Headline.co.id, Jakarta ~ Indonesia, sebagai negara besar dan penting, tidak dapat dinilai hanya melalui narasi selektif yang mungkin tidak sepenuhnya memahami realitas politik, ekonomi, sejarah, dan sosialnya. Hal ini disampaikan oleh Peter F. Gontha, mantan Duta Besar Indonesia untuk Polandia, dalam keterangan tertulis yang diterima pada Rabu (20/5/2026).
Pernyataan tersebut merupakan tanggapan atas artikel terbaru dari media terkemuka “The Economist” yang membahas ekonomi Indonesia. Artikel tersebut menimbulkan keprihatinan di kalangan masyarakat Indonesia karena dianggap menggambarkan negara ini dari sudut pandang yang sempit dan terlalu negatif. Artikel tersebut ditulis oleh dua jurnalis muda, Aaron Connelly dan Ethan Wu, yang terlibat dalam liputan internasional “The Economist”.
Peter Gontha menegaskan bahwa usia muda bukanlah masalah dalam jurnalisme. Banyak jurnalis muda yang mampu menghasilkan karya luar biasa. Namun, pengalaman panjang juga tidak selalu menjamin kebijaksanaan atau objektivitas. Dalam wawancara tersebut, Purbaya Yudhi Sadewa, pengambil kebijakan ekonomi Indonesia, menjelaskan berbagai hal penting seperti cadangan devisa, posisi transaksi berjalan, tekanan dolar global, kebijakan fiskal, pendanaan program ketahanan pangan, ketahanan makroekonomi, dan strategi jangka panjang pemerintah.
Peter menambahkan bahwa artikel tersebut lebih banyak menyoroti kekhawatiran politik, kecemasan pasar, dan pergantian Menteri Keuangan sebelumnya, Sri Mulyani Indrawati, yang selama ini dikenal dekat dengan kebijakan yang disukai oleh International Monetary Fund dan Bank Dunia. Peter menekankan pentingnya konteks sejarah dalam memahami kebijakan Indonesia saat ini.
Lebih lanjut, Peter Gontha menjelaskan bahwa Indonesia sedang menempuh jalur pembangunan yang berbeda, dengan fokus pada hilirisasi industri, ketahanan pangan, pengelolaan sumber daya strategis, penguatan pasar domestik, dan kemandirian nasional jangka panjang. Kebijakan ini mungkin tidak selalu sesuai dengan ortodoksi ekonomi Barat, tetapi bukan berarti kebijakan tersebut salah atau tidak bertanggung jawab.
Peter menegaskan bahwa jika hanya sisi negatif yang diperbesar dan penjelasan penting diabaikan, maka publik berhak mempertanyakan apakah pemberitaan tersebut benar-benar objektif atau mencerminkan bias editorial tertentu.























