Highlight Berita:
Headline.co.id, Jakarta ~ Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda terus mengalami perubahan bentuk dan karakter aktivitas setelah keruntuhan besar pada 2018, sementara perkembangan terbarunya menunjukkan tingkat aktivitas telah turun dari Level III Siaga menjadi Level II Waspada sejak 21 September 2026 pukul 18.30 WIB. Penelitian yang masih berlangsung menemukan Krakatau berkembang melalui siklus pertumbuhan, erupsi, keruntuhan, dan pembangunan kembali, sehingga perubahan yang terlihat saat ini merupakan bagian dari proses dinamis gunung api. Dalam periode pertumbuhan kembali itu, material vulkanik juga terakumulasi hingga membentuk daratan baru sekitar 30,3 hektare di antara Pulau Anak Krakatau dan Pulau Sertung.
Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional, Dini Nurfiani, menjelaskan bahwa memahami Anak Krakatau tidak cukup hanya dengan melihat satu erupsi. Perubahan sistem magma, material penyusun, bentuk tubuh gunung, gaya erupsi, hingga kondisi lingkungan saling berkaitan dan dapat berubah dari waktu ke waktu.
“Sejarah erupsi Anak Krakatau menunjukkan bahwa gunung api ini berkembang melalui siklus pertumbuhan, erupsi, keruntuhan, dan pembangunan kembali. Setelah kolaps pada 2018, morfologi dan gaya erupsi berubah secara drastis, lalu diikuti fase pertumbuhan kembali melalui erupsi dan pembentukan lava baru,” kata Dini dalam keterangan di Jakarta, Rabu.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Keruntuhan 2018 Mengubah Tubuh Anak Krakatau
Perubahan besar pada Krakatau terjadi ketika sektor barat daya Anak Krakatau runtuh ke laut pada 2018. Dini memaparkan volume material yang terlibat dalam keruntuhan tersebut sekitar 0,116 kilometer kubik.
Keruntuhan itu menghilangkan sebagian besar tubuh gunung yang berada di atas permukaan laut. Ketinggian puncak yang sebelumnya sekitar 330 meter turun menjadi sekitar 120 meter. Peristiwa tersebut juga memicu tsunami di Selat Sunda.
Dampaknya tidak berhenti pada perubahan bentuk fisik gunung. Hilangnya sebagian besar tubuh Anak Krakatau secara tiba-tiba juga memengaruhi sistem erupsi karena tekanan pada saluran magma berkurang, sementara air laut masuk ke kawah yang terbuka.
“Perbandingan morfologi sebelum dan setelah runtuhan 2018 menunjukkan perubahan yang sangat besar. Bentuk kerucut yang sebelumnya relatif tinggi berubah menjadi morfologi yang lebih rendah dan terbuka, kemudian secara bertahap dibangun kembali oleh aktivitas erupsi berikutnya,” ujar Dini.
Mengapa Gaya Erupsi Anak Krakatau Berubah
Penelitian terhadap Anak Krakatau menunjukkan bentuk tubuh gunung dan kondisi lingkungan memiliki hubungan dengan karakter aktivitasnya. Setelah keruntuhan 2018, perubahan morfologi disertai perubahan gaya erupsi.
Air laut yang masuk ke bagian kawah terbuka menjadi salah satu kondisi yang menyertai perubahan sistem tersebut. Pada periode berikutnya, aktivitas Anak Krakatau berkembang dari erupsi yang masih dipengaruhi interaksi air menuju pola erupsi Strombolian, lava fountain, dan aliran lava.
Temuan itu berasal dari penelitian yang melibatkan BRIN, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, University of Birmingham, ITB, Penn State University, British Geological Survey, serta University of Oxford. Penelitian masih berlangsung untuk melihat bagaimana sistem Anak Krakatau berkembang setelah kolaps.
Dini menekankan perilaku gunung api tidak bersifat tetap. Karakter aktivitas dapat berubah mengikuti perkembangan tubuh gunung, sistem magma, serta kondisi lingkungan.
“Catatan erupsi Anak Krakatau memperlihatkan bahwa perilaku gunung api tidak selalu tetap, tetapi dapat berubah mengikuti perkembangan tubuh gunung, sistem magma, dan kondisi lingkungannya,” tutur Dini Nurfiani.
Sejak 2019 Krakatau Memasuki Fase Rekonstruksi
Sejak 2019, Anak Krakatau memasuki fase rekonstruksi dan pertumbuhan kembali. Material hasil aktivitas erupsi secara bertahap membangun kerucut baru di dalam kawah yang terbentuk setelah keruntuhan 2018.
Salah satu proses pertumbuhan terlihat pada pembentukan lava pada 2020. Lava tersebut menumpuk di atas material yang sebelumnya terbentuk melalui aktivitas setelah keruntuhan.
Fase tersebut memperlihatkan bahwa setelah kehilangan sebagian besar tubuhnya, Anak Krakatau tidak berhenti berkembang. Aktivitas erupsi justru secara bertahap membentuk kembali morfologi gunung.
Dalam pandangan Dini, rangkaian perkembangan itu menjadi alasan mengapa satu kejadian erupsi tidak dapat digunakan sendirian untuk menggambarkan karakter Krakatau dalam jangka panjang. Kondisi yang terlihat merupakan hasil interaksi banyak proses yang terus berkembang.
Daratan Baru Menjadi Bagian dari Perubahan Morfologi
Perubahan terbaru juga terlihat dari kemunculan daratan baru sekitar 30,3 hektare di antara Pulau Anak Krakatau dan Pulau Sertung. Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau Suwarno mengatakan daratan itu merupakan hasil dari material erupsi yang terakumulasi di kawasan sekitar gunung api.
“Ya, hasil dari letusan kemarin itu. Kurang lebih 30,3 hektare,” kata Suwarno, Rabu (23/9/2026).
Material tersebut tidak menumpuk dalam satu waktu. Hasil erupsi dari periode aktivitas Anak Krakatau secara bertahap terakumulasi hingga membentuk daratan yang kini terlihat di kawasan Selat Sunda.
Kemunculan daratan tersebut memunculkan narasi mengenai ‘cucu Krakatau’. Namun, Suwarno belum memastikan istilah tersebut dan menegaskan bahwa terbentuknya endapan material vulkanik tidak otomatis menandakan hadirnya gunung api baru.
Pergerakan magma di bawah permukaan juga tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan perubahan yang tampak di permukaan. “Ya, namanya magma gitu kan, dia mencari celah-celah yang lebih ringan akan keluar,” ujarnya.
Apa Arti Status Level II Waspada Saat Ini
Di tengah proses perubahan morfologi tersebut, Badan Geologi menurunkan tingkat aktivitas Anak Krakatau dari Level III Siaga menjadi Level II Waspada sejak 21 September 2026 pukul 18.30 WIB.
Keputusan tersebut didasarkan pada analisis dan evaluasi menyeluruh. Aktivitas kegempaan tercatat cenderung menurun hingga 20 September 2026, sedangkan data deformasi menunjukkan adanya penurunan atau deflasi.
Penurunan status memungkinkan masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung menjalankan aktivitas seperti biasa dengan tetap meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti arahan BPBD setempat. Namun, larangan memasuki radius dua kilometer dari pusat aktivitas Anak Krakatau tetap berlaku bagi masyarakat, wisatawan, pengunjung, maupun pendaki.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Tangerang Mahdiar juga meminta masyarakat tidak terpancing kabar yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, termasuk isu mengenai erupsi Anak Krakatau yang disebut dapat menimbulkan tsunami.
“Kami mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak terpancing isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Pantau informasi resmi dari pemerintah, BPBD, maupun Badan Geologi dan ikuti arahan yang disampaikan apabila terdapat perkembangan aktivitas,” ujar Mahdiar.
Perkembangan Anak Krakatau akan terus dievaluasi secara berkala atau ketika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan. Masyarakat dapat mengikuti informasi melalui Magma Indonesia dan kanal resmi Badan Geologi. Rangkaian perubahan sejak keruntuhan 2018 hingga pertumbuhan kembali saat ini menunjukkan bahwa Krakatau merupakan sistem gunung api yang terus berkembang, sehingga pemantauan jangka panjang tetap menjadi bagian penting dalam memahami perilakunya.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.


















