Headline.co.id ~ Indonesia menilai reformasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) semakin mendesak di tengah dinamika global yang kian bergolak. Menteri Luar Negeri RI Sugiono menyampaikan sikap tersebut saat membacakan Pernyataan Nasional Indonesia dalam debat umum Sidang ke-81 Majelis Umum PBB di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat, Sabtu (26/9/2028) waktu setempat. Menurut Indonesia, reformasi diperlukan untuk membangun sistem multilateral yang lebih representatif, tangguh, dan mampu memberi dampak konkret bagi masyarakat dunia. Sugiono menegaskan, pembenahan sistem tersebut harus dilakukan dengan memperkuat PBB, bukan meninggalkannya.
Indonesia Dorong Reformasi PBB
Sugiono mengatakan, peran PBB sebagai institusi yang menyatukan bangsa-bangsa tetap tidak tergantikan. Organisasi tersebut dinilai menyediakan ruang bagi negara-negara untuk mencari jalan tengah ketika menghadapi perbedaan pandangan, sehingga penyelesaian masalah tidak harus ditempuh melalui kekerasan dan konflik.
Selain itu, PBB berfungsi menyediakan aturan bersama di tengah perbedaan kepentingan antarnegara. Karena itu, Indonesia menilai kepercayaan terhadap PBB perlu disertai keberanian untuk mendorong perubahan agar organisasi tersebut tetap relevan dengan tantangan dunia abad ke-21.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Indonesia senantiasa percaya pada PBB. Akan tetapi, kepercayaan pada PBB juga berarti percaya bahwa PBB harus berevolusi seiring dengan dunia yang dilayaninya,” ujar Menlu RI Sugiono melalui keterangan resmi, Minggu (27/9/2026).
Pernyataan itu disampaikan ketika berbagai krisis global dan persoalan kemanusiaan masih menjadi tantangan yang dihadapi masyarakat internasional. Indonesia menilai kondisi tersebut menuntut negara-negara untuk tidak menunda langkah nyata dalam memperbaiki sistem multilateral.
Perubahan Tidak Bisa Berlangsung Semalam
Sugiono menyampaikan, reformasi PBB bukan proses yang dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Meski demikian, besarnya krisis global dan kondisi kemanusiaan yang dihadapi saat ini membuat kebutuhan untuk memulai perubahan menjadi semakin mendesak.
Menurut dia, kekurangan dalam sistem multilateral tidak seharusnya dijadikan alasan untuk meninggalkan mekanisme yang telah dibangun bersama. Sebaliknya, sistem tersebut perlu diperkuat agar mampu menjawab perkembangan dan kebutuhan dunia saat ini.
Indonesia memandang PBB masih memiliki posisi penting dalam menjaga kerja sama antarnegara. Forum tersebut memungkinkan negara-negara dengan kepentingan berbeda untuk berdialog, merumuskan jalan tengah, serta membangun aturan bersama tanpa mengedepankan konflik.
Sikap itu sekaligus menegaskan bahwa dukungan Indonesia terhadap PBB berjalan beriringan dengan dorongan untuk melakukan evaluasi dan pembenahan. Kepercayaan terhadap organisasi dunia tersebut, menurut Sugiono, tidak berarti mempertahankan seluruh mekanisme tanpa perubahan, melainkan memastikan PBB dapat berkembang mengikuti dunia yang dilayaninya.
Reformasi Juga Menyasar Arsitektur Keuangan Internasional
Menlu RI menekankan, pembenahan sistem multilateral tidak boleh berhenti pada reformasi PBB. Menurut dia, perubahan juga perlu mencakup arsitektur keuangan internasional.
Penataan ulang sistem keuangan dunia dinilai penting agar dapat memenuhi kebutuhan negara-negara berkembang. Reformasi tersebut juga diharapkan memperluas peluang bagi negara berkembang untuk menentukan prioritas pembangunan serta memperkuat ketahanan nasional.
Dengan demikian, agenda reformasi yang didorong Indonesia mencakup penguatan lembaga multilateral dan pembenahan sistem pendukungnya. Arsitektur keuangan internasional menjadi bagian penting karena berkaitan dengan kemampuan negara-negara berkembang dalam menjalankan pembangunan dan menghadapi berbagai tantangan.
Indonesia menilai sistem multilateral yang lebih representatif, ulet, dan berdampak konkret diperlukan untuk merespons dinamika dunia abad ke-21. Namun, Sugiono menegaskan, proses menuju perubahan itu membutuhkan langkah nyata dan tidak dapat ditunda meskipun pelaksanaannya tidak bisa dilakukan dalam semalam.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.

















