Headline.co.id ~ Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memperkuat edukasi gizi sebagai bagian dari pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di satuan pendidikan. Langkah tersebut dibahas dalam Rapat Koordinasi Unit Pelaksana Teknis (UPT) Implementasi Edukasi Gizi bagi Satuan Pendidikan yang digelar di Serpong, Banten, pada 19–21 Agustus 2026. Forum yang diselenggarakan Direktorat SMP, Ditjen PAUD, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendikdasmen itu melibatkan UPT dari 34 provinsi. Edukasi gizi didorong agar MBG tidak hanya menyediakan makanan, tetapi juga membentuk kebiasaan hidup sehat, meningkatkan literasi gizi, memperkuat keamanan pangan, dan membangun karakter peserta didik.
Rapat koordinasi tersebut menjadi ruang konsolidasi pemerintah pusat dan daerah untuk menyamakan pemahaman mengenai penerapan edukasi gizi dan MBG di sekolah. Selain berbagi praktik baik, forum itu membahas kendala pelaksanaan serta langkah tindak lanjut yang dapat diterapkan sesuai kebutuhan masing-masing daerah.
Edukasi gizi menjadi bagian dari pelaksanaan MBG
Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendikdasmen Gogot Suharwoto mengatakan, kementeriannya mendukung pelaksanaan MBG melalui penyiapan data peserta didik, guru, dan tenaga kependidikan sebagai penerima manfaat.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Dukungan Kemendikdasmen juga mencakup penyediaan sarana dan prasarana pendukung di satuan pendidikan, lain usaha kesehatan sekolah (UKS), toilet, sanitasi, dan air bersih.
Menurut Gogot, edukasi gizi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari program MBG. Kemendikdasmen telah menyiapkan modul, petunjuk teknis, panduan, serta contoh kegiatan yang dapat diterapkan melalui pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler, pembiasaan sehari-hari, hingga saat peserta didik makan bersama.
“Investasi sejak usia dini pendidikan edukasi itu penting untuk menjaga kesehatan penduduk kita. Tugas yang penting sekarang adalah bagaimana kita mendiseminasikan modul-modul edukasi gizi, panduan MBG, ke satuan pendidikan melalui penguatan UKS,” ujar Gogot.
Ia meminta UPT memperkuat diseminasi berbagai panduan tersebut kepada pemerintah daerah dan satuan pendidikan. UPT juga didorong untuk mengembangkan praktik baik yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan di masing-masing wilayah.
MBG diarahkan membentuk kebiasaan sehat dan karakter
Deputi Bidang Promosi dan Kerja Sama Badan Gizi Nasional (BGN) Mariman Darto menegaskan, MBG perlu ditempatkan sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas, bukan sekadar pemenuhan asupan makanan bagi peserta didik.
Menurut dia, pelaksanaan MBG perlu berjalan beriringan dengan edukasi keamanan pangan, literasi gizi, pendidikan karakter, serta pembiasaan perilaku hidup bersih dan sehat.
“Literasi gizi bukan hanya soal pengetahuan anak yang meningkat, tapi memastikan aksesibilitas terhadap sumber pengetahuan,” kata Mariman.
Karena itu, satuan pendidikan perlu membangun ekosistem yang mendukung literasi gizi dengan melibatkan keluarga dan komite sekolah. Pembiasaan seperti mencuci tangan, mengantre, berdoa sebelum makan, makan bersama, menjaga kebersihan, hingga memastikan makanan dikonsumsi di tempat dipandang sebagai bagian dari proses pendidikan.
“Peran UPT membangun ekosistem sekolah dengan literasi gizi itu penting. Parenting gizi pada keluarga juga penting melalui komite sekolah. Esensi MBG bukan hanya memberi makan, tapi gerakan pembangunan karakter,” ujar Mariman.
Dengan pendekatan tersebut, keberhasilan MBG tidak hanya diukur dari tersalurkannya makanan kepada peserta didik. Program itu juga diharapkan menghasilkan perubahan pengetahuan dan perilaku yang terbentuk secara berkelanjutan.
Implementasi disesuaikan dengan kondisi daerah
Direktur SMP Kemendikdasmen Mega Hapsari mengatakan, konsolidasi UPT memiliki posisi strategis karena mempertemukan penanggung jawab program SMP serta pengelola kegiatan peserta didik dan UKS yang berkaitan dengan pelaksanaan MBG.
Forum itu juga menjadi ruang untuk memperkuat sinergi dan pertukaran praktik baik antardaerah. Perbedaan kondisi geografis dan karakteristik masyarakat membuat penerapan edukasi gizi perlu disesuaikan dengan konteks masing-masing wilayah.
“Kami berharap edukasi gizi ini bisa lebih masif dilaksanakan. Panduan modul kantin sekolah dan pelaksanaan MBG sudah lengkap dan disesuaikan dengan perkembangan sekarang,” jelas Mega.
Kemendikdasmen juga telah melakukan studi dampak pelaksanaan MBG melalui kolaborasi dengan Center of Excellence IPB dan Tanoto Foundation. Studi tersebut dilaksanakan di Riau dan Jawa Tengah untuk melihat dampak program dari berbagai perspektif.
Hasil pembelajaran dan praktik baik dari berbagai daerah kemudian menjadi bagian penting dalam penguatan implementasi edukasi gizi di satuan pendidikan.
Penguatan edukasi gizi melibatkan Kemendikdasmen, BGN, UPT, pemerintah daerah, satuan pendidikan, keluarga, dan mitra terkait. Program tersebut diarahkan agar tidak menjadi kegiatan tambahan semata, melainkan bagian dari budaya sekolah.
Dengan demikian, peserta didik diharapkan tidak hanya memperoleh makanan bergizi, tetapi juga memahami apa yang dikonsumsi, menjaga kebersihan, serta membangun kebiasaan sehat yang dapat dibawa hingga dewasa.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.

















