Headline.co.id, Tulungagung ~ Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama mendorong Universitas Islam Negeri (UIN) Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU) Tulung Agung membuka program studi (prodi) pesantren atau kepesantrenan. Usulan itu disampaikan Direktur Bina Pendidikan Muadalah dan Pendidikan Diniyah Formal Ditjen Pesantren, Mastuki, dalam Sharing Session Kepesantrenan di UIN SATU Tulung Agung, Jumat (6/11/2026). Pembukaan prodi kepesantrenan dapat diajukan melalui penyusunan naskah akademik dan penilaian pakar (expert judgement) kepada Kementerian Agama. Dorongan tersebut didasarkan pada sejarah, tradisi keilmuan, serta luasnya fungsi pesantren yang dinilai layak dikembangkan sebagai kajian akademik di perguruan tinggi Islam.
Mastuki menilai pesantren memiliki sumber daya dan rujukan ilmiah yang memadai untuk menjadi bidang studi tersendiri. Menurut dia, pesantren merupakan lembaga pendidikan genuine Indonesia yang telah melalui sejarah panjang, bahkan ratusan tahun sebelum Indonesia merdeka.
“Seharusnya pesantren menjadi bagian organik dari pendidikan tinggi keagamaan Islam. Karena secara historis, pesantren lahir terlebih dahulu, baru muncul madrasah pada awal abad 20 (sebagai respon terhadap sistem persekolahan yang diintrodusir penjajah Belanda), kemudian lahir perguruan tinggi Islam 1960an,” kata Mastuki.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Kajian kepesantrenan dinilai masih minor
Mastuki menyayangkan kajian kepesantrenan di UIN, Institut Agama Islam Negeri (IAIN), dan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) masih sangat minor. Sejumlah UIN memang telah memiliki pusat studi kepesantrenan, tetapi aktivitasnya dinilai belum mengungkap kekayaan pesantren secara menyeluruh.
Karena itu, dia berharap UIN maupun perguruan tinggi keagamaan Islam (PTKI) lainnya lebih agresif membuka prodi kepesantrenan. Menurut Mastuki, ruang kajian pesantren terbuka luas, terutama dari sisi pendidikan.
“Ada ruang terbuka kajian pesantren dari sisi pendidikan. Saat ini banyak pesantren seperti holding company yang menyelenggarakan berbagai aktivitas produktif,” ujarnya.
Mastuki menyebut pesantren tidak hanya menyelenggarakan satu bentuk pendidikan. Di dalamnya terdapat lembaga pendidikan formal seperti madrasah, sekolah, pendidikan diniyah, muadalah, ma’had aly, dan universitas umum.
Selain itu, pesantren tetap mempertahankan kajian kitab. Pesantren juga menyelenggarakan pendidikan anak usia dini (PAUD), majelis taklim, serta pengajian untuk orang dewasa.
“Belum lagi kajian kitab yang tetap lestari, PAUD, majelis taklim, atau pengajian untuk orang dewasa,” tegasnya.
Pesantren mencakup ekonomi hingga ketahanan masyarakat
Menurut Mastuki, cakupan kajian pesantren tidak berhenti pada aspek pendidikan. Pesantren juga memiliki potensi sebagai sentra kemandirian ekonomi umat atau ekonomi kerakyatan.
Dia menyebut banyak pesantren yang mandiri secara finansial melalui pendirian unit-unit bisnis. Fungsi pesantren juga mencakup bidang dakwah, sabuk pengaman sosial (socoal safety net), budaya adiluhung, ketahanan masyarakat, dan benteng moral bangsa.
Beragam fungsi tersebut, kata Mastuki, memperlihatkan luasnya aspek kehidupan pesantren yang dapat dikaji secara akademik. Pesantren tidak hanya dipandang sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai institusi yang menjalankan aktivitas sosial, ekonomi, dakwah, dan kebudayaan.
Mastuki kemudian mengutip esai Gus Dur yang secara khusus membahas pesantren sebagai sub-kultur. Ia menjelaskan, pesantren merupakan sistem kehidupan mandiri dengan nilai, norma, tradisi, dan pola pergaulan khas yang berbeda dari budaya masyarakat luas, tetapi tetap menjadi bagian dari masyarakat.
“Gus Dur menulis esai secara khusus bahwa pesantren itu sub-kultur. Suatu sistem kehidupan mandiri yang memiliki nilai, norma, tradisi, dan pola pergaulan khas yang berbeda dari budaya masyarakat luas (budaya dominan), namun tetap menjadi bagian dari masyarakat itu sendiri,” katanya.
Menurut dia, karakter tersebut membuat pesantren memiliki sumber yang cukup untuk dikembangkan menjadi wilayah kajian akademik yang menarik dan potensial.
“Artinya, pesantren lebih dari cukup menyediakan sumber sebagai wilayah kajian akademik yang menarik dan potensial,” pungkasnya.
Sharing Session Kepesantrenan tersebut dihadiri dan dipimpin Rektor UIN SATU Prof. Dr. Abd Aziz. Hadir pula Ngainun Naim selaku Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) sekaligus guru besar UIN SATU.
Kegiatan itu juga dihadiri Kyai Muhson, Rois Syuriyah PCNU Tulung Agung sekaligus pengasuh PP Kalijogo, serta pimpinan pesantren dari wilayah Tulung Agung dan Blitar.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.

















