Headline.co.id, Bone Bolango ~ Petani di Desa Poowo, Kabupaten Bone Bolango, memanfaatkan irigasi perpompaan air tanah untuk memenuhi kebutuhan air tanaman padi di tengah ancaman kekeringan. Irigasi tersebut dikembangkan sebagai upaya alternatif untuk mencegah gagal panen ketika debit air irigasi permukaan mulai berkurang. Meski pembangunannya belum sepenuhnya selesai, fasilitas itu telah digunakan untuk mengairi areal persawahan seluas kurang lebih 5 hektare. Informasi tersebut disampaikan Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DKPTPH) Provinsi Gorontalo, Grace Rawung, pada Jumat (18/9/2026).
Irigasi Perpompaan Air Tanah Antisipasi Kekurangan Air
Pengembangan irigasi perpompaan menjadi salah satu langkah untuk menjaga pertanaman padi dari potensi gagal panen akibat kekeringan. Di Desa Poowo, sumber air tanah dimanfaatkan melalui sistem perpompaan karena memiliki potensi debit yang memungkinkan untuk mendukung pengairan sawah.
Grace mengatakan, pemanfaatan irigasi perpompaan dilakukan untuk membantu petani memenuhi kebutuhan air tanaman padi, terutama saat pasokan dari jaringan irigasi permukaan menurun.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Pengembangan irigasi perpompaan menjadi salah satu upaya alternatif dalam menyelamatkan pertanaman padi dari potensi gagal panen akibat kekeringan. Meskipun pembangunan irigasi perpompaan di Desa Poowo belum sepenuhnya selesai, petani sudah dapat memanfaatkannya untuk memenuhi kebutuhan air tanaman padi,” ujar Grace.
Menurut dia, keberadaan fasilitas tersebut diharapkan memberi dukungan bagi areal persawahan yang berada di bagian hilir jaringan irigasi. Wilayah tersebut berpotensi mengalami kekurangan pasokan ketika debit air irigasi permukaan mulai berkurang.
Potensi Air Tanah Dukung Pengairan 5 Hektare Sawah
Irigasi perpompaan di Desa Poowo memanfaatkan potensi air tanah yang tersedia di lokasi. Debit air tersebut diperkirakan mampu mendukung kebutuhan pengairan sawah dengan luas kurang lebih 5 hektare.
“Dengan adanya irigasi perpompaan, diharapkan kebutuhan air tanaman padi tetap dapat terpenuhi meskipun debit air pada irigasi permukaan mengalami penurunan. Potensi air tanah yang tersedia di lokasi ini memungkinkan untuk mendukung pengairan sawah seluas kurang lebih 5 hektare,” jelas Grace.
Pemanfaatan irigasi perpompaan tersebut memberikan alternatif bagi petani untuk memperoleh pasokan air. Sistem itu digunakan ketika ketersediaan air dari jaringan irigasi permukaan tidak lagi mencukupi kebutuhan lahan persawahan.
Ketersediaan Air Tanah Jadi Perhatian
Meski dinilai membantu mengantisipasi kekurangan air, pengembangan irigasi perpompaan tidak dapat diterapkan secara seragam di setiap lokasi. Kondisi sumber air tanah menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan sebelum fasilitas tersebut dikembangkan.
Grace menyebut potensi air tanah berbeda-beda di setiap areal persawahan. Karena itu, kecukupan sumber air tanah menjadi tantangan dalam mendukung kegiatan usaha tani, khususnya tanaman padi.
“Tidak semua lokasi areal persawahan memiliki potensi air tanah yang memadai untuk mendukung kegiatan usaha tani, khususnya tanaman padi. Oleh karena itu, kondisi dan ketersediaan sumber air tanah perlu menjadi perhatian dalam pengembangan irigasi perpompaan,” tambahnya.
Di Desa Poowo, irigasi perpompaan masih dalam tahap pembangunan. Namun, fasilitas yang memanfaatkan sumber air tanah itu sudah dapat digunakan petani untuk menjaga kebutuhan air tanaman padi dan mengurangi risiko gagal panen akibat kekeringan.



















