Headline.co.id, Jakarta ~ Hotspot karhutla di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat menurun signifikan hingga Minggu (13/9/2026), berdasarkan pemantauan Kementerian Kehutanan (Kemenhut). Penurunan itu terjadi saat Kemenhut bersama tim gabungan memperkuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan melalui operasi darat, water bombing, patroli udara, serta Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Upaya tersebut dilakukan untuk mencegah indikasi kebakaran berkembang menjadi titik api dan memastikan kondisi di lapangan melalui groundcheck.
Data SiPongi Kemenhut yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 mencatat hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence di Kalimantan Tengah turun dari 197 menjadi 89 titik. Di Kalimantan Barat, jumlahnya berkurang dari 91 menjadi 14 titik hingga pukul 21.20 WIB.
Meski demikian, jumlah hotspot secara nasional meningkat dari 567 menjadi 592 titik. Perubahan juga terjadi di sejumlah provinsi prioritas lain, sehingga pemerintah tetap meminta patroli dan verifikasi lapangan dilakukan secara intensif.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Kemenhut menjelaskan, hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit. Data tersebut tidak serta-merta menunjukkan luas maupun jumlah kejadian kebakaran yang berlangsung di suatu wilayah.
Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot. Karena itu, setiap indikasi perlu diverifikasi melalui groundcheck untuk mengetahui kondisi aktual di lapangan.
Selain penurunan di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat, hotspot high confidence di Sumatera Selatan juga turun dari 62 menjadi 49 titik. Sebaliknya, Kalimantan Selatan mengalami peningkatan dari tujuh menjadi 28 titik. Jambi, yang sehari sebelumnya nihil, kembali terdeteksi memiliki 17 hotspot. Riau tetap nihil hotspot high confidence.
Manggala Agni Kemenhut bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, dan para pihak melakukan patroli, groundcheck, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, mopping up, serta pendinginan.
Operasi Pemadaman dan Pendinginan Terus Berjalan
Penurunan hotspot belum berarti seluruh api di lapangan telah padam. Di Sumatera Selatan, operasi pemadaman masih berlangsung hingga 13 September. Manggala Agni melakukan pemadaman di salah satu lokasi karhutla yang telah memasuki hari kedelapan.
Satgas gabungan juga memperkuat penanganan kebakaran lahan gambut sekaligus melindungi kawasan konservasi. Pada lahan gambut, bara dapat bertahan di bawah permukaan. Karena itu, pembasahan, pemadaman, dan pendinginan dilakukan berkelanjutan sampai lokasi benar-benar dinyatakan aman.
Untuk mendukung operasi, pemerintah menyiagakan 53 unit armada udara di enam provinsi prioritas. Sebanyak 34 armada digunakan untuk water bombing, sedangkan 19 armada lainnya dikerahkan untuk patroli udara dan mendukung OMC.
Pemerintah Jepang turut memperkuat operasi udara dengan mengirimkan tiga helikopter CH-47 Chinook yang telah tiba di Kalimantan Barat. Helikopter tersebut dipersiapkan untuk mendukung water bombing dan diintegrasikan dengan keseluruhan operasi penanganan karhutla pemerintah.
OMC Digelar di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah
Selain pemadaman, OMC Kemenhut di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah terus dilakukan sebagai bagian dari strategi pembasahan gambut dan pengendalian karhutla.
Berdasarkan laporan operasi hingga 11 September, OMC di Kalimantan Barat telah melaksanakan sembilan sortie menggunakan 7.200 kilogram NaCl. Operasi itu menghasilkan estimasi volume air hujan sekitar 87,9 juta meter kubik.
Sementara itu, OMC di Kalimantan Tengah telah dilakukan sebanyak tujuh sortie dengan menggunakan 5.600 kilogram NaCl. Estimasi volume air hujan yang dihasilkan mencapai sekitar 22,9 juta meter kubik.
Penguatan operasi tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto agar setiap hotspot ditangani sedini mungkin tanpa menunggu berkembang menjadi titik api. Pemerintah juga mendorong edukasi kepada masyarakat hingga tingkat desa serta memperkuat penegakan hukum terhadap pembakaran yang dilakukan secara sengaja, termasuk apabila melibatkan korporasi.
Kualitas Udara Masih Perlu Diwaspadai
Di tengah pengendalian karhutla, kualitas udara di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan masih perlu diwaspadai. Pemantauan PM2,5 menunjukkan sebagian besar wilayah Indonesia berada dalam kategori baik hingga sedang, tetapi sejumlah area tercatat berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Beberapa bagian Kalimantan bahkan terpantau dalam kategori berbahaya.
Pemantauan BMKG juga menunjukkan udara kabur masih terjadi di sejumlah wilayah. Pada dini hari 13 September, jarak pandang di Pontianak tercatat sekitar tiga kilometer, sedangkan di Banjarmasin sekitar dua kilometer.
Di wilayah Tanjung Api-Api, Sumatera Selatan, jarak pandang pada dini hingga pagi hari berkisar dua hingga empat kilometer. Kondisi itu menunjukkan dampak partikulat dan udara kabur masih perlu diperhatikan meskipun jumlah hotspot dapat berubah dari hari ke hari.
Masyarakat di wilayah dengan kualitas udara memburuk diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar. Anak-anak, ibu hamil, lansia, serta masyarakat dengan riwayat gangguan pernapasan perlu mendapat perhatian lebih.
Kemenhut juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Apabila menemukan asap, titik api, atau aktivitas pembakaran, masyarakat diminta segera melapor agar petugas dapat melakukan respons sedini mungkin.



















