by

Mahfud MD: Pancasila Sebagai Ideologi Negara Tidak Dapat Digantikan

HeadLine.co.id, (Solo) – Stasiun Solo Balapan dipilih sebagai tempat diselenggarakannya Dialog Kebangsaan seri VI yang digagas oleh Gerakan Suluh Kebangsaan yang bekerjasama dengan PT KAI (Persero) pada Rabu pagi (10/2). Sebelumnya kegiatan ini telah suskses diselenggarakan di beberapa stasiun lainnya yakni Stasiun Merak, Stasiun Gambir, Stasiun Cirebon, Stasiun Purwokerto dan Stasiun Yogyakarta.

Dialog dengan tema “Merawat Harmoni dan Persatuan” dihadiri oleh beberapa narasumber yakni Ganjar Pranowo, Romo Kardinal, Alissa Wahid, F.X Hadi Rudiyatmo, Muhammad Tafsir serta KH. Dian Nafi.

Direktur Operasi PT KAI (Persero), Slamet Suseno berkesempatan menyampaikan sambutannya. Ia mengucapkan terima kasih kepada masyarakat yang telah berpartisipasi dalam dialog kebangsaan ini. “Acara ini merupakan wadah yang tepat dalam menggabungkan rasa persatuan dan kesatuan dari seluruh lapisan masyarakat,” ucapnya. Acara ini merupakan bukti bahwa PT KAI (Persero) berperan aktif dalam menjaga persatuan dan kesatuan NKRI. “Semoga dialog ini dapat menjadikan bangsa yang lebih kuat dan besar serta Bhinneka tinggal Ika,” Tambah Slamet.

Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo mengapresiasi kegiatan ini karena dianggap sebagai langkah yang tepat dengan bertemu dan berdialog langsung dengan masyarakat. “Mari bersama-sama menjaga situasi Jawa Tengah yang adem ini supaya dapat menjadi contoh,” tuturnya.

Prof. Dr. Mahfud MD selaku ketua Gerakan Suluh Kebangsaan (GSK) mengucapkan terima kasih kepada PT KAI (Persero) karena mau bekerjasama dan memberikan fasilitas yang menunjang keberlangsungan acara ini. “Kami berkeliling dan mengundang tokoh-tokoh masyarakat untuk berdiskusi, nanti hasil diskusi diharapkan dapat disampaikan kepada masyarakat lainnya,” ujarnya. Ia juga menjelaskan bahwa Pancasila sebagai ideologi negara tidak akan tergantikan. “Mari kita bekerja sama membangun negeri ini dengan berlandaskan Pancasila demi kemajuan bangsa,” tambahnya.

Para Pembicara memberikan paparan tentang Merawat Harmoni dan Persatuan. (Foto: TomoSu)

Moderator dalam dialog kali ini adalah Rikard Bagun. “Kita butuh suluh, kita butuh lilin, kita butuh karena Indonesia memang terang tapi kurang benderang,” ucapnya mengawali diskusi.

Menanggapi tema dialog ini, Romo Kardinal sebagai narasumber pertama membacakan salah satu puisi karya Yos Sudarso. Ia menambahkan untuk merawat Indonesia dibutuhkan semangat namun terkadang semangat itu kurang dimiliki. “Saya sendiri merasa wajib ikut serta mendukung gerakan ini sebagai wujud kecintaan saya terhadap Indonesia. Mari kita kawal Indonesia dengan membangkitkan rasa kewajiban yang sumbernya dari cinta tanah air seperti pahlawan Pattimura,” ungkapnya.

Muhammad Tafsir sebagai salah satu narasumber menjelaskan dari awal Muhammadiyah dibangun untuk memajukan bangsa dan umat. “Muhammadiyah ada untuk Indonesia dan Indonesia ada karena semua komitmen kita. Kami menyambut baik kegiatan ini dan komitmen itu harus terus berlanjut,” tambahnya.

Senada dengan Muhammad Tafsir, KH Dian Nafi pun menegaskan bahwa untuk merawat harmoni dan persatuan ada beberapa arus yang harus diperhatikan dan dilancarkan. “Pertama arus manusia, arus barang untuk memenuhi kebutuhan pokok sehingga dapat menjadikan Indonesia lebih Jaya. Arus uang, harus berputar di semua lini dan arus informasi karena didalamnya ada gagasan yang mencerahkan,” tegasnya.

Direktur Operasi Slamet Suseno Memberikan Sambutan kepada para tamu Dialog Kebangsaan Seri VI di Stasiun Solo Balapan (Foto: TomoSu)

Walikota Solo, F.X Rudyatmo mengatakan bahwa kegiatan Dialog Kebangsaan yang dilaksanakan dengan rute Merak-Banyuwangi memiliki arti. “Merak-Banyuwangi adalah melayani rakyat, membangun negeri karena dialog ini diadakan untuk melayani rakyat,” ucapnya. Tidak lupa ia juga mengajak para hadirin untuk melayani negara dengan segenap kemampuan masyarakat.

Menurut Alissa Wahid untuk merawat harmoni dan persatuan dibutuhkan pemimpin yang berpegang teguh pada prinsipnya dalam memimpin. “Kita butuh pemimpin yang mau meninggalkan kebencian, permusuhan dan mau menatap Indonesia Emas tahun 2044,” tegasnya. Ia juga mengatakan masyarakat harus berani menuntut pemimpin untuk bekerja dengan strategi dan gerakan karena transformasi sosial sudah berada di Titik krisis.

Ganjar Pranowo pun mengamini pendapat tersebut. Ia mengatakan bahwa sentimen di tengah masyarakat beberapa diantaranya dapat merusak tatanan sosial. “Kita harus bergerak dan menunjukkan harmoni, mari kita tulus dan jujur serta menunjukkannya melalui perbuatan kita,” tutupnya.

Dialog Kebangsaan Seri VI berakhir sekitar pukul 10.20 WIB dan rombongan langsung melanjutkan perjalanan ke Jombang hingga tujuan akhir yakni Banyuwangi.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed