Headline.co.id, Pada Pagi Hari Yang Cerah ~ seorang ahli hortikultura dan akademisi dari Fakultas Pertanian UGM, Agus Budi Setiawan, S.P., M.Sc., Ph.D., menyapa tanaman melon di greenhouse Pondok Pesantren Modern Yatim dan Dhuafa Madania. Sejak tahun 2022, Agus bekerja sama dengan pengelola pondok dan para santri untuk memanfaatkan fasilitas hibah yang terletak di depan bekas puskesmas di Banguntapan, Bantul, D.I. Yogyakarta. Pada tahun 2026, pondok pesantren ini berhasil mencapai kemandirian finansial melalui penjualan melon yang dipanen setiap dua setengah bulan.
Pada tahun 2021, Pondok Pesantren Madania menerima hibah berupa greenhouse berukuran 20 kali 25 meter yang terletak sekitar 1 kilometer ke arah utara dari pondok. Melihat potensi pasar yang menjanjikan, pengelola pondok memutuskan untuk menanam sayuran dan buah melon. Namun, keterbatasan pengetahuan tentang sistem pertanian modern dan pengalaman dalam mengelola greenhouse menyebabkan hasil panen kurang optimal dan biaya operasional meningkat. “Hasil panen sayuran dan melon kami ketika itu hanya sekitar 30-50% saja. Tetapi, setelah ada pendampingan dari Pak Agus, hasil panen yang seluruhnya melon hampir pasti mencapai 90%, bahkan lebih,” ujar Wildan, anggota Tim Operasional Greenhouse Madania, Jumat (22/5).
Agus, yang terhubung dengan pengelola pondok melalui rekan semasa kuliah di Program Studi Agronomi, Fakultas Pertanian UGM, memulai kerja sama untuk mengoptimalkan penggunaan greenhouse. Proses ini melibatkan transfer pengetahuan, pembuatan pupuk, operasional budidaya di greenhouse, hingga proses kawin silang untuk mendapatkan varietas yang diinginkan. Kini, Greenhouse Madania telah mencapai swasembada benih dan berhasil mengurangi biaya produksi hingga jutaan rupiah dengan tidak lagi membeli benih dari luar. Agus melihat Greenhouse Madania sebagai lebih dari sekadar laboratorium, tetapi juga aset bagi pertumbuhan komoditas dan pemberdayaan masyarakat. “Kami memandang greenhouse bukan sebatas wujud fisik bangunan, tetapi aset berharga dalam proses pemuliaan tanaman. Siklus tanaman yang hanya bisa dipanen 2 kali dalam setahun, sekarang bisa dipanen hingga 4 kali,” jelasnya.
Sekitar 1.300 buah melon dihasilkan dalam sekali panen, dan hampir seluruhnya telah diklaim oleh konsumen. Pendampingan yang dimulai sejak tahun 2022 membuat para santri mampu mengelola operasional secara mandiri. Agus menyebutkan bahwa aktivitas ‘menyapa melon’ yang rutin ia lakukan sebelum berangkat ke kampus kini berkurang seiring dengan meningkatnya kemampuan adaptasi dan regenerasi pengetahuan di kalangan santri. Ketika ada hal yang perlu dikonsultasikan, mereka cukup berkoordinasi melalui monitor jarak jauh, menandakan keberhasilan pendampingan selama hampir lima tahun.
KH. Suyanta, S.Ag., M.S.I., pengelola Pondok Pesantren, menyatakan bahwa keberhasilan greenhouse ini membawa perubahan signifikan dalam efisiensi ekonomi pondok. Pondok pesantren tidak lagi sepenuhnya bergantung pada donatur dan lembaga sosial. Suyanta juga menyebutkan bahwa pengetahuan teknis pertanian yang kini dikuasai oleh tim operasional, seperti pembuatan pupuk, pembiakan benih untuk menghasilkan bibit mandiri, dan operasional greenhouse, telah meningkat.
Greenhouse Madania menjadi bukti nyata dari pengabdian dan hasil riset yang diterapkan secara konsisten untuk menjawab kebutuhan dan tantangan masyarakat.




















