Headline.co.id, Jakarta ~ Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan rencana pemerintah merekrut sarjana terbaik dari berbagai disiplin ilmu untuk menjadi guru. Rencana rekrutmen sarjana terbaik itu disiapkan sebagai bagian dari pembenahan sistem pendidikan nasional, terutama untuk sekolah yang masih mengalami ketertinggalan kualitas pembelajaran. Prabowo menyampaikan hal tersebut dalam program Presiden Prabowo Menjawab pada Rabu (16/9/2026), saat membahas rendahnya kemampuan numerasi sebagian peserta didik sekolah dasar. Pemerintah menyiapkan langkah itu melalui program percepatan atau crash program, peningkatan kompetensi guru, dan digitalisasi pembelajaran.
Prabowo menegaskan, perbaikan pendidikan harus dimulai dari kualitas tenaga pendidik. Menurut dia, perubahan metode pembelajaran dan penyediaan teknologi tidak akan cukup apabila tidak disertai pembenahan guru yang mengajar langsung di ruang kelas.
“Seluruh sistem pendidikan itu harus diperbaiki. Mulai dari rekrutmen guru yang paling utama,” ujar Prabowo.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Rekrutmen Sarjana Terbaik untuk Sekolah Tertinggal
Dalam rencana yang sedang dipertimbangkan, pemerintah akan merekrut lulusan perguruan tinggi terbaik dari berbagai bidang ilmu untuk membantu memenuhi kebutuhan guru di sekolah yang paling tertinggal. Program tersebut diarahkan sebagai langkah cepat untuk memperkuat kapasitas pembelajaran, terutama pada jenjang sekolah dasar.
Prabowo memberikan gambaran bahwa dari sekitar 300 ribu sekolah, pemerintah dapat memulai program dengan merekrut sekitar 30 ribu sarjana. Mereka akan ditempatkan di sekolah-sekolah yang membutuhkan dukungan pembelajaran.
“Salah satu langkah yang sedang saya pikirkan untuk mengatasi masalah ini adalah crash program, mungkin saya akan rekrut sarjana-sarjana dari semua fakultas yang terbaik untuk menjadi guru-guru. Katakanlah guru-guru darurat yang kita terjunkan ke sekolah,” ujar Prabowo Subianto.
Presiden mengatakan, pelaksanaan program itu dapat difokuskan terlebih dahulu pada sekolah-sekolah dengan tingkat ketertinggalan pembelajaran yang tinggi. Dengan demikian, intervensi pemerintah diharapkan dapat memberikan dampak lebih cepat terhadap kualitas belajar peserta didik.
Pengangkatan Guru Perlu Dievaluasi
Selain menyiapkan rekrutmen sarjana terbaik, pemerintah membahas kemungkinan mengembalikan kewenangan pengangkatan guru kepada pemerintah pusat. Prabowo menyebut desentralisasi merupakan bagian dari semangat demokratisasi dan memiliki tujuan yang baik.
Namun, dia menilai proses rekrutmen guru di daerah tetap perlu dievaluasi. Evaluasi dibutuhkan untuk menjaga standar kualitas dan objektivitas pengangkatan tenaga pendidik.
Pemerintah, kata Prabowo, perlu memastikan pengangkatan guru dilakukan berdasarkan kompetensi dan kebutuhan sekolah. Hal itu dinilai penting agar proses rekrutmen tidak dipengaruhi kedekatan atau kepentingan di luar kebutuhan pendidikan.
“Apakah kita yakini kualitasnya itu? Kita harus bicara realita. Apakah bupati itu objektif atau dia angkat saudara-saudara dia jadi guru? Tim sukses dia? Dan sebagainya. Ini yang jadi dilema bagi kita,” katanya.
Peningkatan Kompetensi Guru dan Digitalisasi
Pembenahan sistem pendidikan juga mencakup peningkatan kompetensi guru yang sudah mengajar di sekolah. Pemerintah mempertimbangkan pelaksanaan kursus, penataran, dan berbagai bentuk peningkatan kapasitas agar guru dapat mengikuti perkembangan metode pembelajaran serta pemanfaatan teknologi pendidikan.
“Sekarang, ya terpaksa mungkin kita harus bikin kursus-kursus, penataran-penataran, upgrading guru-guru itu,” kata Presiden.
Di sisi lain, pemerintah mempercepat digitalisasi pembelajaran untuk membantu mengurangi kesenjangan kualitas antar sekolah. Teknologi diharapkan dapat memperluas akses terhadap materi pembelajaran sekaligus mendukung guru dan peserta didik, terutama di sekolah yang masih memiliki keterbatasan tenaga pendidik berkualitas.
Prabowo mengatakan digitalisasi kelas akan dimanfaatkan agar guru yang kurang mampu dapat belajar melalui materi yang tersedia. Peserta didik juga diharapkan lebih tertarik mempelajari materi seperti berhitung dan aritmatika.
“Karena itulah saya mau lompat. Ini kesulitan, makanya saya taruh digitalisasi kelas-kelas itu semua, supaya nanti guru-guru yang kurang mampu bisa juga belajar dari situ. Dan anak-anak yang kurang mampu, tertarik belajar dari situ. Berhitung, aritmatika, dan sebagainya,” ujar Kepala Negara.
Meski demikian, Prabowo menegaskan digitalisasi tidak ditujukan untuk menggantikan peran guru. Teknologi diposisikan sebagai pendukung proses pembelajaran, sedangkan perbaikan pendidikan tetap bergantung pada kualitas dan kompetensi tenaga pendidik.
“Di ujungnya, perbaikan yang sebenarnya hanya dengan rekrutmen dan pendidikan guru. Hanya dengan itu,” tegas Prabowo.






