibadah haji. Rasulullah SAW menyebut puasa Arafah memiliki keutamaan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.
Bolehkah makan sebelum salat Idul Adha?
Boleh makan sebelum salat Idul Adha, namun umat Islam yang melaksanakan sunnah Nabi dianjurkan menunda makan hingga selesai salat Id dan menyantap daging kurban setelahnya. Jika makan sebelum salat, tidak berdosa, hanya tidak mendapatkan keutamaan sunnah tersebut.
Apa niat mandi sunnah Idul Adha?
Niat mandi sunnah Idul Adha adalah:
“نَوَيْتُ سُنَّةَ الْغُسْلِ لِعِيْدِ الْأَضْحَى”
Artinya: “Saya niat mandi sunnah Idul Adha.”
Mengapa dianjurkan berjalan kaki menuju tempat salat Id?
Berjalan kaki menuju tempat salat Id merupakan sunnah Rasulullah SAW. Selain menjadi bentuk keteladanan Nabi, setiap langkah menuju tempat ibadah diyakini bernilai pahala dan menjadi bagian dari syiar Islam.
Apa hikmah memakai pakaian terbaik saat Idul Adha?
Memakai pakaian terbaik saat Idul Adha menjadi simbol rasa syukur, kebersihan, dan penghormatan terhadap hari raya umat Islam. Rasulullah SAW juga menganjurkan umat Islam tampil rapi dan menggunakan wewangian sewajarnya pada hari raya.
Apakah malam takbiran termasuk waktu mustajab untuk berdoa?
Ya, malam takbiran termasuk waktu yang dianjurkan untuk memperbanyak ibadah dan doa. Banyak ulama menyebut malam hari raya sebagai salah satu waktu penuh keberkahan dan kesempatan memperbanyak dzikir kepada Allah SWT.






















