Radiografer Dituntut Adaptif terhadap AI
Di tengah perkembangan teknologi kesehatan, Beni mengingatkan lulusan untuk terus beradaptasi, terutama dengan semakin luasnya penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam bidang radiologi.
Menurut dia, teknologi berbasis AI berkembang cepat dalam pengolahan citra atau imaging yang menjadi bagian penting dari pekerjaan radiologi.
“Pesan saya itu mahasiswa ini setelah lulus harus adaptif, harus segera beradaptasi dengan teknologi. Karena ketika tidak bisa beradaptasi, maka nanti kita akan tertinggal,” ujar Beni.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
ATRO, kata dia, telah memperkenalkan perkembangan teknologi tersebut kepada mahasiswa meskipun belum memasukkannya sebagai kurikulum khusus.
Mahasiswa juga memperoleh pengalaman berinteraksi dengan teknologi radiologi terkini ketika mengikuti praktik kerja lapangan di rumah sakit.
“Ketika mereka berkegiatan PKL lapangan, mereka sudah bersentuhan langsung dengan teknologi-teknologi yang digunakan terkini di rumah sakit,” katanya.
Selain kemampuan teknologi, kampus menekankan pentingnya aspek humanisme dalam profesi radiografer. Menurut Beni, kemampuan berinteraksi dengan pasien merupakan bagian yang tidak bisa sepenuhnya digantikan teknologi.
“Maka di kami yang kami tekankan adalah terkait peran dari seorang radiographer dari sisi sentuhan humanismenya. Karena itu hal yang tidak bisa tergantikan,” ujarnya.
Ia menilai penguasaan teknologi tanpa kemampuan soft skill belum cukup membentuk tenaga radiologi yang profesional.
“Kalau semata-mata mereka hanya paham teknologi, di sisi soft skill-nya tidak terasah, maka profesionalisme kami nanti tidak akan menjadi karakter mereka ketika mereka lulus,” katanya.
Tiga Wisudawan Raih Predikat Terbaik
Pada Wisuda Angkatan ke-27 tersebut, ATRO Yogyakarta juga memberikan penghargaan kepada tiga mahasiswa dengan capaian akademik terbaik.
Berdasarkan laporan pendidikan yang disampaikan Linda Armitasari, peringkat pertama diraih Reza Aurellia Yustisia dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,88.
Peringkat kedua diraih Nabila Faeza dengan IPK 3,85, sedangkan peringkat ketiga diraih Septiani Kumala Dewi dengan IPK 3,85.
Reza mengatakan salah satu tantangan selama menyelesaikan kuliah adalah menjaga konsistensi belajar, terutama ketika menghadapi mata kuliah yang dianggap sulit.
“Melawan rasa malas. Terus kalau ada matkul-matkul yang sulit, beberapa yang sulit, berarti kan belajarnya harus lebih ekstra lagi,” katanya.
Setelah lulus, Reza berencana langsung memasuki dunia kerja sebagai radiografer.
Baca halaman selanjutnya tentang ATRO Proses Izin Program D4 Sarjana Terapan




















