Headline.co.id, Bekasi ~ Kecelakaan antara Kereta Rel Listrik (KRL) dan Kereta Jarak Jauh Argo Bromo Anggrek terjadi di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, Senin (27/4) malam sekitar pukul 20.52 WIB. Insiden ini melibatkan rangkaian KRL rute Jakarta–Cikarang yang tertabrak kereta jarak jauh setelah sebelumnya terjadi temperan dengan sebuah taksi di perlintasan sebidang dekat Bulak Kapal. Peristiwa tersebut mengakibatkan tujuh orang meninggal dunia dan 81 lainnya mengalami luka-luka. Dugaan awal menyebut gangguan operasional akibat insiden taksi menjadi pemicu utama kecelakaan.
Kronologi Awal: Insiden Taksi Picu Gangguan Operasional
Manajer Humas PT KAI Daop 1 Jakarta, Franoto Wibowo, membenarkan adanya kecelakaan tersebut. Ia menjelaskan bahwa peristiwa bermula dari sebuah taksi Xanh SM yang tertemper KRL di jalur perlintasan sebidang (JPL) dekat Bulak Kapal.
“Iya betul, betul. Ada kecelakaan kereta,” ujar Franoto, Selasa (28/4).
Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, menambahkan bahwa insiden temperan taksi tersebut diduga mengganggu sistem operasional perkeretaapian di area emplasemen Stasiun Bekasi Timur.
“Kejadian ini di jam 9 kurang, dimulai dengan adanya temperan taksi hijau di JPL 85. Ini yang kami curigai membuat sistem perkeretaapian di daerah emplasemen Stasiun Bekasi Timur ini agak terganggu,” kata Bobby.
Akibat gangguan tersebut, KRL sempat berhenti di lokasi kejadian. Namun, dalam waktu bersamaan, Kereta Argo Bromo Anggrek tetap melintas di jalur yang sama hingga akhirnya menabrak rangkaian KRL.
Detik-Detik Tabrakan dan Situasi di Lokasi
Berdasarkan rekaman video yang beredar, taksi berwarna hijau terlihat berhenti di perlintasan rel sebelum akhirnya tertabrak KRL yang melaju. Sejumlah pengendara di sekitar lokasi tampak terkejut menyaksikan kejadian tersebut.
“Aduh, ya ampun,” terdengar ucapan salah satu pengendara dalam video.
Setelah insiden awal itu, KRL berhenti di jalur dan kemudian tertabrak oleh Kereta Argo Bromo Anggrek. Suasana di Stasiun Bekasi Timur yang sebelumnya ramai berubah menjadi mencekam. Penumpang berhamburan menyelamatkan diri, sementara petugas melakukan evakuasi terhadap korban yang terjebak di dalam gerbong.
Korban Jiwa dan Proses Evakuasi
PT KAI mencatat sebanyak tujuh penumpang meninggal dunia dan 81 lainnya mengalami luka-luka dan dirawat di rumah sakit. Korban mayoritas berasal dari penumpang KRL, khususnya di gerbong terakhir.
“Jumlah korban yang terjadi kecelakaan kereta tadi malam, meninggal dunia itu 7 orang. Dan luka-luka dan dirawat itu sebanyak 81 orang,” ujar Bobby.
Ia juga mengungkapkan bahwa masih terdapat korban yang terjepit di dalam gerbong dan proses evakuasi dilakukan secara hati-hati.
Proses evakuasi dilakukan dengan memotong rangkaian gerbong yang rusak untuk mempermudah penyelamatan korban.
Respons KAI dan Pemerintah
PT KAI menyatakan menyerahkan sepenuhnya investigasi kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk mengungkap penyebab pasti kecelakaan.
“Tentunya kami menyerahkan kepada KNKT untuk lebih detail mencari tahu penyebab dari kecelakaan kereta ini,” kata Bobby.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi turut meninjau langsung lokasi kejadian. Ia menyampaikan duka cita mendalam kepada para korban dan menegaskan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan transportasi.
“Kami juga memberikan kesempatan kepada KNKT untuk melakukan investigasi, melihat secara obyektif penyebab kecelakaan,” ujar Dudy.
Ia menambahkan bahwa peristiwa ini menjadi pelajaran penting bagi peningkatan pelayanan dan keselamatan penumpang kereta api di masa mendatang.
Klarifikasi Manajemen Taksi
Sementara itu, pihak manajemen taksi hijau Green SM Indonesia menyatakan telah menyampaikan informasi yang relevan kepada pihak berwenang dan mendukung penuh proses investigasi.
“Keselamatan tetap menjadi prioritas utama kami. Kami berkomitmen untuk menjaga standar keselamatan yang tinggi melalui sistem operasional, pengawasan, serta peningkatan layanan secara berkelanjutan,” tulis manajemen melalui akun Instagram resmi mereka.
Perusahaan juga menyatakan akan terus memberikan pembaruan informasi seiring dengan hasil investigasi yang telah terverifikasi.
Kecelakaan ini menjadi sorotan serius terkait keselamatan di perlintasan sebidang dan koordinasi operasional antar moda transportasi, yang kini tengah didalami oleh otoritas terkait.



















