Highlight Berita ATRO Yogyakarta Cetak 52 Radiografer Baru, 100 Persen Lulus Ukomnas dan Siap Masuk Dunia Kerja:
Headline.co.id, Yogyakarta ~ Akademi Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi (ATRO) Yogyakarta atau ATRO Citra Bangsa mewisuda 52 mahasiswa dalam Wisuda Angkatan ke-27 di Ayodya Ballroom Hotel Indoluxe Yogyakarta, Sabtu, 22 Agustus 2026. Seluruh wisudawan pada angkatan tersebut tercatat berhasil lulus Ujian Kompetensi Nasional (Ukomnas), capaian 100 persen yang untuk pertama kalinya diraih ATRO Yogyakarta. Capaian itu menjadi salah satu indikator kesiapan lulusan memasuki dunia kerja sebagai radiografer di tengah perkembangan teknologi radiologi yang semakin pesat. Tingginya kebutuhan tenaga radiografer juga terlihat dari adanya sejumlah rumah sakit yang telah lebih dahulu menyampaikan permintaan kepada ATRO Yogyakarta agar lulusan kampus tersebut dapat bekerja di fasilitas kesehatan mereka.
Wisuda Angkatan ke-27 ATRO Yogyakarta juga dihadiri sejumlah tamu undangan dari unsur pemerintah, organisasi profesi, yayasan, rumah sakit mitra, dan akademisi. Mereka di antaranya Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah V Daerah Istimewa Yogyakarta Prof. Setya Budi Indartono, M.M., Ph.D.; perwakilan Kepala Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta M. Agus Priyanto, S.K.M., M.Kes. selaku Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan; Ketua Asosiasi Institusi Pendidikan Radiografer Indonesia (AIPRI) Dr. Fatimah, S.ST. M.Kes.; Ketua Yayasan Citra Bangsa Pratama Yogyakarta Prof. dr. H. Arif Faisal, Sp.Rad. DHSM; serta Ketua Pengurus Daerah Perhimpunan Radiografer Indonesia (PARI) Daerah Istimewa Yogyakarta Suhariyadi Atmanta, S.ST.
Selain itu, wisuda turut dihadiri Ketua Pengurus Cabang PARI Sleman, clinical instructor dari rumah sakit yang menjadi lahan praktik mahasiswa ATRO Yogyakarta, serta dosen tetap dan dosen praktik. Kehadiran unsur pemerintah, organisasi profesi, yayasan, dan rumah sakit mitra tersebut turut memperkuat keterkaitan pendidikan ATRO Yogyakarta dengan kebutuhan kompetensi dan dunia kerja radiografer.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Direktur ATRO Yogyakarta Dr. Beni Agus Sulistyo, A.M.R., S.K.M., M.M. mengatakan, keberhasilan seluruh lulusan melewati Ukomnas menjadi capaian penting bagi institusinya. Sebab, setelah menyelesaikan proses pendidikan di kampus, mahasiswa bidang kesehatan masih harus menjalani pengujian kompetensi secara nasional.
“Di tahun ini alhamdulillah kita 100 persen mahasiswa kita setelah selesai menyelesaikan pendidikan di kampus, diuji kompetensinya, 100 persen mereka lulus,” kata Beni saat diwawancarai Headline.co.id.
Menurut Beni, kelulusan penuh Ukomnas menunjukkan kompetensi mahasiswa telah memenuhi standar yang dibutuhkan untuk memasuki dunia kerja.
“Bagi saya ini indikator bahwa anak-anak kita ini sudah sesuai dengan standar kompetensi yang diharapkan, jadi ketika lulus mereka siap bekerja dan terampil sesuai dengan kompetensi dasar minimal yang distandarkan oleh Kementerian Kesehatan,” ujarnya.
Praktik Lapangan Jadi Bekal Lulusan ATRO
ATRO Yogyakarta menempatkan praktik sebagai bagian penting dalam proses pembelajaran mahasiswa. Beni mengatakan sekitar 60 persen pembelajaran diarahkan pada kegiatan praktik sesuai ketentuan pendidikan di bidang kesehatan.
Pendekatan tersebut ditujukan agar mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga terampil mengoperasikan peralatan radiologi yang digunakan di fasilitas pelayanan kesehatan.
“Jadi penciri khas kami memang ketika kami lulus, anak-anak ini terampil menggunakan alat. Karena salah satu penciri di kami juga ada manajemen alat,” kata Beni.
Ia mengatakan keterampilan mengoperasikan perangkat menjadi salah satu kekuatan lulusan ATRO ketika memasuki lingkungan rumah sakit.
“Ketika penggunaan alat mereka terampil, kompetensi mereka juga terampil. Di beberapa rumah sakit atau ketika sudah lulus kami mengambil sampel, yang cukup membedakan anak kami itu terampil dalam penggunaan alat,” ujarnya.
Dalam laporan pendidikan saat wisuda, Wakil Direktur I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ATRO Yogyakarta Linda Armitasari, S.Si., M.Sc. menjelaskan proses pendidikan berlangsung selama enam semester dengan pembelajaran teori, praktik laboratorium, hingga praktik lapangan.
ATRO Yogyakarta juga memiliki kerja sama dengan 10 rumah sakit di Daerah Istimewa Yogyakarta dan 11 rumah sakit di Jawa Tengah untuk mendukung proses pembelajaran lapangan mahasiswa.
Salah satu wisudawan terbaik, Reza Aurellia Yustisia, A.Md.Kes.(Rad), mengaku pengalaman praktik membantunya memahami penerapan materi yang diperoleh selama perkuliahan.
“Menyenangkan, jadi lebih tahu gimana pengaplikasian dari teori yang sudah didapatkan di kampus, dan lebih macam-macam lagi untuk menangani pasien-pasien yang kooperatif,” kata Reza kepada Headline.co.id.
Mahasiswa asal Gunungkidul tersebut menjalani praktik di sejumlah fasilitas kesehatan, yakni RSUD Muntilan, RSUD Panembahan Senopati Bantul, RSA UGM, dan RSUD Kota Yogyakarta.
Reza juga menilai lingkungan pembelajaran di ATRO memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mendalami materi perkuliahan.
“Menyenangkan selama di ATRO. Dosen-dosennya terampil, terus komunikatif juga untuk mengajak mahasiswanya lebih mendalam lagi untuk mengetahui perkuliahan tersebut,” ujarnya.
Lebih dari 90 Persen Alumni Terserap Dunia Kerja dengan Cepat
Selain capaian Ukomnas, tingkat penyerapan alumni menjadi perhatian ATRO Yogyakarta. Berdasarkan tracer study kampus, Beni menyebut rata-rata lulusan memperoleh pekerjaan dalam waktu kurang dari tiga bulan setelah menyelesaikan pendidikan.
Menurut dia, tingkat penyerapan lulusan ATRO berada di atas 90 persen.
“Berdasarkan serapan seperti itu, maka peluangnya boleh dibilang di atas 90 persen. Memang sangat besar,” katanya.
Beni mengungkapkan kebutuhan terhadap tenaga radiografer tidak hanya tercermin dari tingginya angka penyerapan alumni. Sejumlah rumah sakit bahkan telah menyampaikan permintaan atau semacam “inden” kepada pihak kampus untuk mendapatkan lulusan ATRO Yogyakarta yang dapat direkrut menjadi radiografer.
Beni mengatakan kebutuhan radiografer dari fasilitas pelayanan kesehatan masih cukup tinggi. Bahkan dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah rumah sakit telah menghubungi pihak kampus untuk meminta rekomendasi lulusan yang dapat direkrut.
“Seringkali kami juga dimintakan untuk mencarikan lulusan-lulusan karena kebutuhan di rumah sakit itu masih cukup banyak. Mungkin dalam beberapa bulan terakhir ini juga sudah ada lima sampai enam rumah sakit yang meminta lulusan kami untuk dipekerjakan di rumah sakit tersebut,” ujarnya.
Menurut Beni, kondisi tersebut menunjukkan peluang kerja lulusan radiologi masih terbuka cukup besar. Permintaan dari sekitar lima hingga enam rumah sakit dalam beberapa bulan terakhir juga memperlihatkan bahwa sejumlah fasilitas kesehatan secara aktif mencari tenaga radiografer dan tidak hanya menunggu lulusan mengajukan lamaran pekerjaan.
“Seringkali kami juga dimintakan untuk mencarikan lulusan-lulusan seperti itu karena kebutuhan di rumah sakit itu masih cukup banyak,” kata Beni.
Dengan adanya permintaan langsung tersebut, lulusan ATRO Yogyakarta memiliki peluang untuk lebih cepat terhubung dengan kebutuhan tenaga kerja di rumah sakit. Jejaring kampus dengan fasilitas kesehatan dan alumni turut dimanfaatkan untuk mempertemukan kebutuhan rumah sakit dengan lulusan yang telah memiliki kompetensi sebagai radiografer.
Jaringan alumni turut menjadi salah satu kekuatan yang dimanfaatkan kampus untuk memperluas akses lulusan terhadap dunia kerja.
Dalam laporan pendidikan yang disampaikan pada wisuda disebutkan, jumlah alumni ATRO Yogyakarta hingga saat ini mencapai 1.667 orang yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Beni mengatakan keberadaan alumni di berbagai daerah membantu membangun jejaring bagi mahasiswa maupun lulusan baru.
“Kekuatan alumni kami cukup baik. Hampir semua provinsi pasti ada lulusan kami,” katanya.
Sementara itu, mahasiswa yang mengikuti wisuda tahun ini berasal dari beragam daerah, mulai dari Yogyakarta, Sumatera, Madura hingga wilayah Indonesia bagian timur.
Baca halaman selanjutnya tentang Radiografer Dituntut Adaptif terhadap AI


















