Headline.co.id, Kota Gorontalo ~ Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Provinsi Gorontalo mengadakan pelatihan bahasa isyarat bagi petugas kesehatan di puskesmas dan rumah sakit. Pelatihan ini bertujuan untuk mewujudkan layanan kesehatan yang inklusif bagi penyandang disabilitas. Kegiatan ini berlangsung di Hotel El Madinah, Kota Gorontalo, pada Jumat (3/7/2026).
Kepala Dinkes P2KB Provinsi Gorontalo, Anang S Otoluwa, menegaskan pentingnya pelayanan kesehatan yang dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat tanpa diskriminasi. “Pengintegrasian bahasa isyarat adalah langkah nyata dalam transformasi layanan kesehatan yang inklusif dan humanis,” ujarnya. Pelatihan ini menggabungkan metode pembelajaran daring dan luring, dan merupakan bagian dari upaya mendukung pencapaian prioritas pembangunan kesehatan yang inklusif.
Inovasi Pelatihan Kesehatan
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Erni Nuraini Mansur, yang juga Ketua Panitia, menjelaskan bahwa pelatihan tahun ini menghadirkan inovasi dengan memasukkan materi Keterampilan Dasar Bahasa Isyarat ke dalam kurikulum pelatihan petugas TB. Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan yang ramah disabilitas, sehingga komunikasi dengan pasien Tuli dapat berlangsung lebih efektif.
Kolaborasi dengan Komunitas
Materi keterampilan dasar bahasa isyarat disampaikan oleh narasumber dari GERKATIN dan Komunitas Rangkul Asa. Mereka memberikan pembelajaran mengenai komunikasi dasar dengan penyandang Tuli sekaligus membangun pemahaman peserta tentang pentingnya pelayanan kesehatan yang aksesibel. Para peserta menyambut positif materi tersebut, dengan salah seorang peserta mengungkapkan bahwa pembelajaran bahasa isyarat memberikan pengalaman baru yang sangat bermanfaat dalam meningkatkan kualitas pelayanan kepada pasien.
Pelatihan ini merupakan bagian dari implementasi Transformasi Kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan. Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan komunikasi dengan pasien Tuli dapat lebih efektif, mendukung keberhasilan pengobatan, dan memastikan setiap pasien mendapatkan pelayanan yang setara dan bermartabat.






















