Headline.co.id, Jakarta ~ Indonesia menawarkan pendekatan religious diplomacy atau diplomasi agama untuk memperkuat perdamaian dunia. Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan gagasan itu dalam podcast Detik bertema “Masjid Harmony, Religious Diplomacy and Global Peace” di Jakarta, 10 September 2026. Pendekatan tersebut dikembangkan Kementerian Agama bersama Masjid Istiqlal dengan memanfaatkan nilai-nilai agama dan peran pemimpin umat untuk membangun kohesi sosial serta meredam konflik. Gagasan itu juga akan dikampanyekan melalui International Grand Imams Conference (IGIC) di Indonesia.
Nasaruddin mengatakan pengalaman Indonesia dalam mengelola keberagaman menjadi modal penting untuk berkontribusi dalam menciptakan perdamaian global. Menurut dia, kerukunan yang terbangun di tengah keberagaman Indonesia merupakan kekuatan sosial yang perlu terus dijaga.
“Indonesia ini adalah ibaratnya sebuah lukisan yang super indah. Lukisan itu artinya ada konfigurasi warna yang dibingkai dalam satu bingkai yang sangat menarik. Itulah Indonesia,” ujar Nasaruddin.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Religious diplomacy berangkat dari pengalaman Indonesia
Nasaruddin mengungkapkan Indonesia memiliki ribuan pulau, ratusan bahasa lokal, dan ribuan etnik yang hidup dalam satu kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Persamaan sejarah, kehidupan keagamaan, serta Pancasila disebut menjadi sejumlah faktor yang mengikat keberagaman tersebut.
Menurut Menag, kondisi itu merupakan modal sosial bagi Indonesia untuk berkontribusi dalam percakapan global mengenai perdamaian. Ia menilai stabilitas sosial dan keagamaan menjadi prasyarat penting bagi pembangunan.
“Bagaimana bisa membangun negeri ini kalau tidak aman? Sehebat apa pun kekayaan negara kita, kalau gak ada kerukunan, keamanan, gak mungkin,” katanya.
Dalam konteks global, Kementerian Agama bersama Masjid Istiqlal mengembangkan religious diplomacy dengan menggunakan nilai-nilai universal agama untuk membangun kohesi sosial dan mengurangi konflik. Nasaruddin mengatakan pendekatan itu mencoba menempatkan bahasa agama sebagai sarana untuk mencari titik temu dalam persoalan kemanusiaan.
“Kita mencoba, bisa gak kita menggunakan bahasa agama untuk mengeliminir konflik ini. Nah, ini kan belum pernah dicobakan secara formal,” ujarnya.
Ia menambahkan, puluhan duta besar telah menghadiri dan tertarik membahas religious diplomacy di Istiqlal. Menurut Nasaruddin, nilai-nilai agama memiliki titik temu dalam aspek penghormatan terhadap kemanusiaan.
Agama-agama, kata dia, sama-sama mengajarkan penolakan terhadap ketidakadilan, kekerasan, dan tindakan yang merugikan manusia.
“Kalau kita menggunakan bahasa keagamaan untuk menciptakan suatu kohesi sosial, integrasi masyarakat dunia, ya, itu akan lebih efektif,” katanya.
IGIC bahas peran masjid dan perdamaian
Gagasan religious diplomacy menjadi salah satu landasan penyelenggaraan International Grand Imams Conference (IGIC) di Indonesia. Konferensi tersebut mempertemukan imam dan tokoh Islam dari berbagai kawasan, termasuk Asia, Eropa, Amerika, dan Timur Tengah.
Konferensi mengangkat tema “Masjid Harmoni, Religious Diplomacy and Global Peace”. Selain memperkenalkan diplomasi agama, forum itu akan membahas peran masjid dalam membangun keharmonisan lintas agama dan etnik serta penguatan ekoteologi.
Nasaruddin mengatakan masjid dapat berfungsi lebih luas, bukan hanya sebagai tempat ibadah. Masjid juga dapat menjadi pusat interaksi sosial, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.
Ia mencontohkan Masjid Istiqlal yang mengembangkan berbagai fasilitas yang bisa diakses publik serta kerja sama internasional. Menurut dia, fungsi tersebut menunjukkan masjid dapat mengambil peran dalam membangun hubungan sosial dan memperkuat pesan perdamaian.
Masyarakat diajak mengenal keberagaman ekspresi keagamaan
Nasaruddin berharap masyarakat Indonesia turut mengambil bagian dalam kegiatan yang pertama kali diselenggarakan di Indonesia tersebut. Masyarakat dapat mengakses kegiatan yang terbuka untuk publik serta mengikuti pesan-pesan para ulama yang hadir.
“Jadi nanti bukan hanya kita akan melakukan konferensi imam, tapi juga misalnya bagaimana salawatnya, Whirling Dervishes-nya Turki, dan bagaimana salawatnya tradisionalnya Mesir. Itu nanti akan menciptakan suatu konfigurasi yang sangat indah,” ujar Nasaruddin.
Menurut dia, perjumpaan para imam besar dari berbagai negara menjadi kesempatan bagi masyarakat Indonesia untuk mengenal keberagaman ekspresi keagamaan sekaligus menyebarkan pesan perdamaian.
“Mari kita menjadi tuan rumah yang baik, mari kita viralkan statement-statement ulama,” katanya.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.

















