Highlight Berita:
Headline.co.id, Jakarta ~ Sejumlah video yang diklaim memperlihatkan gunung meletus beredar di media sosial dan dikaitkan dengan berbagai peristiwa, mulai dari banjir Sibolga hingga aktivitas Gunung Gede dan Gunung Anak Krakatau. Unggahan tersebut muncul di Facebook pada periode Mei 2024 hingga November 2025 dengan gambar dramatis yang berpotensi menimbulkan keresahan masyarakat. Berdasarkan materi cek fakta yang tersedia, tiga klaim video tersebut dinyatakan tidak benar. Kondisi ini menunjukkan pentingnya memeriksa sumber, waktu, dan konteks sebuah rekaman sebelum menjadikannya rujukan informasi kebencanaan.
Video Banjir Sibolga Dikaitkan dengan Erupsi Gunung
Salah satu klaim yang beredar menyebut sebuah video memperlihatkan erupsi gunung di tengah banjir Sibolga. Informasi tersebut diunggah oleh salah satu akun Facebook pada 29 November 2025.
Video itu menampilkan air berwarna cokelat yang permukaannya hampir setara dengan atap rumah. Pada bagian lain terlihat sebuah gunung yang tampak mengepulkan asap dan api dari puncaknya.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Dalam video terdapat tulisan, “Ya Allah lindungilah mereka yang terjebak banjir”.
Rekaman tersebut juga disertai narasi, “Yaallah lumpurnya makin tinggi, astaga itu mobilnya kebawa, pegang kuat kuat buk pegang. Lihat gunungnya meletus-meletus, semua naik naik ke atas.”
Unggahan itu kemudian diberi keterangan “Sibolga berduka”. Namun, dalam materi cek fakta, klaim bahwa video tersebut menunjukkan erupsi gunung di tengah banjir Sibolga dinyatakan tidak benar.
Klaim Erupsi Gunung Gede 2 April 2025
Klaim lain beredar melalui sebuah video yang disebut memperlihatkan detik-detik erupsi Gunung Gede pada 2 April 2025. Informasi tersebut diunggah salah satu akun Facebook pada 6 April 2025.
Video menampilkan sebuah kawasan dataran tinggi yang terlihat mengeluarkan kepulan asap berwarna gelap. Di dalam rekaman terdapat tulisan yang mengaitkan pemandangan tersebut dengan erupsi Gunung Gede.
Tulisan yang muncul dalam video berbunyi, “inna lillaahi Wa innaa ilaihi Rooji’uun Detik-detik Terjadinya Gunung Gede Erupsi tgl 2-April 2025”.
Pengunggah juga memberikan keterangan, “Detik -detik Terjadinya Erupsi Gunung Gede Bogor ,Jawa Barat tgl 02-April-2025 #Info #GunungGede #Erupsi #Bogor #JawaBarat”.
Meski video tersebut disertai lokasi dan tanggal yang spesifik, materi cek fakta menempatkan klaim bahwa rekaman itu menunjukkan detik-detik erupsi Gunung Gede pada 2 April 2025 sebagai informasi yang tidak benar.
Video Anak Krakatau Disebut Sedang Erupsi
Konten serupa juga pernah mencatut Gunung Anak Krakatau. Sebuah video yang diunggah melalui Facebook pada 4 Mei 2024 diklaim memperlihatkan Gunung Anak Krakatau sedang mengalami erupsi.
Rekaman tersebut memperlihatkan sebuah daratan di tengah perairan yang tampak mengeluarkan asap membumbung ke langit. Sejumlah perahu juga terlihat berada di perairan sekitar daratan tersebut.
Dalam video terdapat tulisan, “Yang belum tau, ini dia kalau aktiv anak krakatau kalau lagi erupsi”.
Video tersebut juga diberi keterangan, “Wujud sekitar gunung akan krakatau kalau sedang erupsi”.
Materi cek fakta menyatakan klaim bahwa video tersebut memperlihatkan Gunung Anak Krakatau sedang erupsi sebagai informasi yang tidak benar. Dengan demikian, visual yang beredar di media sosial tidak dapat langsung dijadikan bukti mengenai aktivitas gunung tanpa verifikasi lebih lanjut.
Informasi Erupsi Perlu Diverifikasi Sebelum Disebarkan
Tiga unggahan tersebut menunjukkan kemiripan pola penyebaran informasi. Video dengan visual banjir, kepulan asap, atau kawasan gunung diberi narasi tertentu sehingga seolah-olah merekam peristiwa erupsi pada lokasi dan waktu yang disebutkan oleh pengunggah.
Informasi mengenai gunung meletus dapat memicu keresahan apabila beredar tanpa konteks yang benar. Karena itu, masyarakat perlu mencermati asal rekaman, tanggal kejadian, lokasi, serta konteks video sebelum mempercayai atau meneruskannya kepada pengguna media sosial lainnya.
Keberadaan tulisan, lokasi, tanggal, maupun narasi dalam sebuah video tidak otomatis membuktikan bahwa rekaman tersebut benar-benar berasal dari peristiwa yang disebutkan. Verifikasi menjadi penting agar informasi kebencanaan yang beredar tidak menyesatkan masyarakat.


















