Highlight Berita:
Headline.co.id, Dunia ~ El Nino 2026-2027 diperkirakan menjadi salah satu episode terkuat dalam beberapa dekade, tetapi kekuatannya tidak berarti setiap wilayah akan mengalami bencana dengan tingkat yang sama. WMO memperkirakan peluang El Nino bertahan hingga Februari 2027 hampir 100 persen, dengan puncak intensitas sangat kuat menjelang akhir 2026. Kenaikan suhu permukaan laut di Pasifik tropis menjadi indikator utama penguatan tersebut, sementara dampak di daratan tetap ditentukan oleh lokasi, musim, dan interaksi dengan sistem iklim lain.
Penjelasan ini penting karena El Nino sering langsung dikaitkan dengan kekeringan atau banjir. WMO justru menekankan bahwa El Nino merupakan penggerak iklim berskala besar, bukan penentu tunggal bencana lokal. Wilfran Moufouma-Okia, Kepala Prediksi Iklim WMO, menyampaikan bahwa kepastian El Nino aktif hingga Februari 2027 tidak berarti banjir atau kekeringan pasti terjadi di wilayah tertentu.
Apa yang Membuat El Nino 2026-2027 Sangat Kuat?
El Nino adalah fase hangat dari El Nino-Southern Oscillation atau ENSO, sebuah pola iklim alami yang terjadi setiap dua hingga tujuh tahun. Fenomena ini ditandai peningkatan suhu permukaan laut di Pasifik khatulistiwa bagian tengah dan timur. Perubahan suhu laut kemudian memengaruhi sirkulasi atmosfer dan menggeser pola hujan serta suhu di berbagai kawasan dunia.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Pada 2026, penguatan terlihat jelas pada Indeks Nino 3.4. WMO mencatat anomali suhu rata-rata sekitar 1,5 derajat Celsius di atas normal pada Mei hingga Juli, kemudian mencapai sekitar 2 derajat Celsius di atas normal pada Juli. Nilai mingguan antara akhir Juli dan pertengahan Agustus meningkat lagi hingga kisaran 2,2 sampai 2,6 derajat Celsius di atas rata-rata.
Dalam bahan juga disebutkan bahwa suhu di bawah permukaan laut pada beberapa area Pasifik meningkat lebih dari 8 derajat Celsius. NOAA memperkirakan kemungkinan lebih dari 90 persen El Nino mencapai intensitas sangat kuat selama musim gugur dan musim dingin 2026-2027 di belahan bumi utara, sehingga dapat melampaui sebagian besar peristiwa El Nino sejak 1950.
Mengapa Dampaknya Tidak Sama di Setiap Negara?
Kekuatan El Nino menggambarkan besarnya anomali pada sistem laut-atmosfer di Pasifik, tetapi dampak di daratan sangat bergantung pada konteks setempat. WMO menyatakan dampaknya dapat berbeda menurut lokasi dan musim. Sebuah negara dapat mengalami pengurangan curah hujan, sementara wilayah lain justru menghadapi peningkatan hujan atau suhu yang lebih tinggi.
Untuk September hingga November 2026, WMO memperkirakan peningkatan kemungkinan suhu di atas normal di hampir seluruh daratan. Pola curah hujan juga diperkirakan menunjukkan respons terhadap El Nino Pasifik yang kuat. Namun, prakiraan itu tidak dapat dibaca sebagai kepastian bahwa setiap daerah akan mengalami kekeringan, banjir, atau gelombang panas dengan skala yang sama.
Celeste Saulo menegaskan kemampuan prediksi dan kesiapsiagaan dapat digunakan untuk mengurangi risiko. ‘Kami memiliki prediksi dan kapasitas untuk mengantisipasi serta melindungi kehidupan dan mata pencaharian,’ ujar Saulo. Ia menekankan perlunya antisipasi terutama pada produksi pertanian dan pengelolaan sumber daya air.
Peran Samudra Hindia dan Atlantik dalam Membentuk Dampak
WMO menjelaskan bahwa El Nino bukan satu-satunya faktor pengendali iklim. Fase positif Dipol Samudra Hindia atau Indian Ocean Dipole juga diperkirakan terbentuk, sementara wilayah khatulistiwa Samudra Atlantik diprediksi tetap hangat secara umum. Kedua kondisi tersebut dapat memperkuat, melemahkan, atau mengubah dampak khas El Nino di suatu wilayah.
Interaksi antarsamudra inilah yang membuat hubungan antara El Nino dan cuaca lokal tidak selalu sederhana. Dua periode El Nino dengan kekuatan serupa dapat menghasilkan pola dampak berbeda apabila kondisi Samudra Hindia, Atlantik, musim, dan sistem atmosfer yang menyertainya tidak sama.
Karena itu, WMO mendorong penggunaan prakiraan regional dan layanan meteorologi nasional untuk menerjemahkan sinyal El Nino global menjadi informasi risiko yang lebih spesifik. Pemantauan lokal tetap diperlukan untuk menentukan kapan dan di mana potensi gangguan terhadap pertanian, air, atau aktivitas masyarakat meningkat.
El Nino Alami, tetapi Pemanasan Global Dapat Memperparah Risiko
WMO menegaskan bahwa El Nino adalah fenomena iklim alami dan tidak disebabkan oleh perubahan iklim. Namun, bahan juga memuat hasil studi berbasis analisis koral di Kepulauan Galápagos yang menunjukkan intensitas El Nino meningkat sekitar 36 persen dibandingkan periode pra-industri, dengan kemungkinan keterkaitan pada pemanasan global akibat aktivitas manusia.
Pernyataan tersebut menunjukkan pentingnya membedakan penyebab dasar El Nino dan kondisi latar belakang iklim. El Nino tetap merupakan siklus alami, tetapi berlangsung di tengah dunia yang lebih hangat. Dalam keadaan seperti itu, gelombang panas atau cuaca ekstrem yang bertepatan dengan El Nino dapat memiliki dampak lebih berat.
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mengatakan, ‘Fenomena El Nino semakin besar di hadapan mata kita. Planet memasuki wilayah yang belum pernah dipetakan dan suhu terus meningkat.’ Dalam bahan, pernyataan itu dikaitkan dengan meningkatnya risiko cuaca ekstrem global.
Apa yang Perlu Diantisipasi hingga Februari 2027?
WMO memperingatkan bahwa El Nino kuat dapat memengaruhi masyarakat, ekonomi, pertanian, sumber daya air, harga pangan, dan rantai pasokan. Kekeringan serta banjir telah dilaporkan mulai terjadi di sejumlah wilayah, sementara perubahan curah hujan juga dirasakan di Amerika Tengah, India, Afrika, Asia Tenggara, Australia, dan Amerika Latin.
Saulo mengatakan, ‘El Nino ini memerlukan persiapan dan respons yang luar biasa.’ Fokus utama bukan menganggap bencana pasti terjadi, melainkan memanfaatkan prakiraan untuk memperkuat peringatan dini dan kesiapsiagaan sektor yang sensitif terhadap iklim.
Dengan peluang hampir 100 persen bertahan hingga Februari 2027, El Nino akan tetap menjadi faktor penting dalam pemantauan iklim beberapa bulan mendatang. Kekuatan fenomenanya memberi sinyal risiko yang tinggi, tetapi keputusan praktis tetap perlu mengacu pada prakiraan regional dan lokal agar respons tidak didasarkan pada asumsi bahwa semua wilayah akan mengalami dampak yang sama.



















