Headline.co.id, Sleman ~ Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bersama Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DIY menggelar sosialisasi strategi menghadapi bencana di Kalurahan Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Rabu (16/9/2026). Kegiatan ini ditujukan untuk meningkatkan kapasitas relawan dalam menghadapi ancaman gempa bumi dari zona subduksi megathrust di selatan Pulau Jawa. Sosialisasi dilakukan melalui penguatan pemetaan risiko, sistem peringatan dini, pemahaman jalur evakuasi mandiri, serta komunikasi kebencanaan.
Forum tersebut juga membahas ancaman bencana hidrometeorologi, termasuk fenomena El Nino yang dapat memicu kekeringan dan menurunkan pasokan air bersih. Selain relawan, kesiapsiagaan masyarakat menjadi perhatian karena informasi kebencanaan perlu diteruskan secara tepat agar warga tidak panik dan mampu mengambil langkah penyelamatan ketika bencana terjadi.
Relawan Jadi Garda Terdepan Mitigasi Bencana
Anggota DPRD DIY Yuni Satia Rahayu mengatakan relawan memiliki posisi strategis dalam membangun budaya sadar bencana di tingkat lokal. Peran tersebut membuat relawan perlu memiliki pemahaman mengenai manajemen bencana dan mampu menyampaikan pengetahuan itu kepada masyarakat.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Menurut Yuni, kesiapsiagaan tidak semestinya dibangun ketika keadaan darurat sudah terjadi. Upaya tersebut harus dilakukan secara berkelanjutan dengan mengenali risiko di lingkungan, memperkuat sistem peringatan dini, dan memahami jalur evakuasi mandiri.
“Relawan harus memahami manajemen bencana karena mereka menjadi bagian penting dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat. Pengetahuan tersebut harus diteruskan kepada warga agar masyarakat tidak panik dan mengetahui langkah penyelamatan yang tepat saat guncangan terjadi,” ujar Yuni.
Ia menilai penyampaian pengetahuan kebencanaan kepada warga menjadi bagian penting dari upaya mengurangi risiko. Dengan pemahaman yang lebih baik, masyarakat diharapkan dapat mengetahui tindakan yang harus dilakukan saat menghadapi guncangan atau ancaman bencana lainnya.
Waspadai Gempa, Tsunami, dan Kekeringan
Sosialisasi di Banyuraden tidak hanya menyoroti ancaman gempa bumi dan tsunami. Yuni juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai bencana hidrometeorologi yang dapat terjadi akibat perubahan kondisi lingkungan dan cuaca.
Fenomena El Nino disebut dapat memicu kekeringan serta penurunan pasokan air bersih. Karena itu, edukasi mengenai pengelolaan sumber daya air dan kewaspadaan terhadap lingkungan perlu menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari masyarakat.
Pengelolaan sumber daya air menjadi perhatian dalam menghadapi potensi kekeringan. Masyarakat didorong untuk memahami pentingnya menjaga ketersediaan air sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko lingkungan yang dapat muncul.
Komunikasi Kebencanaan Harus Akurat
Lurah Banyuraden Sudarisman menekankan pentingnya penyampaian informasi kebencanaan yang terkoordinasi dan akurat. Menurutnya, informasi yang tidak terkelola dengan baik dapat memicu keresahan publik.
Koordinasi relawan, pemerintah kalurahan, kapanewon, dan BPBD DIY diharapkan dapat memperkuat kapasitas komunikasi kedaruratan di Banyuraden. Kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya menghadapi berbagai potensi ancaman bencana di wilayah setempat.
Melalui sosialisasi ini, kesiapsiagaan dibangun tidak hanya pada tingkat relawan, tetapi juga di tengah masyarakat. Pengetahuan mengenai risiko, peringatan dini, jalur evakuasi, pengelolaan air, serta penyampaian informasi menjadi unsur yang ditekankan dalam membentuk masyarakat yang lebih tangguh menghadapi bencana.



















