Headline.co.id, Sragen ~ Pemanfaatan Internet of Things (IoT) membantu petani di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, mengurangi penggunaan pupuk hingga 53 persen, dari sekitar 1.600 kilogram menjadi 750 kilogram per hektare. Di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, teknologi serupa digunakan pembudidaya ikan nila untuk menjaga kadar oksigen kolam dan mendukung produksi sekitar 40 ton dalam satu siklus panen. Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyampaikan hal itu di Jakarta Pusat, Selasa (6/10/2026), sebagai contoh penerapan teknologi digital untuk meningkatkan produktivitas dan mendukung ketahanan pangan.
Menurut Meutya, IoT dan kecerdasan artifisial (AI) perlu diterapkan untuk menjawab kebutuhan nyata di lapangan, termasuk pada sektor pertanian dan perikanan. Teknologi tersebut digunakan melalui sensor tanah untuk menentukan kebutuhan pupuk serta aerator berbasis IoT untuk membantu menjaga kualitas air kolam.
“IoT dan kecerdasan artifisial adalah teknologi baru yang harus kita manfaatkan agar memberikan dampak langsung terhadap produktivitas masyarakat,” ujar Meutya di Jakarta Pusat, Selasa (6/10/2026).
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Sensor Tanah Kurangi Penggunaan Pupuk di Sragen
Penerapan IoT di sektor pertanian terlihat di Desa Pengkok, Kabupaten Sragen. Petani bernama Sumarno menggunakan perangkat sensor pertanian Jinawi untuk mengetahui kondisi tanah dan menentukan kebutuhan pupuk.
Informasi yang diperoleh dari sensor menjadi salah satu dasar dalam menentukan jumlah pupuk yang diperlukan. Berdasarkan penggunaan teknologi tersebut, kebutuhan pupuk berkurang dari sekitar 1.600 kilogram menjadi 750 kilogram per hektare atau turun sekitar 53 persen.
“Alat digital Jinawi sangat membantu, terutama dalam menentukan pemupukan. Sebelumnya satu hektare bisa menghabiskan sekitar 1.600 kilogram pupuk. Setelah menggunakan alat ini, kondisi tanah diketahui masih subur sehingga kebutuhan pupuk hanya sekitar 750 kilogram,” kata Sumarno di Kabupaten Sragen, Rabu (5/11/2025).
Pemanfaatan sensor membuat keputusan pemupukan disesuaikan dengan kondisi tanah. Dengan demikian, penggunaan input pertanian tidak hanya didasarkan pada perkiraan, tetapi juga mempertimbangkan informasi yang dihasilkan perangkat digital.
Aerator IoT Dukung Produksi Ikan Nila
Teknologi IoT juga dimanfaatkan di sektor perikanan oleh Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Cipancur Cimahi Farm Feed di Kabupaten Sukabumi. Kelompok tersebut menggunakan aerator berbasis IoT untuk membantu menjaga kadar oksigen dalam air kolam.
Pembudidaya ikan nila Abdullah Agus Salim mengatakan penggunaan teknologi yang disertai pembelajaran dan pendampingan membantu kelompok meningkatkan produksi. Saat ini, 20 anggota Pokdakan menghasilkan sekitar 40 ton ikan nila dalam satu siklus panen.
“Pertumbuhan hasil ikan nila terus meningkat berkat pembelajaran dan pendampingan teknologi ini,” ujar Abdullah di Kabupaten Sukabumi, Rabu (15/10/2025).
Selain menghasilkan ikan untuk satu siklus panen, kelompok tersebut memasok sekitar 400 kilogram ikan nila per minggu untuk kebutuhan operasional dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sukabumi.
Digitalisasi Diarahkan ke Sentra Pangan Desa
Meutya mengatakan pemanfaatan teknologi digital tidak hanya berdampak pada proses budi daya, tetapi juga mendukung ketersediaan pasokan pangan di tingkat daerah. Karena itu, penerapan IoT perlu diperluas ke sentra-sentra produksi pangan di berbagai daerah.
Menurut dia, digitalisasi tidak seharusnya hanya berkembang di wilayah perkotaan. Teknologi tersebut juga perlu digunakan untuk meningkatkan produktivitas masyarakat di desa dan mendukung program swasembada pangan.
“Ketahanan pangan menjadi salah satu fokus utama pemerintah. Kami ingin memastikan digitalisasi diterapkan langsung dalam use case di lapangan. Teknologi digital jangan hanya dinikmati di perkotaan, tetapi harus masuk ke desa-desa untuk mendukung program swasembada pangan Presiden,” kata Meutya.
Kementerian Komunikasi dan Digital terus mengembangkan pemanfaatan IoT untuk kebutuhan produktif di berbagai daerah. Penerapannya diarahkan pada persoalan konkret, mulai dari mengukur kondisi tanah dan mengatur penggunaan input pertanian hingga menjaga kualitas air serta membantu pembudidaya mengelola produksi ikan.
Pengalaman petani di Sragen dan pembudidaya ikan di Sukabumi menunjukkan bahwa dampak teknologi digital dapat diukur dari perubahan di lapangan. Pengurangan penggunaan pupuk dan peningkatan produksi ikan menjadi contoh penerapan IoT yang mendukung produktivitas sekaligus ketahanan pangan dari tingkat desa.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.




















