Headline.co.id, Jakarta ~ PT Freeport Indonesia (PTFI) bersama Tempo Institute memilih enam jurnalis dari Timika dan Nabire untuk mengikuti program fellowship penulisan profil sosok inspiratif Papua setelah rangkaian pelatihan dan lomba jurnalistik yang diikuti 27 peserta. Program lanjutan itu diumumkan dalam Malam Inaugurasi Jurnalis Timika dan Nabire di Hotel Horison Diana, Timika, Papua Tengah, Jumat, 28 Agustus 2026.
Melalui program tersebut, PTFI dan Tempo Institute mendorong jurnalis meningkatkan kemampuan menulis feature, memperkuat storytelling, serta beradaptasi dengan perubahan pola konsumsi informasi di era digital. Enam jurnalis terpilih akan menjalani fellowship selama dua bulan dengan tugas menghasilkan empat karya profil tambahan mengenai sosok inspiratif dari Papua.
Kolaborasi PTFI dan Tempo Institute juga diarahkan untuk memperkuat ekosistem informasi yang kredibel dan berkualitas di Papua Tengah. Para peserta tidak hanya mendapat pembekalan mengenai teknik penulisan jurnalistik, tetapi juga didorong memahami tantangan baru industri media, mulai dari perubahan perilaku audiens, penggunaan media sosial, kemampuan reportase langsung hingga tekanan terhadap bisnis media.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Enam Jurnalis Timika dan Nabire Terpilih
Enam penerima fellowship merupakan pemenang lomba penulisan feature profil bertema “Sosok Inspiratif di Tanah Papua”.
Dari Timika, juara pertama diraih Linda Bubun Langi dari PorosPapua.com. Juara kedua diraih Mauretsius M.L Sadipun dari Timika eXpress, sedangkan juara ketiga diraih Lidia D. Notan dari TimikaBisnis.com.
Sementara itu, dari Nabire, juara pertama diraih Joice Jafettin J.R dari Nabire News.com, juara kedua Arnold Paulus Sudilla dari RRI Nabire, dan juara ketiga Sitti Hawa dari Nabire.Net.
Sebanyak 27 jurnalis mengikuti perlombaan tersebut, terdiri atas 14 peserta dari Timika dan 13 peserta dari Nabire. Mereka mengangkat berbagai sosok yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari pedagang atau tukang sayur, guru, dokter, perajin hingga seniman.
Direktur Eksekutif Tempo Institute Qaris Tajudin mengatakan karya-karya peserta memperlihatkan bahwa cerita inspiratif tidak selalu harus berasal dari figur besar atau tokoh yang sudah dikenal publik.
“Dari 27 peserta, sebagian besar kisah yang ditulis sangat inspiratif, bukan kisah tokoh besar yang mudah ditemukan, melainkan kisah orang-orang biasa yang kita temui sehari-hari, namun menyimpan kisah luar biasa penuh human interest. Kisah-kisah ini layak diketahui lebih banyak orang, bahkan dibukukan,” ujar Qaris.
Menurut Qaris, kekuatan karya para peserta terletak pada pendekatan human interest dan kemampuan menemukan cerita penting dari kehidupan masyarakat sehari-hari.
“Kisah-kisah itu bukan tentang orang-orang besar yang bisa kita temukan di mana-mana. Ini kisah orang-orang biasa yang kita temui sehari-hari, tetapi mereka punya kisah yang luar biasa,” katanya.
Fellowship Berlangsung Dua Bulan
Malam inaugurasi bukan menjadi akhir rangkaian kolaborasi PTFI dan Tempo Institute. Program sebelumnya dimulai dengan pelatihan penulisan feature profil, dilanjutkan perlombaan karya jurnalistik, proses penjurian, hingga pemilihan enam penerima fellowship.
“Ini bukan puncak dalam arti bukan akhir dari kegiatan. Ada pelatihan, kemudian lomba, dan nanti dilanjutkan dengan fellowship,” kata Qaris.
Selama fellowship, masing-masing jurnalis akan mendapat tugas menulis empat profil tambahan mengenai sosok inspiratif dari Papua dalam waktu dua bulan.
Para penerima fellowship juga memperoleh dukungan dana atau penggantian biaya peliputan untuk menunjang proses jurnalistik di lapangan.
Karya-karya hasil program tersebut direncanakan dikumpulkan dan diterbitkan dalam bentuk buku digital sehingga cerita tentang sosok-sosok inspiratif dari Papua dapat menjangkau pembaca yang lebih luas.
Program fellowship dibuka secara simbolis dengan pemukulan tifa oleh External Communications Manager Corporate Communications PTFI Desy Saputra bersama CEO Tempo Digital sekaligus Ketua Umum Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Wahyu Dhyatmika.
Prosesi itu menandai dimulainya peliputan lanjutan bagi enam jurnalis terpilih.
PTFI Dorong Jurnalis Tetap Berpegang pada Data dan Fakta
External Communications Manager Corporate Communications PTFI Desy Saputra mengatakan kegiatan tersebut menjadi bentuk apresiasi terhadap kerja jurnalistik sekaligus dukungan agar wartawan terus meningkatkan kapasitas di tengah perubahan industri media.
“Kami terus mencoba mendukung kerja jurnalis yang selalu setia pada data, fakta, konteks. Kami terus menyemangati teman-teman untuk terus meningkatkan kapasitas dan adaptif terhadap perubahan media saat ini,” ujar Desy.
Menurut dia, tantangan jurnalis saat ini semakin kompleks. Wartawan tidak lagi cukup hanya memiliki kemampuan menulis, tetapi juga perlu menguasai berbagai format peliputan dan memahami perubahan cara masyarakat memperoleh informasi.
“Sekarang kita sudah tidak bisa menulis saja. Kita harus bisa melakukan reportase langsung, kemudian menghadapi tantangan audience dan bisnis media yang semakin kompleks,” ujarnya.
Desy menegaskan program tersebut tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan karya jurnalistik, tetapi juga untuk memperkuat lingkungan informasi yang profesional dan dapat dipercaya di Papua Tengah.
“Ini bukan sekadar program saja. Mudah-mudahan selain meningkatkan kapasitas para jurnalis, juga bisa mendorong dan memperkuat ekosistem informasi yang berkualitas, kredibel dan profesional di Papua Tengah,” katanya.
Ia berharap para jurnalis tetap menjadikan prinsip dasar jurnalistik sebagai pijakan dalam menghasilkan karya.
“Semoga teman-teman terus bersemangat berkarya dan tetap berpegang pada kebenaran, data, fakta dan konteks,” pungkasnya.
Penjurian Pertimbangkan Angle hingga Dampak Karya
Karya peserta dinilai oleh dewan juri yang terdiri atas Vice President Corporate Communication PT Freeport Indonesia Katri Krisnati, Philipus Parera, serta Dimas Ibrahim yang sebelumnya menjadi tutor dalam pelatihan.
Sejumlah aspek menjadi pertimbangan dalam menentukan pemenang, antara lain ketepatan angle, kekuatan judul, tata bahasa, orisinalitas, kedalaman human interest, serta dampak dari karya yang dihasilkan.
Qaris mengapresiasi kualitas tulisan peserta yang dinilai mampu mengangkat dimensi kemanusiaan dari sosok-sosok yang mungkin selama ini jarang mendapat perhatian media.
“Yang membuat kami senang adalah tulisan teman-teman sangat rapi, kuat secara human interest, memiliki originalitas, dan yang paling penting ada kekuatan kemanusiaan dari tokoh yang diceritakan,” katanya.
Menurutnya, cerita-cerita tersebut layak memperoleh ruang lebih luas karena dapat memperkenalkan beragam sisi kehidupan masyarakat Papua kepada publik.
Jurnalis Dituntut Beradaptasi dengan Pola Konsumsi Berita
Selain pengumuman pemenang, malam inaugurasi juga membahas tantangan jurnalisme di tengah perkembangan teknologi dan perubahan perilaku pembaca.
CEO Tempo Digital sekaligus Ketua Umum AMSI Wahyu Dhyatmika mendorong wartawan mengikuti perubahan pola konsumsi informasi masyarakat, terutama di tengah semakin dominannya media sosial.
Dalam paparannya, Wahyu mengutip data riset MDF dan MDIF yang menunjukkan kelompok usia di bawah 25 tahun cenderung tidak secara aktif mencari berita. Mereka lebih sering menemukan informasi ketika berselancar di media sosial.
Menurut data yang disampaikan Wahyu, sekitar 15 persen responden rutin mengikuti berita, 14 persen mengakses berita melalui situs web, sedangkan sekitar 40 persen memperoleh berita melalui media sosial.
Perubahan tersebut juga berdampak pada lalu lintas situs media. Wahyu menyebut trafik menuju situs Tempo turun hingga 40 persen dalam dua tahun terakhir, salah satunya dipengaruhi perubahan Google yang semakin banyak menampilkan ringkasan informasi langsung pada halaman pencarian.
Kondisi tersebut, menurut Wahyu, menjadi tantangan sekaligus peluang bagi media dan jurnalis untuk beradaptasi.
Jurnalis tidak lagi cukup hanya menjelaskan apa yang terjadi, tetapi perlu menerangkan mengapa sebuah peristiwa terjadi dan memberikan konteks yang membantu masyarakat memahami persoalan secara lebih utuh.
Storytelling Tetap Menjadi Fondasi Jurnalisme
Di tengah perubahan platform distribusi informasi, Wahyu menilai kemampuan storytelling tetap menjadi fondasi penting dalam menghasilkan karya jurnalistik yang kuat.
“Jurnalis menjadi bagian penting dalam keseharian publik karena mempunyai kemampuan dan akses untuk bercerita. Manusia hidup dari cerita, kita mengenal nilai-nilai dan membangun peradaban dari cerita,” kata Wahyu mengutip isi buku Homo Sapiens karya Yuval Noah Harari.
Menurut Wahyu, perkembangan media sosial juga membuat posisi jurnalis berubah. Wartawan tidak lagi hanya bekerja di balik layar, tetapi perlu beradaptasi dengan berbagai format komunikasi, termasuk tampil di depan kamera dan menggunakan platform media sosial untuk menjangkau audiens.
Ia juga menilai sejumlah anggapan mengenai generasi muda dan industri berita perlu dilihat kembali, termasuk pandangan bahwa anak muda tidak menyukai berita, tidak bersedia membayar berita, ataupun kreator konten selalu menjadi pesaing jurnalis.
Perubahan perilaku audiens justru dinilai dapat membuka ruang baru bagi media dan wartawan, termasuk melalui kolaborasi dengan kreator konten tanpa meninggalkan standar jurnalistik.
Melalui fellowship PTFI dan Tempo Institute, enam jurnalis dari Timika dan Nabire kini mendapat kesempatan melanjutkan peliputan untuk menemukan lebih banyak cerita masyarakat Papua. Program tersebut sekaligus menjadi upaya meningkatkan kapasitas wartawan agar mampu menghasilkan jurnalistik yang akurat, kontekstual, kuat secara naratif, dan relevan dengan perubahan ekosistem media digital.

















